Rosan Respons IHSG Melemah Usai Danantara Dibentuk

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 28 Mei 2026 17:29 WIB 2
Rosan Respons IHSG Melemah Usai Danantara Dibentuk

Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menanggapi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang terjadi usai pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Badan tersebut akan mengelola ekspor komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, batu bara, hingga ferro alloy. Pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, IHSG ditutup melemah 3,54 persen ke level 6.094 setelah sempat tertekan lebih dari 2 persen saat pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai tata kelola ekspor sumber daya alam disampaikan. Rosan menilai tekanan pasar tidak hanya terkait kebijakan, tetapi juga dipengaruhi faktor teknikal dan sentimen global.

Menurut Rosan, investor perlu membaca kondisi pasar secara lebih luas dengan melihat data dan tren jangka panjang. Ia menegaskan bahwa pelemahan yang terjadi tidak bisa langsung dikaitkan dengan satu peristiwa tertentu. Salah satu faktor yang disebut memberi tekanan adalah rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI. Proses tersebut dinilai dapat mendorong aksi jual oleh investor asing pada sejumlah saham yang terdampak.

Tekanan IHSG dan sentimen pasar

IHSG tercatat melemah 0,82 persen ke level 6.318,50 pada penutupan perdagangan Rabu, 20 Mei. Namun, tekanan semakin besar pada perdagangan Kamis ketika indeks berakhir di level 6.094. Penurunan itu setara dengan koreksi 233 poin atau 3,54 persen. Kondisi tersebut terjadi di tengah perhatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan baru di sektor sumber daya alam.

Rosan menyebut pasar saham saat ini sedang berada dalam fase tertekan karena kombinasi faktor teknikal dan persepsi. Ia menilai pergerakan indeks tidak lepas dari respons investor terhadap dinamika global yang sedang berlangsung. Sentimen dari luar negeri, menurutnya, turut memengaruhi keputusan pelaku pasar domestik. Dalam situasi seperti ini, volatilitas saham dinilai wajar terjadi.

Ia juga menyinggung bahwa investor asing cenderung bereaksi terhadap perubahan komposisi indeks global. Reaksi tersebut dapat menimbulkan tekanan pada saham-saham tertentu, terutama yang masuk dalam daftar penyesuaian. Karena itu, Rosan menilai penurunan IHSG perlu dipahami sebagai bagian dari mekanisme pasar. Ia mengajak investor melihat kondisi dengan pendekatan yang lebih rasional dan berbasis data.

Rebalancing MSCI jadi sorotan

Rosan secara terbuka mengaitkan pelemahan pasar dengan rencana rebalancing MSCI yang akan berlaku efektif setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026. Menurutnya, pengumuman tersebut membuat investor asing menyesuaikan portofolio mereka lebih cepat. Sebanyak 18 saham Indonesia diketahui dikeluarkan dari indeks MSCI dalam penyesuaian tersebut. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu pemicu tekanan di bursa.

Ia menjelaskan, saham yang keluar dari indeks global biasanya menghadapi tekanan jual karena bobotnya di portofolio internasional berkurang. Situasi itu bisa berdampak pada pergerakan harga dalam jangka pendek. Meski demikian, Rosan menilai efeknya tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental emiten. Pasar, menurutnya, kerap bergerak lebih cepat daripada kinerja bisnis riil perusahaan.

Rosan menekankan bahwa volatilitas akibat rebalancing merupakan bagian dari dinamika pasar modal. Investor, kata dia, sebaiknya tidak hanya melihat pergerakan harian indeks. Fokus utama tetap pada kualitas bisnis dan kemampuan perusahaan menghasilkan laba secara konsisten. Dengan cara itu, penilaian terhadap saham menjadi lebih objektif dan terukur.

Fundamental BUMN dinilai kuat

Di tengah tekanan pasar, Rosan menegaskan bahwa fundamental perusahaan-perusahaan pelat merah masih solid. Ia menilai kinerja BUMN tetap menunjukkan daya tahan yang baik. Salah satu contoh yang ia sebut adalah bank-bank Himbara yang dinilai masih mencatat pertumbuhan positif. Menurutnya, kinerja tersebut menjadi bukti bahwa fondasi bisnis BUMN belum goyah.

Rosan menyebut imbal hasil atau yield bank-bank Himbara berada di atas 10 persen hingga 11 persen. Angka itu, menurutnya, menunjukkan performa yang masih kuat di tengah tekanan pasar. Ia menilai pencapaian tersebut layak menjadi perhatian investor jangka panjang. Karena itu, pelemahan indeks tidak otomatis mencerminkan lemahnya perusahaan yang menjadi penggeraknya.

Ia juga menilai kondisi fundamental ekonomi nasional masih berada pada jalur yang baik. Meski pasar sedang tertekan oleh persepsi dan sentimen, Rosan optimistis prospek jangka menengah dan panjang tetap positif. Keyakinan itu didasarkan pada kinerja perusahaan-perusahaan BUMN yang disebut masih sehat. Dalam pandangannya, pasar akan kembali membaik ketika sentimen mereda dan pelaku usaha menunjukkan hasil yang konsisten.

Prospek pasar masih terbuka

Rosan mengakui bahwa pasar saat ini memang sedang menghadapi tekanan, baik dari faktor eksternal maupun internal. Namun, ia menilai tekanan tersebut bersifat sementara dan tidak mengubah kekuatan fundamental ekonomi. Menurutnya, pasar modal sering kali dipengaruhi persepsi yang bergerak lebih cepat daripada data. Karena itu, penilaian jangka pendek tidak selalu mewakili arah besar ekonomi.

Ia menegaskan bahwa investor perlu memperhatikan horizon investasi yang lebih panjang. Dalam jangka menengah, Rosan meyakini pasar akan menemukan keseimbangannya kembali. Perusahaan dengan kinerja kuat dan tata kelola baik dinilai tetap memiliki daya tarik tinggi. Pandangan ini, menurutnya, penting agar investor tidak terjebak pada reaksi sesaat.

Rosan menutup pernyataannya dengan optimisme bahwa fundamental yang baik akan kembali tercermin di pasar. Ia menyebut kondisi saat ini sebagai fase yang perlu dilewati dengan tenang dan disiplin. Selama kinerja perusahaan tetap kuat, peluang pemulihan dinilai tetap terbuka. Dengan demikian, tekanan pada IHSG dianggap belum mencerminkan prospek jangka panjang yang sesungguhnya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!