Rupiah Melemah ke Rp17.850, Tekanan Dolar AS Menguat

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 01 Juni 2026 02:18 WIB 2
Rupiah Melemah ke Rp17.850, Tekanan Dolar AS Menguat

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, seiring menguatnya dolar Amerika Serikat dan meningkatnya sentimen risk-off di pasar global. Berdasarkan data Investing, dolar AS sempat menyentuh Rp17.949, dengan rentang harian di Rp17.772 hingga Rp17.995.

Di sisi lain, data Google Finance menunjukkan dolar AS sempat berada di level Rp17.904 pada pukul 04.00 UTC, lalu bergerak ke Rp17.850 atau menguat 0,37 persen. Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang mendorong investor beralih ke aset aman.

Tekanan Rupiah Meningkat

Ibrahim menyebut tekanan terhadap rupiah saat ini datang dari faktor eksternal dan internal yang bergerak bersamaan. Kondisi itu membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset berisiko. Dalam situasi seperti ini, dolar AS menjadi pilihan utama bagi investor yang mencari perlindungan. Akibatnya, ruang penguatan rupiah semakin terbatas.

Tekanan dari luar negeri terlihat dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, sehingga pasar mencermati risiko gangguan distribusi energi global. Jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz menjadi salah satu titik perhatian utama. Kekhawatiran ini langsung memengaruhi sentimen terhadap mata uang negara berkembang.

Selain itu, harga energi yang berpotensi naik dapat mendorong inflasi global. Kondisi tersebut membuat pasar menilai The Federal Reserve bisa mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Ekspektasi itu menjadi sentimen negatif bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah. Arus modal asing pun berpeluang keluar dari pasar negara berkembang.

Ibrahim menilai kombinasi faktor eksternal tersebut menambah beban bagi stabilitas pasar domestik. Investor global cenderung menahan diri untuk masuk ke aset yang dinilai lebih berisiko. Dalam keadaan seperti ini, pergerakan rupiah sangat mudah tertekan oleh sentimen global. Hal tersebut membuat volatilitas pasar valuta asing semakin tinggi.

Faktor Domestik Memberatkan

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah turut dipengaruhi meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak. Permintaan juga datang dari pembayaran dividen dan kewajiban utang yang jatuh tempo. Tiga kebutuhan valas itu membuat pasar domestik menyerap dolar dalam jumlah lebih besar. Tekanan tersebut mempersempit ruang stabilisasi kurs rupiah.

Ibrahim juga menyoroti perhatian pasar terhadap kondisi fiskal domestik. Pelaku pasar masih menilai efektivitas sejumlah program pemerintah yang dianggap berpengaruh pada persepsi investor. Jika persepsi terhadap stabilitas ekonomi melemah, minat terhadap rupiah bisa ikut turun. Karena itu, sentimen domestik menjadi komponen penting dalam arah pergerakan kurs.

Menurut dia, pasar kini memperhitungkan seberapa kuat fundamental ekonomi Indonesia dalam menghadapi tekanan global. Ketika kebutuhan dolar meningkat, pelaku usaha dan investor sama-sama cenderung melakukan lindung nilai. Situasi ini membuat permintaan valas bertahan tinggi dalam jangka pendek. Akibatnya, rupiah sulit bergerak stabil.

Di tengah kondisi tersebut, pasar menunggu sinyal yang lebih meyakinkan dari otoritas ekonomi. Kejelasan kebijakan fiskal dan konsistensi program pemerintah dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor. Jika persepsi positif menguat, tekanan terhadap rupiah dapat berkurang secara bertahap. Namun untuk saat ini, dominasi sentimen negatif masih terlihat jelas.

The Fed Menahan Ruang

Ekspektasi bahwa The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama menjadi salah satu pemicu utama penguatan dolar AS. Kebijakan semacam itu membuat imbal hasil aset berdenominasi dolar tetap menarik di mata investor global. Sementara itu, mata uang emerging market cenderung kehilangan daya tarik. Rupiah pun ikut berada di bawah tekanan lanjutan.

Harga energi yang tinggi juga menambah kekhawatiran terhadap inflasi global. Jika inflasi tidak turun sesuai harapan, ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed bisa menyempit. Pasar kemudian akan menilai dolar masih memiliki dukungan fundamental yang kuat. Dalam kondisi itu, tekanan pada rupiah berpotensi bertahan.

Investor asing biasanya membaca arah suku bunga The Fed sebagai penentu aliran modal global. Saat suku bunga tinggi diperkirakan bertahan lebih lama, dana cenderung kembali ke Amerika Serikat. Perpindahan dana itu mengurangi likuiditas di pasar negara berkembang. Indonesia pun tidak lepas dari efek tersebut.

Ibrahim menilai situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi mata uang regional. Selama ketidakpastian global belum mereda, investor akan tetap berhati-hati mengambil posisi. Sentimen aman terhadap dolar AS bisa terus mendominasi perdagangan valas. Karena itu, pergerakan rupiah masih rawan berfluktuasi.

Intervensi Bank Indonesia

Bank Indonesia disebut telah melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah di pasar valas. Namun, tekanan pasar dinilai masih cukup besar sehingga hasil intervensi belum sepenuhnya meredam pelemahan. Dalam kondisi seperti ini, BI harus menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus. Baik faktor eksternal maupun domestik sama-sama menahan penguatan rupiah.

Ibrahim mengatakan ruang stabilisasi rupiah menjadi semakin terbatas ketika tekanan pasar berlangsung bersamaan. Intervensi bank sentral memang penting, tetapi tidak selalu mampu melawan arus sentimen global yang kuat. Pasar tetap akan mencermati kebijakan lanjutan BI untuk menjaga kepercayaan. Respons yang konsisten menjadi kunci untuk meredam volatilitas.

Di tengah tekanan yang ada, pelaku pasar akan memantau perkembangan geopolitik dan kebijakan suku bunga The Fed. Sementara itu, kondisi fiskal domestik dan kebutuhan dolar korporasi juga akan menjadi perhatian utama. Kombinasi faktor tersebut akan menentukan arah rupiah dalam jangka pendek. Jika tekanan eksternal mereda, peluang stabilisasi akan terbuka lebih lebar.

Untuk saat ini, rupiah masih bergerak dalam bayang-bayang penguatan dolar AS. Pasar menunggu sinyal yang lebih jelas dari kebijakan moneter global dan langkah otoritas domestik. Selama ketidakpastian belum turun, volatilitas rupiah diperkirakan tetap tinggi. Investor pun diperkirakan masih bersikap defensif dalam beberapa waktu ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!