Rupiah Tertekan, Analis Waspadai Level Rp18.000

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 02 Juni 2026 13:26 WIB 3
Rupiah Tertekan, Analis Waspadai Level Rp18.000

Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan hingga awal pekan depan, dengan risiko menembus level Rp18.000 per dolar AS. Sejumlah analis menilai pelemahan itu bukan sekadar persoalan kurs, tetapi juga berpotensi memicu efek domino ke harga barang, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, jika level tersebut ditembus, rupiah berisiko bergerak lebih jauh ke kisaran Rp18.200. Sementara itu, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menilai transmisi pelemahan rupiah ke harga barang di tingkat konsumen akan berlangsung lebih cepat jika tekanan kurs terus berlanjut.

Rupiah Masih Dalam Tekanan

Ibrahim Assuaibi menilai rupiah belum menunjukkan tanda penguatan yang meyakinkan dalam waktu dekat. Menurutnya, tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut sejak perdagangan sebelumnya. Ia menyebut level Rp18.000 sudah berada sangat dekat dan berpotensi ditembus. Jika skenario itu terjadi, ruang pelemahan lanjutan masih terbuka.

Ibrahim menekankan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada pergerakan kurs harian. Kondisi tersebut juga memengaruhi psikologi pasar, baik investor domestik maupun asing. Ketika pelaku pasar melihat peluang dolar AS terus menguat, sebagian dari mereka cenderung menjaga aset dalam mata uang yang dianggap lebih aman. Situasi ini dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah.

Meski dolar AS sempat melemah di pasar global, hal itu belum cukup mendorong penguatan rupiah. Ibrahim menilai respons rupiah masih tertinggal dibandingkan pergerakan mata uang lainnya. Hal ini membuat pasar tetap waspada terhadap potensi pelemahan lanjutan. Dalam kondisi seperti ini, sentimen negatif mudah terbentuk dan bertahan lebih lama.

Menurutnya, tekanan kurs juga dapat mendorong masyarakat mengalihkan simpanan ke valuta asing. Perubahan perilaku tersebut biasanya muncul saat publik menilai risiko pelemahan rupiah masih tinggi. Aliran dana ke dolar AS kemudian dapat menambah tekanan di pasar valas. Dalam jangka pendek, fenomena itu membuat stabilitas rupiah semakin rentan.

Harga Impor Ikut Tertekan

Pelemahan rupiah berpotensi langsung mengerek harga barang impor di dalam negeri. Dampaknya tidak hanya terasa pada produk jadi, tetapi juga bahan baku yang digunakan industri. Ketika biaya pembelian dalam dolar meningkat, pelaku usaha harus menanggung beban tambahan. Beban itu kemudian bisa diteruskan ke harga jual.

Ibrahim mencontohkan komoditas kedelai yang sebagian besar masih diimpor Indonesia. Jika rupiah terus melemah, harga kedelai di pasar domestik hampir pasti ikut terkerek. Kenaikan itu juga berpotensi menjalar ke produk olahan berbahan kedelai. Akibatnya, tekanan harga dapat dirasakan konsumen secara lebih luas.

Situasi serupa juga berpotensi terjadi pada barang konsumsi lain yang bergantung pada impor. Produk elektronik, bahan pangan tertentu, hingga barang industri dapat mengalami kenaikan harga. Dalam kondisi seperti ini, pelaku usaha biasanya sulit menahan biaya produksi terlalu lama. Pada akhirnya, penyesuaian harga menjadi langkah yang hampir tidak terhindarkan.

Ibrahim menilai masyarakat akan semakin merasakan kenaikan harga secara bertahap. Ketika biaya produksi dan distribusi naik, harga barang di pasar ikut bergerak lebih tinggi. Kondisi ini kemudian memicu keluhan konsumen, terutama pada kelompok berpendapatan tetap. Tekanan biaya hidup pun menjadi lebih nyata di tengah pelemahan rupiah.

Daya Beli Masyarakat Melemah

Bhima Yudhistira menyebut pelemahan rupiah dapat mempercepat kenaikan harga di tingkat konsumen. Ia menjelaskan bahwa transmisi dari biaya bahan baku ke harga eceran akan berlangsung lebih cepat. Jika tekanan kurs terus berlanjut, pelaku usaha cenderung memperbarui daftar harga lebih cepat dari biasanya. Hal itu membuat konsumen menghadapi kenaikan harga dalam waktu yang lebih singkat.

Menurut Bhima, selama ini kenaikan harga akibat kurs tidak selalu langsung terasa oleh masyarakat. Para pelaku usaha kerap menahan kenaikan agar daya beli tetap terjaga. Namun, ketika pelemahan rupiah berlangsung terlalu dalam, ruang untuk menahan harga menjadi semakin sempit. Pada titik itu, penyesuaian harga akan muncul lebih cepat di pasar.

Bhima menilai kondisi tersebut berpotensi memunculkan imported inflation atau inflasi impor. Harga barang yang bergantung pada komponen luar negeri akan terdorong naik lebih cepat. Beban itu akhirnya memukul kelompok menengah ke bawah yang paling rentan terhadap kenaikan biaya hidup. Tekanan terhadap daya beli pun menjadi semakin besar.

Ia menambahkan, pelemahan daya beli dapat mempengaruhi konsumsi rumah tangga secara keseluruhan. Jika harga barang terus naik sementara pendapatan tidak bertambah, masyarakat akan mengurangi belanja. Kondisi ini berisiko menekan pertumbuhan sektor riil. Dalam jangka panjang, perlambatan konsumsi dapat menjadi masalah yang lebih besar bagi perekonomian.

Risiko Ke Ekonomi Nasional

Bhima menilai rupiah yang terus melemah berpotensi mendorong pelaku usaha melakukan efisiensi. Perusahaan padat karya yang memakai bahan baku impor menjadi kelompok yang paling rentan. Jika biaya produksi membengkak, sebagian perusahaan bisa memangkas biaya operasional. Dalam situasi ekstrem, risiko pemutusan hubungan kerja ikut meningkat.

Menurut Bhima, tekanan terhadap perusahaan dapat berdampak berantai ke pasar tenaga kerja. Ketika efisiensi dilakukan, pendapatan rumah tangga ikut tergerus. Jika itu terjadi secara luas, daya beli masyarakat akan semakin melemah. Kondisi ini dapat memperlambat pemulihan ekonomi nasional.

Ia juga menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat kelas menengah ke atas untuk membeli dolar AS sebagai langkah berjaga-jaga. Perilaku tersebut dapat memperkuat tekanan terhadap rupiah. Saat lebih banyak orang menjual rupiah dan membeli dolar, pelemahan mata uang domestik bisa berlangsung lebih dalam. Efek berantai seperti ini memperburuk ketidakpastian di pasar.

Bhima menilai kelompok yang paling rentan justru berada di lapisan menengah ke bawah. Mereka tidak memiliki ruang cukup untuk melindungi tabungan ketika rupiah tertekan. Jika tekanan kurs berlanjut, angka kemiskinan dan pengangguran berisiko kembali meningkat. Dalam pandangannya, pelemahan rupiah bukan hanya soal nilai tukar, tetapi juga soal ketahanan ekonomi rumah tangga.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!