Penemuan batu rubi raksasa seberat 2,2 kilogram ditemukan di dekat Mogok, wilayah yang dikenal sebagai pusat tambang batu permata Myanmar.
Penemuan tersebut terjadi sebelum festival Tahun Baru tradisional Myanmar dan segera menarik perhatian industri global.
Menurut laporan Global New Light of Myanmar yang dikutip media asing, batu itu telah dipertunjukkan di kantor Presiden Naypyidaw.
Nilai dan dampak
Para ahli menilai rubi langka itu memiliki nilai tinggi karena kualitas warnanya yang unggul, tingkat transparansi yang tinggi, serta kilau permukaannya yang sangat reflektif.
Penemuan ini menambah kompleksitas pasar batu permata Myanmar, yang sudah lama menjadi fokus perhatian internasional.
Nilai batu dengan ukuran sekitar 11.000 karat diperkirakan melampaui beberapa catatan harga rubi dunia.
Rubi tersebut dipublikasikan di kantor Presiden Naypyidaw, menurut laporan Global New Light of Myanmar yang dikutip media asing.
Bagian pemerintah menekankan bahwa temuan ini menjadi kebanggaan nasional meski industri batu permata di Mogok terdampak konflik.
Namun, sumber pendanaan industri ini juga menjadi sorotan karena dugaan dukungan terhadap kelompok bersenjata yang terlibat konflik sejak kudeta militer 2021.
Rubi tersebut dinilai sebagai yang terbesar kedua yang pernah ditemukan di Myanmar, sehingga menarik minat para kolektor dan pedagang batu mulia dunia.
Meskipun ukuran rubi baru relatif kecil dibandingkan rubi terbesar yang ditemukan pada 1996, kualitasnya membuat para ahli menilai potensi harganya lebih tinggi.
Oleh karena itu temuan ini memperkuat posisi Myanmar sebagai salah satu produsen rubi utama dunia.
Kontroversi HAM
Penambangan rubi di Mogok telah lama jadi sorotan hak asasi manusia, karena praktik kerja paksa serta dampak lingkungan yang besar.
Aktivitas tambang juga disebut menjadi sumber pendanaan bagi kelompok bersenjata yang terlibat konflik sejak 2021.
Para pengamat menilai pembeli perhiasan perlu mempertanyakan asal-usul batu permata untuk mengurangi dampak kemanusiaan.
Beberapa badan internasional telah menyerukan transparansi rantai pasokan batu permata Myanmar dan tekanan terhadap pasar global untuk menghentikan pembelian rubi dari wilayah tersebut.
Laporan yang disusun berbagai lembaga menambah dimensi diplomatik pada isu ini karena mempengaruhi hubungan antar negara dan perusahaan.
Sejumlah merek internasional meninjau kebijakan pembelian, dengan beberapa di antaranya menunda transaksi rubi Myanmar sebagai respons etis.
Secara nasional, pemerintah dan industri batu permata Myanmar disebut perlu reformasi regulasi agar praktik tambang lebih bertanggung jawab.
Para analis ekonomi memperkirakan reputasi pasar rubi Myanmar bisa menurun jika isu HAM tidak ditangani secara tegas.
Menyikapi hal tersebut, beberapa pembeli besar dunia menilai perlu adanya standar pelaporan dampak sosial dan lingkungan yang lebih ketat pada operasi tambang.
