Rupiah Tertekan, Dolar AS dan SGD Sentuh Rekor Tertinggi

Forex & Saham Gilang Nabaris 30 Mei 2026 09:02 WIB 2
Rupiah Tertekan, Dolar AS dan SGD Sentuh Rekor Tertinggi

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan berat terhadap sejumlah mata uang asing, terutama dolar Amerika Serikat dan dolar Singapura, pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. Berdasarkan data pasar, rupiah sempat mencatat level terlemah sebelum memangkas koreksi menjelang penutupan, meski sentimen terhadap mata uang domestik masih rapuh.

Tekanan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran atas kondisi struktural ekonomi nasional, termasuk ketergantungan impor energi yang masih tinggi. Pengamat menilai rupiah berisiko melanjutkan pelemahan, bahkan membuka peluang menuju area Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

Rupiah Masih Dalam Tekanan

Data Bloomberg menunjukkan dolar AS sempat menyentuh Rp17.905 menjelang penutupan perdagangan. Meski begitu, rupiah berhasil memangkas sebagian pelemahannya di akhir sesi. Pada penutupan perdagangan, dolar AS masih menguat 0,20 persen ke level Rp17.880,5.

Pergerakan itu menandai tekanan lanjutan pada rupiah sepanjang tahun berjalan. Secara year to date, rupiah tercatat melemah 7,20 persen terhadap dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen negatif belum sepenuhnya mereda di pasar valuta asing.

Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari dolar AS. Mata uang domestik juga menghadapi penguatan dari dolar Singapura. Hal itu membuat ruang pemulihan rupiah menjadi semakin terbatas.

Secara umum, pelemahan rupiah mencerminkan kombinasi faktor eksternal dan internal. Pelaku pasar cenderung berhati-hati menghadapi gejolak kurs global yang belum stabil. Dalam situasi seperti ini, rupiah rentan bergerak lebih volatil dari biasanya.

Dolar Singapura Ikut Menguat

Berdasarkan data TradingView, dolar Singapura sempat melesat hingga Rp14.014,69 terhadap rupiah. Pada penutupan perdagangan, rupiah sedikit membaik dan berada di level Rp13.995 per dolar Singapura. Meski demikian, pelemahan harian tetap terasa di pasar.

Sepanjang perdagangan hari itu, dolar Singapura tercatat menguat 0,17 persen terhadap rupiah. Penguatan tersebut memperpanjang tekanan yang sudah terjadi sejak awal tahun. Dalam catatan year to date, dolar Singapura menguat 7,79 persen terhadap rupiah.

Penguatan mata uang Singapura menambah beban pada aset berdenominasi rupiah. Kondisi ini juga bisa memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas kurs domestik. Jika berlanjut, tekanan ini berpotensi merembet ke pasar keuangan lainnya.

Rupiah yang tertekan terhadap dua mata uang besar sekaligus menunjukkan lemahnya daya tahan saat menghadapi sentimen global. Pasar cenderung merespons cepat terhadap risiko eksternal dan ekspektasi suku bunga. Akibatnya, rupiah bergerak lebih mudah terseret arus penguatan dolar.

Faktor Struktural Ekonomi

Pelemahan rupiah disebut tidak semata-mata dipicu dinamika jangka pendek di pasar. Salah satu penyebab utamanya adalah persoalan struktural dalam perekonomian nasional. Defisit neraca transaksi berjalan masih menjadi tantangan yang membayangi stabilitas kurs.

Kondisi tersebut diperburuk oleh ketergantungan Indonesia pada impor energi, terutama minyak mentah. Saat harga dan kebutuhan impor meningkat, permintaan terhadap valuta asing ikut naik. Tekanan itu pada akhirnya berdampak langsung pada rupiah.

Dalam kerangka yang lebih luas, ketidakseimbangan eksternal membuat rupiah lebih sensitif terhadap guncangan. Kelemahan fundamental seperti ini kerap memicu aksi wait and see dari investor. Pasar pun menjadi lebih mudah bereaksi terhadap kabar negatif.

Selama faktor struktural belum membaik, rupiah akan tetap menghadapi risiko pelemahan lanjutan. Upaya stabilisasi memerlukan dukungan kebijakan yang konsisten dan disiplin fiskal. Tanpa itu, ruang penguatan rupiah cenderung terbatas.

Prospek Rupiah Pekan Depan

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai rupiah masih berpotensi melemah terhadap dolar AS. Ia menyebut area Rp18.000 sudah berada di depan mata jika tekanan pasar berlanjut. Bahkan, ia tidak menutup kemungkinan rupiah menuju Rp18.200 pada pekan depan.

Menurut Ibrahim, level Rp18.000 merupakan batas psikologis yang sangat penting bagi pasar. Jika level tersebut tembus, tekanan jual berpeluang meningkat. Dalam skenario itu, pelaku pasar kemungkinan akan semakin berhati-hati.

Proyeksi tersebut memperlihatkan bahwa sentimen terhadap rupiah masih rentan. Arus modal, kondisi eksternal, dan isu fundamental ekonomi akan tetap menjadi penentu utama. Pasar membutuhkan sinyal positif agar rupiah bisa memperoleh ruang pemulihan.

Dengan tekanan yang masih kuat, arah rupiah pada perdagangan berikutnya akan sangat bergantung pada respons pasar global. Investor akan mencermati data ekonomi, kebijakan moneter, dan perkembangan impor energi. Selama faktor-faktor itu belum membaik, rupiah tetap berada dalam fase rawan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!