Rupiah Diprediksi Tembus Rp 18.000, Tekanan Bisa Berlanjut

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 01 Juni 2026 22:04 WIB 3
Rupiah Diprediksi Tembus Rp 18.000, Tekanan Bisa Berlanjut

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan masih melanjutkan pelemahan hingga pekan depan. Analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai level Rp 18.000 per dolar AS sudah berada di depan mata, bahkan berpotensi bergerak ke Rp 18.200 dalam waktu dekat.

Senada, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menyebut pelemahan rupiah bisa berlanjut lebih jauh jika tekanan pasar tidak mereda. Ia menilai sentimen negatif investor, defisit fiskal, serta kebijakan pemerintah yang dinilai menimbulkan ketidakpastian ikut memperberat beban rupiah.

Tekanan rupiah makin besar

Ibrahim menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor teknikal, tetapi juga persoalan struktural dalam perekonomian nasional. Salah satu yang disorot adalah defisit transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi, terutama minyak mentah.

Ia menjelaskan, ketika harga minyak dunia naik dan rupiah melemah, beban dolar yang harus disiapkan pemerintah ikut membesar. Kondisi ini, menurut dia, menambah tekanan bagi anggaran negara karena sebagian besar impor minyak mentah masih terkait subsidi energi.

Di sisi lain, kebutuhan valuta asing juga meningkat dari pasar modal karena perusahaan asing di Indonesia harus membagikan dividen kepada pemegang saham. Permintaan dolar yang naik tersebut membuat tekanan terhadap rupiah semakin kuat.

Baca juga: Kondisi itu, kata Ibrahim, menambah kegaduhan di pasar karena pasokan dolar dalam negeri tidak sebanding dengan kebutuhan yang terus bertambah. Akibatnya, pelemahan rupiah menjadi lebih mudah terjadi saat sentimen global memburuk.

Investor cari aset aman

Dari pasar logam mulia, Ibrahim menyebut harga emas dunia masih bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian global. Namun, ketika dolar AS menguat, sebagian investor justru memindahkan dana dari emas ke dolar untuk memanfaatkan momentum pelemahan rupiah.

Pergerakan tersebut membuat minat terhadap emas digital dan logam mulia ikut terdorong turun dalam jangka pendek. Dalam situasi seperti ini, indeks dolar dinilai lebih menarik bagi pelaku pasar yang mengejar keuntungan cepat.

Menurut Ibrahim, arus perpindahan dana ini memperlihatkan bahwa investor sedang mencari aset yang dianggap lebih aman. Sementara itu, rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling rentan terhadap perubahan sentimen tersebut.

Ia menegaskan, selama ketidakpastian global masih tinggi, tekanan terhadap rupiah belum akan mereda. Bahkan, ruang pelemahan masih terbuka jika permintaan dolar terus meningkat di pasar domestik.

Kebijakan baru ikut disorot

Ibrahim juga menyoroti kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI yang dinilai memicu kegaduhan di kalangan pelaku usaha. Meski secara jangka panjang dianggap dapat memperbaiki tata kelola, kebijakan itu disebut hadir di saat ekonomi belum sepenuhnya stabil.

Ia menilai, pemerintah memang ingin menekan kebocoran ekspor ilegal dan praktik yang tidak sesuai dokumen. Namun, bagi perusahaan tambang yang sudah terikat kontrak jangka pendek maupun jangka panjang dengan mitra luar negeri, perubahan itu memunculkan beban tambahan.

Bhima Yudhistira juga menilai cara pemerintah meluncurkan kebijakan tersebut terlalu cepat dan minim sosialisasi. Menurut dia, hal itu dapat memunculkan persepsi bahwa aturan di Indonesia mudah berubah secara drastis.

Akibatnya, minat berinvestasi di Indonesia berisiko menurun karena pelaku pasar membutuhkan kepastian regulasi. Dalam pandangan Bhima, ketidakpastian semacam ini ikut menekan nilai tukar rupiah.

Level psikologis rupiah

Bhima memperkirakan rupiah tidak berhenti di level Rp 18.000 per dolar AS jika tekanan pasar terus berlanjut. Ia menilai pelemahan bisa berakselerasi menuju Rp 19.000 karena level psikologis Rp 18.000 sudah ditembus.

Menurut dia, sentimen investor asing terhadap kebijakan pemerintah menjadi salah satu pemicu utama. Selain itu, pasar juga mencermati kondisi fiskal domestik yang dinilai masih berpotensi melebar.

Bhima menambahkan, defisit APBN bisa tertekan oleh beban subsidi energi dan biaya sejumlah program populis pemerintah. Ia menyebut pelaku pasar masih menilai efektivitas program tersebut, sementara anggaran yang digelontorkan cukup besar.

Kesimpulannya, rupiah masih menghadapi kombinasi tekanan eksternal dan internal yang belum menunjukkan tanda mereda. Selama pasokan dolar terbatas dan kepastian kebijakan belum menguat, pelemahan mata uang Garuda berisiko berlanjut.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!