Rupiah Melemah ke Rp17.949, Tekanan Dolar AS Kian Kuat

Forex & Saham Gilang Nabaris 01 Juni 2026 14:18 WIB 4
Rupiah Melemah ke Rp17.949, Tekanan Dolar AS Kian Kuat

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, seiring meningkatnya tekanan dari faktor global dan domestik. Berdasarkan data Investing, dolar AS sempat bergerak di kisaran Rp17.772 hingga Rp17.995, sebelum kembali berada di level Rp17.850.

Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan internal yang mendorong investor memilih aset safe haven. Kondisi tersebut membuat ruang stabilisasi Bank Indonesia semakin terbatas, meski intervensi di pasar valas terus dilakukan.

Tekanan Rupiah dan Dolar AS

Data Investing menunjukkan dolar AS sempat menyentuh Rp17.949 pada perdagangan hari ini. Sementara itu, data Google Finance mencatat kurs dolar AS pernah berada di Rp17.904 pada pukul 04.00 UTC.

Meski sempat bergerak menguat, posisi dolar AS kemudian berbalik ke level Rp17.850. Pergerakan tersebut menandakan volatilitas rupiah masih tinggi di tengah sentimen pasar yang berubah cepat.

Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah tidak terjadi karena satu faktor tunggal. Menurutnya, tekanan datang bersamaan dari luar negeri dan dalam negeri.

Ia menilai investor cenderung mengalihkan dana ke dolar AS ketika ketidakpastian meningkat. Langkah itu lazim terjadi saat pasar mencari aset yang dianggap lebih aman.

Geopolitik Timur Tengah

Dari sisi eksternal, pasar mencermati memanasnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar.

Kondisi itu dinilai dapat mengganggu distribusi energi global, terutama melalui jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz. Jika jalur tersebut terganggu, harga energi berpotensi terdorong naik lebih lanjut.

Kenaikan harga energi biasanya diikuti kekhawatiran inflasi global yang lebih tinggi. Dalam situasi seperti itu, mata uang negara berkembang cenderung berada di bawah tekanan.

Ibrahim menjelaskan, investor global menjadi lebih berhati-hati ketika risiko geopolitik meningkat. Akibatnya, arus modal asing cenderung mengalir keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sikap The Fed

Faktor eksternal lain datang dari ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Pelaku pasar memperkirakan The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Ekspektasi tersebut menjadi sentimen negatif bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah. Imbal hasil dolar AS yang lebih menarik membuat investor lebih memilih menempatkan dana di aset berdenominasi dolar.

Tingginya harga energi juga berpotensi menahan laju penurunan inflasi global. Dalam kondisi itu, ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi semakin sempit.

Ibrahim menilai kebijakan suku bunga tinggi yang berkepanjangan akan menjaga kekuatan dolar AS. Hal ini pada akhirnya menambah tekanan terhadap mata uang lain di pasar regional.

Faktor Domestik Indonesia

Dari dalam negeri, kebutuhan dolar AS masih cukup besar untuk impor minyak. Selain itu, permintaan dolar juga meningkat untuk pembayaran dividen dan kewajiban utang yang jatuh tempo.

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut membuat tekanan pada rupiah tidak hanya bersumber dari sentimen luar. Kombinasi kebutuhan valas domestik dan pasar global yang tidak stabil memperberat pergerakan mata uang nasional.

Ia juga menyoroti perhatian pasar terhadap kondisi fiskal domestik. Efektivitas sejumlah program pemerintah dinilai ikut memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum masuk kembali ke aset rupiah. Sikap hati-hati tersebut membuat pemulihan kurs berjalan lebih lambat.

Intervensi Bank Indonesia

Ibrahim menyebut Bank Indonesia telah melakukan intervensi semaksimal mungkin untuk menahan pelemahan rupiah. Namun, tekanan pasar yang besar membuat hasilnya belum mampu mengubah arah pergerakan secara signifikan.

Intervensi di pasar valas tetap menjadi instrumen utama untuk menjaga stabilitas rupiah. Meski demikian, ruang gerak bank sentral semakin sempit ketika tekanan eksternal dan domestik datang bersamaan.

Ia menilai kombinasi ketegangan geopolitik, kebijakan The Fed, dan kebutuhan dolar di dalam negeri menjadi tantangan utama bagi stabilitas kurs. Selama faktor-faktor itu belum mereda, rupiah berpotensi masih bergerak fluktuatif.

Pasar kini akan mencermati langkah lanjutan BI serta arah kebijakan moneter global dalam beberapa waktu ke depan. Perkembangan tersebut diperkirakan menjadi penentu utama arah rupiah pada perdagangan berikutnya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!