Rupiah Melemah, Industri Satelit Lokal Dinilai Punya Peluang

Teknologi Moh. Royhan Nahado 25 Mei 2026 06:27 WIB 5
Rupiah Melemah, Industri Satelit Lokal Dinilai Punya Peluang

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh sekitar Rp17.500 memukul industri satelit nasional, terutama karena sebagian besar kebutuhan satelit dan ground segment masih bergantung pada mata uang asing. Di tengah tekanan itu, pelaku industri menilai kondisi tersebut justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat manufaktur dalam negeri dan ekosistem teknologi nasional.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia, Sigit Jatipuro, menyampaikan pandangan itu dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026. Menurut dia, pelemahan rupiah perlu dibaca sebagai dorongan untuk mempercepat industrialisasi, memperbesar investasi lokal, dan mengurangi ketergantungan pada produk impor.

Industri Satelit Hadapi Tekanan

Pelemahan rupiah memberikan tekanan langsung kepada industri satelit karena sebagian komponen, perangkat, dan layanan pendukung masih dibeli menggunakan dolar AS. Kondisi tersebut membuat biaya pengadaan meningkat dan menekan ruang gerak pelaku usaha di sektor ini.

Sigit menilai posisi Indonesia di kawasan Asia Tenggara sebenarnya cukup kuat, namun masih tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia. Karena itu, menurut dia, pelemahan kurs tidak boleh hanya dilihat sebagai beban, melainkan juga sebagai sinyal untuk membangun daya saing yang lebih kuat.

Ia menjelaskan bahwa sektor yang berorientasi ekspor justru cenderung diuntungkan saat dolar menguat. Produksi yang dilakukan dengan rupiah, tetapi dijual dalam dolar, dapat memberi tambahan margin bagi pelaku usaha.

Dalam pandangannya, industri satelit nasional perlu memanfaatkan kondisi kurs untuk mendorong efisiensi dan substitusi impor. Langkah itu dinilai penting agar pelaku industri tidak terus-menerus bergantung pada pasokan luar negeri.

Kurs Lemah Jadi Momentum

Sigit menegaskan bahwa selisih nilai tukar dapat menjadi peluang bagi industri lokal untuk memperkuat basis produksinya. Jika sebelumnya dolar berada di kisaran Rp16.000 lalu naik ke Rp18.000, maka perbedaan kurs itu dapat menjadi keuntungan tambahan bagi industri yang memproduksi di dalam negeri.

Ia menyebut kondisi saat ini harus memicu industrialisasi nasional yang lebih serius. Dengan begitu, sektor teknologi dan satelit bisa berkembang dari pasar domestik sebelum menembus pasar yang lebih luas.

Menurut dia, pasar dalam negeri dapat berfungsi sebagai initial startup bagi industri nasional. Setelah fondasi bisnis terbentuk, ekspor ke pasar global dapat menjadi tahap berikutnya.

Skema tersebut dinilai lebih menguntungkan karena memberi waktu bagi industri untuk membangun kapasitas produksi dan memperkuat rantai pasok. Dengan basis pasar yang jelas, perusahaan lokal juga berpeluang meningkatkan daya saing secara bertahap.

Investor Lokal Didorong Masuk

Di tengah melambatnya investasi asing, Sigit mendorong investor domestik untuk mengambil peran lebih besar di industri teknologi nasional. Menurut dia, saat ini merupakan waktu yang tepat bagi modal lokal untuk mengalir ke sektor yang memiliki potensi jangka panjang.

Ia menilai ketergantungan pada investor luar negeri tidak ideal jika Indonesia ingin membangun kemandirian industri. Karena itu, peran pengusaha nasional dan pemodal dalam negeri menjadi semakin penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem.

Sigit juga menekankan perlunya dukungan terhadap pengembangan teknologi lokal yang mampu menjawab kebutuhan nasional. Jika pasar domestik tumbuh kuat, industri satelit dan manufaktur pendukung akan memiliki pijakan yang lebih stabil.

Menurut dia, penguatan investasi lokal dapat mempercepat lahirnya produk dan layanan berbasis teknologi dalam negeri. Pada akhirnya, hal itu akan memperkecil ketergantungan terhadap komponen impor yang selama ini membebani industri.

Generasi Muda Jadi Kunci

Selain soal investasi, Sigit menilai penting untuk menanamkan pola pikir industri dan ekspor sejak dini kepada generasi muda. Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia memiliki sumber daya manusia yang memahami pentingnya kemandirian teknologi.

Ia menilai pendidikan dan pembentukan karakter kewirausahaan harus berjalan seiring dengan penguatan industri. Dengan begitu, generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta nilai tambah di sektor strategis.

Pandangan itu sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk membangun ekosistem teknologi yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Industri satelit, menurut dia, bisa menjadi salah satu sektor yang mendorong penguasaan teknologi nasional secara lebih luas.

Di sisi lain, pemerintah juga tengah menghadapi tekanan kurs yang membuat rupiah terpuruk ke level terendah sepanjang masa. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan membantu Bank Indonesia mulai esok hari untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!