Dr Aru Ingatkan Real Food Tetap Lebih Sehat daripada Makanan Olahan

Lifestyle Clara Monica 01 Juni 2026 19:47 WIB 2
Dr Aru Ingatkan Real Food Tetap Lebih Sehat daripada Makanan Olahan

Sarden kalengan belakangan ramai dibicarakan karena dianggap bukan termasuk Ultra Processed Food atau UPF. Namun, praktisi kesehatan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa pilihan paling sehat tetap adalah real food.

Menurut dr Aru, makanan olahan kerap dibuat dengan campuran atau tambahan bahan yang tidak selalu bisa sepenuhnya dikontrol keamanannya. Ia menyampaikan pandangan itu dalam perbincangan dengan detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026.

Real Food Jadi Pilihan

dr Aru menilai, real food tetap menjadi standar terbaik untuk menjaga kesehatan tubuh. Ia menyebut, makanan segar umumnya lebih mudah dipahami asal-usul dan proses pengolahannya.

Ia menekankan, semakin sederhana suatu makanan, semakin kecil pula risiko ketidakpastian dari bahan tambahan yang digunakan. Karena itu, konsumsi real food dinilai lebih aman untuk jangka panjang.

Meski demikian, dr Aru mengakui tidak semua orang bisa selalu mengandalkan real food dalam keseharian. Kondisi ini membuat pilihan praktis, seperti makanan olahan, masih banyak dipilih masyarakat.

Makanan Olahan dan Risikonya

Menurut dr Aru, makanan olahan umumnya dibuat dengan bahan tambahan yang tidak seluruhnya bisa diketahui mutu dan keamanannya oleh konsumen. Walaupun ada aturan yang mengawasi, risiko penyimpangan tetap tidak bisa diabaikan.

Ia menilai, persoalan utama bukan hanya pada label makanan, tetapi juga pada proses produksi yang berlangsung di baliknya. Konsumen sering kali tidak memiliki gambaran penuh mengenai komposisi dan cara pembuatannya.

Karena itu, masyarakat disarankan untuk lebih selektif saat memilih makanan sehari-hari. Pemahaman terhadap kandungan dan proses pengolahan menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan.

Gaya Hidup Modern Berubah

dr Aru mengaitkan meningkatnya konsumsi makanan olahan dengan ritme hidup masyarakat modern yang semakin padat. Banyak orang tidak sempat berbelanja bahan segar dan memasak sendiri di rumah.

Kondisi tersebut membuat makanan praktis menjadi solusi yang dianggap paling realistis. Dalam banyak kasus, pilihan itu diambil bukan karena lebih sehat, melainkan karena keterbatasan waktu.

Ia menilai, kebiasaan seperti ini perlu diimbangi dengan kesadaran gizi yang lebih baik. Tanpa itu, pilihan makanan yang serba cepat dapat berdampak pada kualitas kesehatan jangka panjang.

Dampak pada Kesehatan

dr Aru menyebut, tren penyakit metabolik pada usia muda kini semakin sering ditemukan. Ia mencontohkan hipertensi dan diabetes yang mulai muncul pada kelompok usia sekitar 30 tahun.

Menurutnya, angka kesakitan pada anak muda saat ini juga cenderung meningkat. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pola makan dan gaya hidup tidak bisa lagi diabaikan.

Ia menegaskan, perubahan pola konsumsi perlu segera menjadi perhatian bersama. Jika tidak, risiko penyakit kronis pada usia produktif akan terus bertambah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!