Rupiah Dekati Rp17.800, Menkeu Sebut Tak Masuk Akal

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 01 Juni 2026 15:09 WIB 4
Rupiah Dekati Rp17.800, Menkeu Sebut Tak Masuk Akal

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan dan nyaris menyentuh level Rp17.800 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Di tengah pelemahan itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pergerakan rupiah tidak sejalan dengan kondisi ekonomi nasional yang dinilai masih kuat.

Pada penutupan perdagangan, dolar AS menguat 0,29 persen atau 52 poin ke level Rp17.795. Purbaya menyampaikan pandangan tersebut saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, Rabu, 27 Mei 2026, seraya menegaskan pemerintah belum melihat alasan fundamental yang cukup kuat untuk pelemahan rupiah sedalam itu.

Rupiah dan Fundamental Ekonomi

Purbaya menilai pelemahan rupiah yang terjadi saat ini tidak masuk akal jika dibandingkan dengan kondisi perekonomian Indonesia. Menurut dia, fundamental ekonomi nasional masih berada dalam posisi yang baik dan tidak menunjukkan gangguan besar.

Ia menegaskan bahwa pelemahan mata uang biasanya terjadi ketika ada masalah pada fondasi ekonomi. Dalam kasus saat ini, kata dia, kondisi tersebut justru tidak terlihat sehingga pergerakan rupiah dinilai sulit dijelaskan.

“Kalau ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus, ini nggak masuk akal sebenarnya,” ujar Purbaya. Ia menambahkan, pelemahan rupiah umumnya terjadi bila ada gangguan pada fundamental ekonomi.

APBN Dinilai Tetap Aman

Ketika ditanya soal kemungkinan dilakukan stress test terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara akibat tren pelemahan rupiah, Purbaya menyatakan tidak perlu. Ia menjelaskan bahwa pemerintah sudah menghitung berbagai skenario, termasuk saat harga minyak dunia berada di level US$100 per barel.

Menurut dia, simulasi tersebut sudah memasukkan asumsi kurs rupiah sehingga APBN tetap berada dalam batas yang aman. Dengan begitu, pemerintah tidak melihat perlunya menghitung ulang skenario fiskal hanya karena pelemahan rupiah saat ini.

Purbaya bahkan berkelakar bahwa dirinya yang justru stres, bukan APBN. “Ya, saya stress, nggak ada stress test, kita udah hitung,” ujarnya, sambil menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan asumsi yang relevan sejak awal.

Yield Obligasi Menurun

Meski rupiah melemah, Purbaya mengatakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah justru mengalami penurunan. Kondisi itu disebut terjadi karena langkah pemerintah melakukan intervensi melalui treasury operation di pasar Surat Berharga Negara.

Ia menjelaskan, tim di Direktorat Jenderal Perbendaharaan turut mengambil langkah membeli SBN agar pergerakan yield tetap terkendali. Menurut dia, kebijakan tersebut penting untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah tekanan pada rupiah.

Purbaya menilai penurunan yield menjadi sinyal bahwa pasar obligasi Indonesia masih mendapat kepercayaan. Dengan kondisi itu, pemerintah disebut lebih leluasa menjaga stabilitas tanpa menimbulkan gejolak baru di pasar.

Arus Modal Asing Menguat

Purbaya menyebut pasar obligasi yang stabil akan mendorong minat investor asing untuk masuk ke Indonesia. Menurut dia, kepercayaan terhadap bond market menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga aliran modal tetap positif.

Ia juga mengatakan pemerintah mulai melihat masuknya modal asing ke pasar obligasi domestik. Kondisi tersebut dinilai membantu memperkuat ketahanan pasar keuangan di tengah volatilitas nilai tukar.

Ke depan, pemerintah disebut akan kembali mengambil langkah untuk menjaga rupiah agar lebih stabil. Purbaya menegaskan tindakan lanjutan itu diharapkan dapat memberi dampak yang lebih signifikan terhadap kurs dan kepercayaan pasar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!