Patek Philippe dan AP, Jam Mewah yang Jadi Sorotan

Lifestyle Clara Monica 28 Mei 2026 16:19 WIB 2
Patek Philippe dan AP, Jam Mewah yang Jadi Sorotan

Dunia horologi kembali menjadi perhatian publik setelah pemusnahan 14 jam tangan milik tersangka korupsi Asabri, Jimmy Sutopo, memunculkan sorotan terhadap jam tangan mewah. Kejaksaan Agung memastikan seluruh barang itu palsu, sementara kasus tersebut menegaskan tingginya minat terhadap merek prestisius seperti Patek Philippe dan Audemars Piguet.

Di pasar kolektor, dua nama itu kerap dipandang sebagai simbol status, kelangkaan, dan nilai investasi. Di Indonesia, keduanya juga tetap menjadi incaran kalangan berduit, meski harga beberapa modelnya dapat mencapai miliaran rupiah.

Jam tangan mewah disorot publik

Pemusnahan barang bukti dari perkara Asabri kembali mengangkat pembicaraan soal jam tangan mewah yang kerap dikaitkan dengan gaya hidup kelas atas. Dalam kasus itu, Kejagung menyatakan jam tangan yang disita tidak asli setelah melalui validasi panjang.

Sebelumnya, tersangka juga mengakui di persidangan bahwa barang tersebut bukan produk asli. Fakta itu membuat publik menyoroti bagaimana merek-merek jam tangan mewah sering menjadi simbol gengsi, bahkan saat kepemilikannya tidak selalu sah.

Perhatian masyarakat terhadap isu ini muncul karena jam tangan mewah memiliki nilai simbolik yang kuat. Bagi sebagian orang, arloji bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan penanda status sosial dan selera.

Di tengah sorotan itu, merek seperti Patek Philippe dan Audemars Piguet kembali masuk perbincangan. Keduanya dikenal memiliki pasar tersendiri, terutama di kalangan kolektor dan pemburu barang eksklusif.

Harga audemars piguet di pasar

Audemars Piguet atau AP dikenal luas melalui lini Royal Oak yang ikonik. Model stainless steel biasanya berada di kisaran Rp 600 juta hingga Rp 1,2 miliar, tergantung kondisi dan kelengkapan.

Untuk Royal Oak Offshore chronograph, harga umumnya berada di rentang sekitar Rp 400 juta sampai Rp 900 juta. Sementara itu, model high complication atau limited edition dapat menembus Rp 2 miliar hingga lebih dari Rp 6 miliar.

Harga yang tinggi membuat AP identik dengan pasar premium. Kolektor menilai merek ini memiliki desain khas, sejarah kuat, dan daya tarik yang konsisten di berbagai negara.

Di Indonesia, AP termasuk jam tangan yang paling dicari oleh kalangan mampu. Popularitasnya tidak hanya bertumpu pada nama besar, tetapi juga pada keterbatasan produksi yang menjaga eksklusivitas.

Patek philippe dan status kolektor

Patek Philippe bahkan kerap dianggap berada satu tingkat di atas AP dalam persepsi kolektor. Merek asal Swiss ini mendapat reputasi sebagai holy grail karena produksinya terbatas dan nilainya cenderung bertahan.

Untuk seri entry level seperti Calatrava, harga bisa dimulai dari Rp 180 juta hingga Rp 500 juta. Sementara Aquanaut berada di kisaran Rp 1 miliar sampai Rp 4 miliar, dan Nautilus dapat mencapai Rp 1,8 miliar hingga Rp 7 miliar.

Di kelas tertinggi, Grand Complications bisa bernilai puluhan miliar rupiah. Angka tersebut menunjukkan posisi Patek Philippe bukan hanya sebagai barang mewah, tetapi juga aset yang diburu kolektor serius.

Kelangkaan menjadi faktor utama yang menjaga pamor merek ini. Banyak pembeli menilai Patek Philippe sebagai jam tangan yang tidak sekadar mahal, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan warisan yang kuat.

Pasar jam mewah di Indonesia

Minat terhadap jam tangan mewah di Indonesia terus terlihat dari aktivitas pameran dan komunitas kolektor. Salah satu yang sempat menyita perhatian adalah Jakarta Watch Exchange atau JWX 2026, yang menampilkan sejumlah model langka.

Di ajang itu, Patek Philippe Nautilus Chrono White Gold Blue Dial 40th Anniversary sempat dipamerkan dengan harga Rp 6,6 miliar. Model tersebut disebut-sebut sebagai salah satu arloji yang paling diincar kolektor.

Menurut Anton Lim, pendiri JWX, Richard Mille masih berada di urutan teratas untuk pasar jam tangan mewah di Indonesia. Setelah itu, barulah Patek Philippe dan Audemars Piguet masuk daftar merek yang paling dicari.

Tren ini menunjukkan bahwa pasar jam tangan mewah di Tanah Air tetap hidup, terutama di segmen pembeli yang mengutamakan prestise dan kelangkaan. Di saat yang sama, kasus barang palsu turut mengingatkan publik bahwa dunia horologi juga tidak lepas dari risiko penipuan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!