Rupiah Menguat ke Rp17.651 Usai BI Naikkan Suku Bunga

Forex & Saham Kevin S. Pratama 25 Mei 2026 20:57 WIB 2
Rupiah Menguat ke Rp17.651 Usai BI Naikkan Suku Bunga

Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Mengacu data Bloomberg, rupiah bergerak ke level Rp 17.651 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat berada di kisaran Rp 17.700. Penguatan ini terjadi di tengah respons pasar terhadap kebijakan terbaru Bank Indonesia.

Pada perdagangan sebelumnya, dolar AS sempat menyentuh level Rp 17.721, yang menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah. Pergerakan ini menunjukkan pasar masih merespons ketidakpastian global sekaligus langkah antisipatif dari otoritas moneter. Penguatan pagi ini memberi sinyal adanya ruang pemulihan, meski tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda.

Rupiah Menguat di Pembukaan

Rupiah bergerak lebih kuat pada awal perdagangan setelah sempat berada di bawah tekanan pada sesi sebelumnya. Data Bloomberg menunjukkan mata uang Garuda menguat ke Rp 17.651 per dolar AS. Dolar AS tercatat melemah tipis 2 poin atau 0,01% terhadap rupiah.

Pergerakan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi tak lama setelah rupiah menyentuh rekor terlemah. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap kebijakan suku bunga dan perkembangan geopolitik. Meski demikian, sentimen awal perdagangan menunjukkan respons yang lebih positif terhadap rupiah.

Penguatan rupiah pada pembukaan dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pasar. Level psikologis di atas Rp 17.700 sempat menekan sentimen investor dalam beberapa hari terakhir. Karena itu, penguatan ke Rp 17.651 menjadi sinyal awal stabilisasi yang patut dicermati.

Dorongan Dari BI Rate

Bank Indonesia sebelumnya memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Keputusan itu diambil dalam Rapat Dewan Gubernur pada 19-20 Mei 2026. Selain itu, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,25% dan Lending Facility menjadi 6%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Menurut dia, kebijakan itu diperlukan untuk merespons gejolak global yang dipicu perang di Timur Tengah. BI juga menegaskan langkah ini bersifat preemptive untuk menjaga inflasi tetap terkendali.

Dengan kenaikan suku bunga acuan, BI berharap aliran dana ke aset rupiah menjadi lebih menarik. Kebijakan ini juga ditujukan untuk menjaga inflasi 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam sasaran 2,5% plus minus 1%. Pasar kini menilai sejauh mana pengetatan moneter tersebut mampu menahan pelemahan rupiah.

Tekanan Global Masih Membayangi

Meski rupiah menguat, tekanan dari faktor eksternal masih terus membayangi. Konflik di Timur Tengah memicu ketidakpastian di pasar keuangan global dan mendorong pelaku pasar mencari aset aman. Dalam situasi seperti ini, mata uang negara berkembang cenderung lebih rentan berfluktuasi.

Dolar AS juga masih memiliki daya tarik tersendiri di tengah tingginya volatilitas pasar. Penguatan mata uang Amerika Serikat kerap terjadi saat investor bersikap hati-hati terhadap risiko global. Karena itu, pergerakan rupiah belum bisa dilepaskan dari arah sentimen internasional.

Selain faktor geopolitik, ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral global turut memengaruhi pasar valas. Perbedaan arah suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat dapat membentuk arus modal jangka pendek. Hal ini membuat rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan.

Prospek Rupiah Ke Depan

Pasar kini menunggu apakah langkah BI cukup kuat untuk menjaga stabilitas rupiah dalam jangka menengah. Kenaikan suku bunga acuan biasanya memberi dukungan pada mata uang domestik, terutama jika diikuti perbaikan sentimen global. Namun, efektivitasnya akan bergantung pada kekuatan tekanan eksternal yang masih berlangsung.

Para pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan inflasi domestik dan data ekonomi berikutnya. Jika tekanan harga tetap terkendali, ruang bagi rupiah untuk stabil akan semakin terbuka. Sebaliknya, gejolak baru di pasar global dapat kembali menekan mata uang Garuda.

Dalam kondisi saat ini, rupiah masih bergerak dalam fase penyesuaian terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat. Penguatan ke Rp 17.651 memberi harapan awal, tetapi belum cukup untuk memastikan tren pemulihan yang berkelanjutan. Arah rupiah selanjutnya akan sangat ditentukan oleh kombinasi kebijakan BI, sentimen global, dan aliran modal asing.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!