Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai memberi tekanan pada berbagai sektor industri, termasuk telekomunikasi. XLSmart menyebut fluktuasi kurs menjadi perhatian utama karena sebagian kebutuhan investasi jaringan dan perangkat masih bergantung pada komponen impor.
Group Head Corporate Communication & Sustainability XLSmart, Reza Mirza, mengatakan dampak terbesar dirasakan pada potensi kenaikan biaya investasi jaringan dan pengadaan perangkat. Meski demikian, perusahaan menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola karena pendapatan, biaya operasional, dan pinjaman perseroan tetap menggunakan rupiah.
Rupiah Dan Telekomunikasi
Pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus dipantau oleh industri telekomunikasi. Reza Mirza menilai kurs menjadi faktor eksternal yang tidak bisa diabaikan dalam perencanaan bisnis.
Ia menjelaskan, sebagian besar kebutuhan investasi jaringan dan perangkat masih berasal dari impor. Kondisi itu membuat pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan biaya pengadaan.
Meski ada tekanan dari sisi kurs, perusahaan menilai eksposur langsung masih terbatas. Hal ini terjadi karena struktur pendapatan dan biaya operasional perseroan tetap didominasi rupiah.
Biaya Investasi Meningkat
Dampak utama pelemahan rupiah dirasakan pada belanja modal atau capex. Kenaikan kurs dapat membuat biaya pembelian perangkat jaringan menjadi lebih mahal.
Reza menyebut sebagian kebutuhan teknologi telekomunikasi masih menggunakan komponen berdenominasi dolar Amerika Serikat. Karena itu, perubahan kurs berpengaruh langsung pada perhitungan investasi perusahaan.
Namun, perusahaan menegaskan hingga saat ini tekanan tersebut masih dalam batas yang dapat dikelola. Perseroan tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekspansi dan efisiensi biaya.
Strategi Jaga Kinerja
Untuk menjaga kinerja bisnis tetap sehat, perusahaan menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Strategi itu diarahkan agar dampak fluktuasi kurs tidak mengganggu keberlanjutan usaha.
Langkah yang ditempuh mencakup efisiensi biaya dan integrasi jaringan pascamerger. Perusahaan juga menerapkan disiplin investasi dengan memprioritaskan belanja modal secara selektif.
Selain itu, perseroan mengoptimalkan kerja sama dan negosiasi dengan vendor. Upaya ini diharapkan mampu menekan tekanan biaya sekaligus menjaga efektivitas operasional.
Struktur Pembiayaan Sehat
XLSmart menilai struktur pembiayaan menjadi salah satu penyangga utama saat rupiah melemah. Seluruh pinjaman perusahaan saat ini menggunakan denominasi rupiah sehingga risiko langsung dari kurs relatif terbatas.
Dengan komposisi itu, perseroan tidak memiliki eksposur besar terhadap kewajiban dalam mata uang asing. Kondisi tersebut memberi ruang lebih besar untuk menjaga stabilitas keuangan perusahaan.
Reza menegaskan perusahaan akan terus mempertahankan pembiayaan yang sehat dan terkendali. Menurutnya, langkah tersebut penting agar kinerja keuangan tetap kuat di tengah volatilitas pasar valuta asing.
