Rupiah Melemah, Trafik Pusat Belanja Jakarta Turun 20 Persen

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 24 Mei 2026 13:11 WIB 5
Rupiah Melemah, Trafik Pusat Belanja Jakarta Turun 20 Persen

Pelemahan rupiah mulai terasa di pusat perbelanjaan Jakarta, dengan penurunan jumlah pengunjung terutama pada hari kerja. Kondisi ini dipicu kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, yang membuat daya beli masyarakat ikut tertekan.

Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menyebut dampak paling nyata terlihat dari naiknya harga sejumlah komoditas. Ia mengatakan, sebagian masyarakat kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang di tengah tekanan harga yang terus meningkat.

Rupiah dan tekanan belanja

Ellen menilai pelemahan rupiah memberi dampak langsung pada harga barang di masyarakat. Menurut dia, nilai tukar dolar AS yang sempat mendekati Rp17.000 hingga Rp18.000 membuat biaya sejumlah kebutuhan ikut naik.

Kenaikan itu, kata dia, tidak hanya terjadi pada barang impor, tetapi juga merembet ke komoditas harian. Dampaknya terasa pada harga buah, sayur, hingga kebutuhan rumah tangga yang kini dijual lebih mahal dibanding sebelumnya.

Situasi tersebut membuat konsumen menahan pengeluaran dan menunda belanja yang tidak mendesak. Dalam kondisi ini, pusat belanja menjadi salah satu sektor yang paling cepat merasakan pelemahan konsumsi masyarakat.

Harga komoditas ikut naik

Ellen memberi contoh kenaikan harga buah naga yang sebelumnya Rp25.000 per kilogram kini menjadi Rp40.000. Ia juga menyebut harga gas rumah tangga yang dulu sekitar Rp210.000 kini naik menjadi Rp250.000.

Menurutnya, kenaikan harga itu menunjukkan tekanan inflasi yang semakin dirasakan masyarakat luas. Jika kebutuhan pokok naik, maka belanja lain cenderung ikut tertahan karena prioritas rumah tangga bergeser.

Ia menambahkan, kenaikan harga buah-buahan biasanya diikuti oleh sayuran dan komoditas lain. Pola ini membuat beban pengeluaran rumah tangga makin besar, terutama bagi masyarakat dengan pendapatan tetap.

Daya beli masyarakat melemah

Menurut Ellen, pelemahan daya beli paling terasa pada kelompok pekerja bergaji tetap. Ketika gaji tidak berubah sementara harga barang terus naik, ruang belanja masyarakat otomatis menyempit.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut mendorong masyarakat lebih selektif dalam membeli barang dan jasa. Banyak konsumen kini hanya datang ke pusat perbelanjaan untuk kebutuhan tertentu, bukan lagi untuk belanja rutin dalam jumlah besar.

Situasi ini berdampak pada aktivitas perdagangan di dalam mal, termasuk tenant makanan, fesyen, dan kebutuhan harian. Meski demikian, pelaku usaha masih berharap konsumsi masyarakat dapat pulih ketika tekanan harga mereda.

Trafik mal weekdays turun

APPBI DPD DKI Jakarta mencatat trafik pengunjung pusat belanja di Jakarta pada hari kerja turun sekitar 15 hingga 20 persen. Penurunan ini menunjukkan adanya perlambatan kunjungan di tengah pelemahan konsumsi masyarakat.

Meski begitu, Ellen menyebut akhir pekan masih menjadi periode yang cukup kuat bagi pusat perbelanjaan. Pada hari Sabtu dan Minggu, jumlah pengunjung bahkan cenderung lebih tinggi dibandingkan hari biasa.

Ia menilai fenomena itu tidak sepenuhnya aneh karena pola belanja masyarakat memang berbeda antara weekdays dan weekend. Namun, jika tekanan harga berlanjut, pelaku ritel tetap perlu menyiapkan strategi agar kunjungan tetap terjaga.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!