Rosan Respons IHSG Anjlok Usai Danantara Dibentuk

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 25 Mei 2026 19:41 WIB 3
Rosan Respons IHSG Anjlok Usai Danantara Dibentuk

Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, merespons pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang terjadi setelah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Ia menilai tekanan pasar tidak hanya dipengaruhi kebijakan baru, tetapi juga faktor teknikal dan sentimen global yang sedang membebani bursa.

IHSG tercatat melemah 0,82 persen ke level 6.318,50 pada penutupan perdagangan Rabu, 20 Mei. Pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, indeks kembali turun tajam hingga ditutup di level 6.094, atau merosot 233 poin setara 3,54 persen.

IHSG dan Tekanan Pasar

Rosan menyebut koreksi IHSG perlu dilihat secara lebih luas, karena pasar saham saat ini sedang menghadapi tekanan dari berbagai arah. Menurutnya, pergerakan indeks tidak bisa langsung dikaitkan dengan satu peristiwa tertentu.

Ia menjelaskan bahwa pelemahan pasar juga dipengaruhi faktor persepsi investor yang cenderung berhati-hati. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar kerap bereaksi lebih cepat terhadap sentimen negatif.

Rosan menegaskan bahwa kondisi tersebut masih wajar dalam mekanisme pasar modal. Ia menilai investor perlu membaca pergerakan saham dengan pendekatan yang lebih rasional.

Menurutnya, tekanan jangka pendek tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental perusahaan. Karena itu, ia mengingatkan agar pasar tidak menilai situasi hanya dari pergerakan harian indeks.

MSCI Jadi Sorotan Utama

Rosan menyinggung rebalancing MSCI sebagai salah satu faktor yang memengaruhi tekanan di bursa. Ia menyebut penyesuaian indeks global itu dapat mendorong investor asing melakukan aksi jual pada saham tertentu.

Ia mengatakan perubahan komposisi indeks sering memicu penyesuaian portofolio oleh manajer investasi. Dampaknya, saham yang keluar dari indeks berpotensi mengalami tekanan tambahan.

MSCI sendiri telah merilis hasil penyesuaian yang berlaku efektif setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026. Dari keputusan tersebut, sebanyak 18 saham Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI.

Rosan menilai kondisi itu menjadi salah satu alasan melemahnya sentimen pasar dalam jangka pendek. Meski demikian, ia menekankan bahwa penyesuaian indeks merupakan hal yang lazim dalam pasar global.

Fundamental BUMN Masih Kuat

Di tengah tekanan pasar, Rosan meminta investor tetap melihat fundamental perusahaan dalam jangka panjang. Ia menyebut kinerja badan usaha milik negara masih berada pada jalur yang kuat.

Ia mencontohkan bank-bank Himbara yang menurutnya masih mencatat performa positif. Bahkan, Rosan menilai imbal hasil dari sejumlah bank pelat merah masih berada di level yang menarik.

Rosan menambahkan bahwa kondisi tersebut menunjukkan fondasi bisnis BUMN belum terganggu. Karena itu, ia optimistis pelaku pasar akan kembali melihat nilai fundamental saat volatilitas mereda.

Ia juga menegaskan bahwa pasar saham kerap bergerak lebih dulu daripada data fundamental. Namun dalam jangka menengah, kekuatan kinerja perusahaan dinilai akan kembali menjadi penentu utama.

Prospek Pasar Jangka Menengah

Rosan mengaku tetap optimistis terhadap prospek pasar modal Indonesia. Ia meyakini tekanan yang terjadi saat ini bersifat sementara dan akan membaik seiring waktu.

Menurutnya, pasar tengah berada dalam fase yang dipengaruhi oleh persepsi dan sentimen. Meski begitu, ia menilai arah pemulihan tetap terbuka selama fundamental ekonomi tetap terjaga.

Rosan menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional dan perusahaan pelat merah masih dalam kondisi baik. Ia menilai hal itu menjadi pijakan penting bagi pemulihan kepercayaan investor.

Dengan demikian, Rosan melihat pelemahan IHSG sebagai koreksi yang perlu dicermati secara proporsional. Ia berharap pasar akan kembali stabil dalam horizon menengah hingga panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!