Rupiah Menguat ke Rp17.651 usai Keputusan BI Rate

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 28 Mei 2026 18:04 WIB 2
Rupiah Menguat ke Rp17.651 usai Keputusan BI Rate

Nilai tukar rupiah menguat pada pembukaan perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, dan bergerak menjauh dari level terlemahnya terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp17.651 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS.

Penguatan ini terjadi di tengah langkah Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah, meredam dampak gejolak global, dan mengantisipasi tekanan inflasi pada 2026-2027.

Rupiah Menguat di Pembukaan

Rupiah tercatat menguat tipis pada awal perdagangan dan meninggalkan level terlemahnya dalam beberapa waktu terakhir. Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.651 per dolar AS menurut data Bloomberg.

Di sisi lain, dolar AS terhadap rupiah melemah 2 poin atau 0,01 persen. Pergerakan itu menunjukkan adanya respons positif pasar setelah tekanan pada sesi sebelumnya mulai mereda.

Pada perdagangan kemarin, dolar AS sempat menyentuh level Rp17.721. Posisi itu menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah, sehingga penguatan pagi ini memberi sinyal perbaikan, meski masih terbatas.

Pelaku pasar kini mencermati apakah penguatan tersebut dapat berlanjut pada sesi berikutnya. Arah rupiah akan sangat dipengaruhi oleh sentimen global, kebijakan moneter domestik, dan ekspektasi pasar terhadap langkah lanjutan Bank Indonesia.

Keputusan BI Rate Naik

Bank Indonesia menetapkan kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin dalam Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung pada 19-20 Mei 2026. Dengan keputusan itu, suku bunga acuan naik menjadi 5,25 persen.

Selain BI Rate, suku bunga Deposit Facility juga dinaikkan 50 basis poin menjadi 4,25 persen. Adapun suku bunga Lending Facility ikut naik 50 basis poin menjadi 6 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan keputusan itu dalam konferensi pers virtual pada Rabu, 20 Mei 2026. Menurut dia, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Kenaikan suku bunga ini juga menjadi sinyal bahwa otoritas moneter ingin merespons tekanan yang masih tinggi di pasar keuangan. BI menilai penyesuaian kebijakan diperlukan agar nilai tukar tetap berada dalam jalur yang lebih stabil.

Respons Atas Gejolak Global

Perry Warjiyo menjelaskan bahwa kebijakan moneter terbaru ditempuh untuk memperkuat stabilisasi rupiah dari dampak gejolak global. Tekanan tersebut disebut meningkat akibat eskalasi perang di Timur Tengah yang memicu ketidakpastian pasar.

Dalam kondisi seperti itu, nilai tukar rupiah cenderung rentan terhadap arus modal keluar dan penguatan dolar AS. Karena itu, pengetatan moneter dipandang sebagai langkah untuk menjaga kepercayaan pasar.

Bank Indonesia menilai stabilitas rupiah menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Tanpa stabilitas nilai tukar, biaya impor, harga energi, dan ekspektasi inflasi berpotensi meningkat lebih cepat.

Langkah ini juga menunjukkan bahwa BI memilih bertindak lebih awal sebelum tekanan harga berkembang lebih jauh. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menahan efek rambatan dari kondisi eksternal yang belum sepenuhnya reda.

Fokus Inflasi Dua Tahun

Selain stabilitas kurs, kebijakan BI diarahkan sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027. Target inflasi tetap berada di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen sesuai ketetapan pemerintah.

Bank Indonesia menilai ancaman inflasi dapat muncul dari lonjakan harga global, penyesuaian biaya impor, dan ketidakpastian energi. Dengan memperketat kebijakan, bank sentral berharap ekspektasi inflasi tetap terkendali.

Di pasar keuangan, keputusan ini berpotensi memberi dukungan jangka pendek bagi rupiah, meski dampaknya bisa bergantung pada perkembangan eksternal. Investor biasanya menilai suku bunga yang lebih tinggi sebagai instrumen untuk meredam volatilitas.

Ke depan, pergerakan rupiah akan bergantung pada konsistensi kebijakan BI dan arah sentimen global. Jika tekanan eksternal menurun, penguatan rupiah berpeluang berlanjut, namun volatilitas tetap menjadi risiko utama.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!