Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi ini, dengan kurs berada di level Rp17.853 per dolar AS. Di tengah pelemahan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan mendorong rupiah menguat kembali hingga ke level Rp15.000.
Namun, sejumlah ekonom dan analis menilai target itu sangat berat dicapai dalam waktu dekat. Mereka menyoroti tekanan fundamental, sentimen investor asing, serta kebutuhan dolar yang masih tinggi di dalam negeri.
Rupiah Masih Tertekan
Rupiah tercatat melemah 0,04 persen terhadap dolar AS dan bergerak di kisaran Rp17.853 pada pagi hari. Meski sempat berada di level Rp17.698, tekanan jual terhadap mata uang Garuda belum mereda. Kondisi ini menunjukkan pasar masih menempatkan dolar sebagai aset yang lebih aman. Pelemahan tersebut juga mencerminkan besarnya ketidakpastian yang masih membayangi pasar keuangan domestik.
Purbaya menyampaikan optimisme bahwa rupiah dapat kembali menguat ke level Rp15.000. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Jogja Financial Festival 2026 pada Jumat, 22 Mei 2026. Ia menyebut pemerintah akan terus mendorong stabilitas ekonomi agar kurs rupiah membaik. Meski begitu, target tersebut langsung memunculkan skeptisisme dari pelaku pasar dan pengamat.
Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menilai penguatan rupiah ke level tersebut hampir mustahil. Menurut dia, sejak 2008 rupiah yang sudah terdepresiasi cenderung sulit kembali ke level lama secara signifikan. Ia menilai pelemahan saat ini justru masih berpotensi berlanjut. Bahkan, ia membuka kemungkinan rupiah menembus level di atas Rp18.000 per dolar AS.
Bhima menilai pasar kini lebih banyak merespons sentimen negatif daripada kabar positif. Investor asing disebut masih mencermati arah kebijakan pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya memberi kepastian. Dalam situasi seperti ini, rupiah dinilai rentan bergerak ke level yang lebih lemah. Tekanan itu, menurut dia, membuat ruang penguatan jangka pendek menjadi sangat terbatas.
Sentimen Investor Memburuk
Bhima menyebut salah satu sumber kekhawatiran investor adalah rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI. Kebijakan tersebut dinilai belum memberi gambaran jelas tentang efektivitas dan dampaknya terhadap arus devisa. Di saat yang sama, pasar juga menunggu kejelasan implementasi berbagai aturan baru. Ketidakpastian inilah yang membuat sebagian investor cenderung bersikap hati-hati.
Ia juga menyoroti kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam atau DHE SDA sebesar 100 persen di bank BUMN. Menurut dia, kebijakan itu belum tentu menyelesaikan persoalan devisa negara secara menyeluruh. Sebaliknya, kebijakan tersebut bisa memicu perpindahan dana ke instrumen yang lebih aman bagi investor. Akibatnya, permintaan dolar di dalam negeri justru berpotensi meningkat.
Bhima mengatakan pelaku pasar kini banyak berjaga-jaga dengan menjual rupiah dan masuk ke deposito valas. Pergeseran itu menunjukkan kehati-hatian yang tinggi terhadap prospek mata uang domestik. Kondisi tersebut mendorong permintaan dolar dari pelaku usaha maupun rumah tangga. Dalam jangka pendek, tekanan ini semakin mempersempit peluang penguatan rupiah.
Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan sekadar mekanisme penahanan DHE atau pembentukan badan ekspor nasional. Menurut dia, masalah yang lebih besar adalah hilangnya kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan. Selama sentimen itu belum membaik, rupiah akan tetap berada di bawah tekanan. Karena itu, target Rp15.000 dinilai tidak realistis dalam waktu dekat.
Tekanan Devisa Menguat
Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi juga menilai target rupiah kembali ke Rp15.000 sulit terwujud. Ia menyebut sasaran itu lebih menyerupai harapan ketimbang proyeksi yang didukung kondisi pasar. Menurut dia, dinamika geopolitik dan ekonomi domestik saat ini masih terlalu berat. Situasi itu membuat rupiah berisiko terus berada dalam tren pelemahan.
Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi menembus Rp18.000 per dolar AS pada pekan depan. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia belum cukup kuat untuk menahan tekanan eksternal. Salah satu masalah yang disorot adalah defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi. Ketergantungan itu membuat kebutuhan terhadap dolar tetap tinggi.
Ia menjelaskan, asumsi harga minyak dalam APBN berada di kisaran US$70 per barel dengan kurs Rp16.500. Namun, saat ini rupiah sudah mendekati Rp17.900, sementara harga minyak mentah berada di atas US$90 per barel. Situasi itu membuat pemerintah harus mengeluarkan lebih banyak dolar untuk kebutuhan impor. Beban fiskal pun ikut meningkat, terutama karena sebagian besar impor minyak mentah berkaitan dengan subsidi.
Menurut Ibrahim, tekanan kurs juga datang dari kebutuhan dividen perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Saat perusahaan-perusahaan itu membagikan keuntungan kepada pemegang saham, permintaan dolar di pasar domestik ikut naik. Di sisi lain, arus dana dari aset emas ke dolar juga terjadi karena investor mencari momentum jangka pendek. Kombinasi faktor tersebut membuat rupiah semakin rentan.
Pasar Mencari Arah Baru
Ibrahim menyebut harga emas dunia masih berfluktuasi di tengah ketidakpastian global yang tinggi. Dalam situasi seperti ini, sebagian investor memilih berpindah dari emas ke dolar karena dianggap memberi peluang keuntungan lebih cepat. Pergeseran tersebut menambah tekanan bagi mata uang Garuda. Dolar pun semakin menguat di hadapan rupiah.
Ia menilai momentum penguatan indeks dolar saat ini lebih menarik dibandingkan logam mulia. Karena itu, dana yang sebelumnya ditempatkan di emas digital maupun emas fisik mulai dialihkan. Perpindahan aset ini memperlihatkan respons pasar terhadap risiko yang meningkat. Dampaknya, pelemahan rupiah menjadi lebih sulit diredam.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah terbaru terkait ekspor satu pintu melalui DSI juga ikut memengaruhi persepsi pasar. Investor asing disebut membutuhkan kepastian regulasi sebelum kembali menempatkan dana dalam jumlah besar. Ketika kepastian itu belum terbentuk, sebagian investor memilih masuk ke negara lain. Arus keluar modal seperti ini menambah tekanan pada rupiah.
Dengan berbagai tekanan yang masih berlangsung, pasar kini menantikan langkah pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas. Pengamat menilai pemulihan rupiah membutuhkan perbaikan fundamental, bukan hanya target kurs yang ambisius. Tanpa perbaikan pada sisi fiskal, ekspor, dan kepercayaan investor, penguatan signifikan akan sulit tercapai. Dalam kondisi saat ini, rupiah masih berada pada fase rapuh.
