Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran sekaligus stres melihat rupiah melemah cukup dalam terhadap dolar Amerika Serikat. Pada penutupan perdagangan Selasa, kurs dolar AS berada di level Rp17.795, nyaris menyentuh Rp17.800, meski Purbaya menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia sedang baik.
Purbaya menyampaikan pandangan itu saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, pada Rabu. Ia juga menegaskan pemerintah tidak perlu melakukan stress test ulang terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara karena sejumlah skenario sudah dihitung sebelumnya.
Rupiah Dan Fundamental Ekonomi
Purbaya menyebut pelemahan rupiah terasa janggal karena terjadi saat fondasi ekonomi nasional dinilai kuat. Menurutnya, pelemahan mata uang biasanya muncul ketika ada gangguan pada fundamental ekonomi.
Ia menilai kondisi saat ini berbeda karena indikator makro masih relatif terjaga. Karena itu, nilai tukar dolar yang mendekati Rp17.800 dianggapnya tidak masuk akal dalam konteks pergerakan ekonomi terkini.
Meski demikian, Purbaya tidak menampik bahwa tekanan pada rupiah tetap perlu dicermati. Pemerintah, kata dia, terus memantau pergerakan pasar agar volatilitas tidak meluas.
APBN Sudah Disimulasikan
Menjawab pertanyaan soal kemungkinan pengujian ulang ketahanan APBN, Purbaya menegaskan tidak ada kebutuhan untuk itu. Ia mengatakan simulasi fiskal telah dilakukan sebelumnya dengan berbagai skenario yang cukup ekstrem.
Di antaranya adalah asumsi harga minyak dunia menembus US$100 per barel. Dalam perhitungan itu, kurs rupiah juga sudah dimasukkan sehingga pemerintah tidak perlu menghitung ulang dari awal.
Purbaya bahkan berkelakar bahwa dirinya yang stres, bukan APBN. Ia menegaskan desain anggaran masih berada dalam batas aman sesuai simulasi yang pernah disusun.
Yield Obligasi Menurun
Di tengah pelemahan rupiah, Purbaya menyampaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah justru mengalami penurunan. Hal itu dinilai sebagai sinyal bahwa pasar surat utang masih berada dalam kondisi terkendali.
Ia menjelaskan penurunan yield tidak terlepas dari intervensi pemerintah melalui treasury operation. Langkah itu dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara.
Menurut Purbaya, pengendalian di pasar obligasi penting karena menjadi dasar kepercayaan investor. Selama pasar surat utang stabil, arus investasi asing diyakini tetap terjaga.
Langkah Pemerintah Berikutnya
Purbaya mengatakan pemerintah sudah mulai melihat aliran modal asing masuk ke pasar obligasi domestik. Kondisi itu dinilai membantu menjaga ketahanan pembiayaan negara di tengah gejolak nilai tukar.
Ke depan, pemerintah disebut akan kembali mengambil langkah untuk memperkuat rupiah secara lebih signifikan. Namun, ia tidak merinci bentuk tindakan lanjutan yang akan dilakukan otoritas fiskal.
Data Bloomberg menunjukkan dolar AS menguat 0,29 persen atau 52 poin pada penutupan perdagangan Selasa, sehingga berada di level Rp17.795. Pergerakan itu menjadi sorotan karena mendekati ambang Rp17.800 per dolar AS.
