Rupiah Melemah, Industri Satelit Dinilai Punya Peluang

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 28 Mei 2026 10:18 WIB 2
Rupiah Melemah, Industri Satelit Dinilai Punya Peluang

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus Rp 17.500 memukul industri satelit dalam negeri, terutama karena sebagian besar kebutuhan satelit dan ground segment masih bergantung pada mata uang asing. Di tengah tekanan tersebut, pelaku usaha justru melihat peluang untuk memperkuat industri lokal agar tidak terus bergantung pada impor.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia, Sigit Jatipuro, menilai kondisi kurs saat ini harus dibaca sebagai momentum untuk mendorong industrialisasi nasional. Pernyataan itu disampaikan dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Rupiah dan industri satelit

Pelemahan rupiah memberi tekanan langsung pada industri satelit karena komponen utama masih banyak dibeli dengan dolar AS. Kondisi ini membuat biaya operasional meningkat ketika nilai tukar bergerak naik. Meski demikian, tekanan tersebut juga membuka ruang evaluasi bagi pelaku industri untuk memperkuat rantai pasok dalam negeri.

Sigit menilai Indonesia sebenarnya memiliki posisi yang cukup kuat di Asia Tenggara. Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia, kapasitas industrinya masih tertinggal. Karena itu, pelemahan rupiah perlu dijadikan pemicu untuk mempercepat penguatan basis produksi nasional.

Menurutnya, ketergantungan pada produk impor membuat industri satelit rentan terhadap gejolak nilai tukar. Ketika kurs melemah, beban biaya menjadi semakin besar dan menekan daya saing. Dalam kondisi seperti ini, penguatan industri lokal menjadi kebutuhan yang mendesak.

Ia menekankan bahwa sektor teknologi nasional harus mulai dibangun secara lebih mandiri. Ekosistem satelit, manufaktur, dan jasa pendukung perlu tumbuh bersama agar nilai tambah tidak lari ke luar negeri. Dengan begitu, tekanan kurs tidak lagi sepenuhnya menjadi beban bagi industri.

Momentum bagi produksi lokal

Sigit menyebut pelemahan rupiah justru dapat menciptakan keuntungan bagi industri yang berbasis ekspor. Biaya produksi yang dibayar dalam rupiah, sementara pendapatan diterima dalam dolar, berpotensi menghasilkan margin yang lebih besar. Pola ini dinilai bisa menjadi contoh bagi sektor lain yang ingin bertahan di tengah volatilitas kurs.

Ia mencontohkan, selisih nilai tukar dari Rp 16 ribu ke Rp 18 ribu bisa menjadi tambahan margin bagi industri lokal. Selama produksi dilakukan di dalam negeri, pelemahan rupiah tidak selalu berarti kerugian. Justru, kondisi tersebut dapat meningkatkan daya saing produk buatan Indonesia di pasar global.

Karena itu, ia menilai saat ini adalah waktu yang tepat untuk memperkuat industri teknologi nasional. Pemerintah dan pelaku usaha perlu mendorong lebih banyak produksi lokal agar kebutuhan strategis tidak lagi sepenuhnya bergantung pada impor. Langkah ini juga dinilai penting untuk menjaga ketahanan industri dalam jangka panjang.

Sigit menegaskan bahwa industrialisasi di dalam negeri harus menjadi agenda bersama. Jika arah pembangunan diarahkan pada produksi dan ekspor, maka pelemahan rupiah dapat dimanfaatkan sebagai peluang. Dalam pandangannya, industri yang kuat lahir dari kemampuan memanfaatkan tekanan menjadi nilai tambah.

Investasi domestik menguat

Di tengah melambatnya arus modal asing, Sigit mendorong investor domestik untuk mengambil peran lebih besar. Ia menilai lokal investing dapat menjadi penopang penting bagi sektor teknologi nasional. Terlebih, kebutuhan investasi di industri satelit dan manufaktur masih sangat besar.

Menurutnya, ketika investor asing belum masuk, modal dalam negeri seharusnya tidak menunggu terlalu lama. Peluang yang ada perlu dimanfaatkan untuk membangun kapasitas produksi, riset, dan pengembangan teknologi. Jika dikelola dengan baik, investasi lokal dapat menciptakan ekosistem industri yang lebih tahan krisis.

Ia juga melihat pasar domestik sebagai tahap awal yang strategis. Produk dan layanan teknologi nasional dapat diuji di pasar dalam negeri sebelum diperluas ke pasar ekspor. Cara ini dinilai lebih aman sekaligus efektif untuk membangun kepercayaan pasar.

Sigit menambahkan bahwa model seperti itu akan menguntungkan dalam jangka panjang. Industri yang tumbuh dari pasar domestik biasanya memiliki fondasi yang lebih kuat. Setelah itu, ekspansi ke pasar global dapat dilakukan dengan kesiapan yang lebih matang.

Generasi muda dan kemandirian

Selain soal investasi, Sigit menekankan pentingnya menanamkan pola pikir industri sejak dini kepada generasi muda. Ia menilai anak muda perlu memahami bahwa teknologi bukan hanya soal penggunaan, tetapi juga soal produksi dan ekspor. Dengan pemahaman itu, Indonesia dapat membangun kemandirian industri yang lebih kokoh.

Menurutnya, masa depan industri teknologi nasional sangat bergantung pada sumber daya manusia yang siap berinovasi. Generasi muda harus didorong untuk melihat sektor satelit dan manufaktur sebagai bidang strategis. Dari sana, lahir talenta yang mampu menciptakan solusi berbasis kebutuhan nasional.

Sigit mengatakan edukasi mengenai industri dan ekspor perlu dimulai dari sekarang. Jika pola pikir itu terbentuk lebih awal, maka Indonesia akan lebih siap menghadapi persaingan regional maupun global. Kemandirian industri pun tidak lagi sekadar wacana, melainkan target yang bisa dicapai.

Di sisi lain, pemerintah mulai merespons tekanan rupiah yang kian dalam. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan membantu Bank Indonesia mengendalikan tekanan nilai tukar mulai besok. Kebijakan itu diharapkan dapat meredakan gejolak pasar sekaligus memberi ruang bagi industri untuk beradaptasi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!