Rupiah Tertekan, Analis Waspadai Level Rp18.000

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 01 Juni 2026 17:23 WIB 2
Rupiah Tertekan, Analis Waspadai Level Rp18.000

Nilai tukar rupiah diprediksi masih berada dalam tekanan hingga awal pekan depan, dengan risiko menembus level Rp18.000 per dolar AS. Analis komoditas dan mata uang menilai pelemahan ini berpotensi memicu efek domino terhadap pasar, harga barang, hingga daya beli masyarakat.

Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan rupiah masih kuat dan peluang dolar AS menembus Rp18.000 semakin terbuka. Jika level tersebut terlewati, ia memperkirakan rupiah bisa bergerak menuju Rp18.200 dan memicu gejolak lanjutan di pasar keuangan.

Tekanan Rupiah Masih Besar

Ibrahim menyebut pelemahan rupiah belum menunjukkan tanda mereda meski dolar AS sempat melemah. Menurut dia, kondisi pasar saat ini masih membuat rupiah berada di bawah tekanan.

Ia menilai, sentimen negatif terhadap rupiah masih dominan karena pelaku pasar cenderung berhati-hati. Situasi ini membuat mata uang Garuda sulit menemukan momentum penguatan yang berkelanjutan.

Ketika rupiah berada di level lemah, ekspektasi pasar terhadap pelemahan lanjutan ikut meningkat. Hal itu membuat pelaku usaha dan investor semakin waspada dalam mengambil keputusan.

Dalam pandangannya, tembusnya Rp18.000 akan menjadi titik psikologis penting bagi pasar. Jika level itu jebol, tekanan jual terhadap rupiah berpotensi semakin besar.

Dampak Ke Harga Barang

Bhima Yudhistira dari CELIOS menilai pelemahan rupiah akan berdampak langsung pada harga barang impor. Produk yang bergantung pada bahan baku luar negeri berisiko mengalami kenaikan biaya produksi.

Ia menjelaskan, kenaikan biaya impor tidak hanya berasal dari nilai tukar, tetapi juga dari logistik dan transportasi. Beban tambahan itu pada akhirnya akan diteruskan ke harga jual barang di tingkat konsumen.

Menurut Bhima, efek kenaikan harga biasanya tidak terasa seketika karena ada jeda penyesuaian. Namun, saat rupiah melemah terlalu dalam, pelaku usaha akan lebih cepat mengubah daftar harga.

Situasi tersebut dapat memicu imported inflation atau inflasi yang didorong oleh mahalnya biaya impor. Kondisi ini berisiko menekan daya beli, terutama pada kelompok menengah ke bawah.

Risiko Bagi Industri

Pelemahan rupiah juga dinilai dapat menekan sektor industri padat karya yang bergantung pada bahan baku impor. Ketika biaya produksi naik, perusahaan akan menghadapi tekanan pada margin keuntungan.

Bhima mengatakan sebagian pelaku usaha kemungkinan akan melakukan efisiensi untuk menjaga keberlangsungan bisnis. Dalam kondisi ekstrem, efisiensi itu bisa berujung pada pemutusan hubungan kerja.

Ia menilai risiko ini semakin besar jika pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu lama. Perusahaan akan kesulitan menjaga harga jual tetap kompetitif di tengah biaya produksi yang membengkak.

Dampaknya tidak hanya dirasakan pengusaha, tetapi juga pekerja dan rumah tangga. Ketika pendapatan tertekan dan harga naik, konsumsi masyarakat ikut melemah.

Ancaman Daya Beli Menurun

Bhima menilai masyarakat kelas menengah ke atas cenderung mencari perlindungan dengan membeli dolar AS. Perilaku ini dapat mempercepat pelemahan rupiah karena permintaan terhadap mata uang asing meningkat.

Ia menyebut kondisi tersebut menciptakan spiral penurunan yang semakin menekan nilai tukar rupiah. Semakin banyak pihak beralih ke dolar, semakin besar tekanan terhadap mata uang domestik.

Kelompok yang paling rentan, menurut dia, adalah pekerja dan kelas menengah ke bawah. Mereka berhadapan dengan harga yang naik, sementara ruang tabungan dan perlindungan finansial sangat terbatas.

Jika tekanan rupiah terus berlanjut, angka kemiskinan dan pengangguran berisiko meningkat. Dalam skenario terburuk, pelemahan ke level Rp18.000 dapat memperbesar ketidakpastian ekonomi secara luas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!