Rupiah Melemah ke Rp17.949, Tekanan Dolar AS Menguat

Forex & Saham Kevin S. Pratama 28 Mei 2026 14:46 WIB 2
Rupiah Melemah ke Rp17.949, Tekanan Dolar AS Menguat

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada Kamis, 28 Mei 2026, ketika dolar Amerika Serikat sempat menyentuh level Rp17.949 berdasarkan data Investing. Pergerakan harian mata uang Negeri Paman Sam itu berada dalam rentang Rp17.772 hingga Rp17.995, menandakan volatilitas pasar masih tinggi. Di saat yang sama, data Google Finance menunjukkan dolar AS sempat berada di level Rp17.904 pada pukul 04.00 UTC. Meski sempat bergerak melemah, dolar AS kemudian berbalik menguat ke level Rp17.850 atau naik 0,37 persen.

Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu gabungan sentimen eksternal dan domestik yang mendorong investor beralih ke aset safe haven. Tekanan tersebut membuat pasar valas bergerak lebih sensitif terhadap perkembangan geopolitik, arah suku bunga The Federal Reserve, serta kebutuhan dolar di dalam negeri. Menurut dia, kondisi yang terjadi bersamaan itu membuat ruang stabilisasi rupiah semakin sempit. Bank Indonesia pun disebut tetap melakukan intervensi, meski tekanan pasar masih cukup besar.

Tekanan Rupiah Dari Dolar AS

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah dalam perdagangan terbaru. Ketika dolar menguat, mata uang negara berkembang biasanya mengalami tekanan karena investor cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Situasi ini semakin terlihat saat indeks risiko global meningkat. Rupiah pun ikut bergerak defensif di tengah meningkatnya permintaan terhadap dolar.

Data pasar menunjukkan dolar AS sempat mencapai posisi Rp17.949 pada perdagangan Kamis pagi. Pergerakan ini menandakan pasar masih berada dalam fase pencarian arah. Rentang perdagangan yang lebar memperlihatkan tingginya volatilitas. Dalam kondisi seperti itu, pelaku pasar cenderung menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum mengambil posisi besar.

Ibrahim menyebut tekanan yang dialami rupiah bukan hanya berasal dari satu sumber. Menurut dia, kombinasi faktor eksternal dan internal membuat pelemahan berlangsung lebih cepat. Investor melihat kondisi tersebut sebagai sinyal kehati-hatian. Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS meningkat lebih kuat dibanding mata uang regional lain.

Penguatan dolar juga tercermin dari data Google Finance yang sempat menempatkan kurs di level Rp17.904. Meski setelah itu bergerak ke Rp17.850, posisi tersebut masih menunjukkan dolar berada dalam tren menguat. Perubahan arah intraday ini umum terjadi saat pasar menunggu katalis baru. Namun, bagi rupiah, penguatan dolar tetap menjadi tekanan utama.

Geopolitik Timur Tengah Memanas

Faktor eksternal lain yang membebani rupiah adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pasar menyoroti memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran baru. Kondisi ini menambah ketidakpastian pada pasar global. Investor pun cenderung bersikap lebih hati-hati terhadap aset berisiko.

Ketegangan tersebut juga memicu kekhawatiran terhadap distribusi energi dunia. Jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena kawasan itu sangat strategis bagi pasokan global. Jika gangguan terjadi, harga energi berpotensi naik lebih tinggi. Dampaknya akan terasa luas, termasuk pada inflasi dan nilai tukar di banyak negara.

Ibrahim menilai pasar sangat sensitif terhadap perkembangan konflik di kawasan itu. Setiap eskalasi baru berpotensi mendorong arus dana ke aset aman seperti dolar AS. Dalam situasi seperti ini, mata uang emerging market biasanya menerima tekanan lebih besar. Rupiah menjadi salah satu yang paling cepat merespons sentimen global tersebut.

Harga energi yang tinggi juga berpotensi mengubah proyeksi pasar terhadap ekonomi dunia. Jika inflasi naik, ruang bagi bank sentral utama untuk melonggarkan kebijakan bisa makin sempit. Sinyal itu membuat investor kembali menata ulang portofolionya. Dalam jangka pendek, rupiah masih rentan terhadap gejolak eksternal seperti ini.

Kebijakan The Fed Membayangi

Selain faktor geopolitik, ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed ikut membebani rupiah. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Sikap tersebut membuat dolar tetap menarik bagi investor global. Mata uang emerging market pun kehilangan sebagian daya tariknya.

Ketika suku bunga AS bertahan tinggi, biaya peluang untuk menahan aset berisiko menjadi lebih besar. Investor kemudian cenderung memilih instrumen yang memberi imbal hasil dan keamanan lebih baik. Dalam konteks ini, dolar AS memperoleh dukungan tambahan. Rupiah, sebaliknya, harus menghadapi tekanan ganda dari sisi arus modal dan sentimen pasar.

Tingginya harga energi juga memperkuat ekspektasi bahwa inflasi global belum akan turun cepat. Jika inflasi bertahan tinggi, The Fed memiliki ruang yang lebih terbatas untuk memangkas suku bunga. Kondisi tersebut memperpanjang dominasi dolar di pasar internasional. Bagi rupiah, situasi ini berarti tantangan yang belum mudah mereda.

Ibrahim menilai arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang saat pasar global menghindari risiko. Indonesia tidak terkecuali karena investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana. Pola ini membuat tekanan pada nilai tukar semakin terasa. Selama ekspektasi suku bunga tinggi masih kuat, rupiah berpeluang tetap fluktuatif.

Intervensi BI Masih Berjalan

Dari sisi domestik, kebutuhan dolar AS yang meningkat turut memperberat tekanan pada rupiah. Permintaan itu berasal dari impor minyak, pembayaran dividen, serta kewajiban utang yang jatuh tempo. Ketika kebutuhan dolar naik, pasar valas menjadi lebih ketat. Akibatnya, rupiah makin sulit mempertahankan stabilitasnya.

Ibrahim juga menyoroti perhatian pasar terhadap kondisi fiskal domestik. Selain itu, efektivitas sejumlah program pemerintah dinilai ikut memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi nasional. Jika persepsi melemah, arus dana masuk bisa terhambat. Situasi tersebut menambah tekanan pada mata uang domestik.

Bank Indonesia disebut terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam gejolak rupiah. Namun, tekanan yang datang bersamaan dari faktor eksternal dan internal membuat ruang langkah bank sentral menjadi terbatas. Intervensi tetap penting untuk menjaga ekspektasi pasar. Meski begitu, hasilnya tidak selalu mampu membalik tren dalam waktu singkat.

Menurut Ibrahim, BI sudah melakukan langkah semaksimal mungkin untuk menahan pelemahan rupiah. Akan tetapi, besarnya tekanan pasar membuat upaya stabilisasi menjadi lebih menantang. Pelaku pasar kini menunggu perkembangan geopolitik, arah kebijakan The Fed, dan respons otoritas moneter domestik. Selama ketiga faktor itu belum mereda, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!