Rizki Fauzi Rawat Kios Ikan Hias Keluarga Hingga Punya Rumah

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 09:13 WIB 6
Rizki Fauzi Rawat Kios Ikan Hias Keluarga Hingga Punya Rumah

Merawat usaha keluarga yang telah dirintis bertahun-tahun bukan perkara mudah, apalagi ketika pasar terus berubah dan biaya operasional kerap menekan. Namun, Rizki Fauzi berhasil menjaga kios ikan hias milik keluarganya tetap berjalan selama 12 tahun hingga membawanya memiliki rumah sendiri.

Perjalanan itu bermula dari usaha yang dibangun sang ayah, Sudiyaman, sejak 2008 di Depo Pemasaran Ikan Hias, Jalan Bina Marga, Kota Bogor. Dari kios kecil berukuran 4x3 meter, bisnis yang semula sederhana itu tumbuh perlahan karena ketekunan, adaptasi, dan kemampuan membaca kebutuhan konsumen.

Kios ikan hias keluarga

Sudiyaman memulai usaha ikan hias setelah mendapat tawaran lapak dari Dinas Perikanan. Kesempatan itu disambutnya karena ia memang memiliki ketertarikan pada dunia aquascape.

Kios kecil tersebut kemudian diisi perlengkapan akuarium, media filter, dan ikan hias warna-warni. Dari langkah awal yang sederhana, usaha itu mulai membentuk basis pelanggan sendiri.

Perkembangan bisnis tidak terjadi dalam waktu singkat. Namun, konsistensi dalam menjaga kualitas produk membuat kios itu tetap bertahan di tengah persaingan.

Seiring waktu, usaha tersebut mulai dikenal sebagai Pesona Aquarium. Nama itu kemudian menjadi identitas yang melekat pada perjalanan bisnis keluarga ini.

Rizki menjaga kelangsungan usaha

Rizki mulai ikut membantu sejak 2014, saat ia melihat peluang usaha keluarga masih terbuka lebar. Ia mengaku sejak saat itu terus terlibat dalam operasional harian kios.

Kehadirannya membuat roda bisnis tetap berputar ketika kebutuhan tenaga kerja meningkat. Perannya tidak hanya membantu penjualan, tetapi juga menjaga ritme pelayanan kepada pelanggan.

Ia memilih bertahan karena memahami usaha keluarga membutuhkan komitmen jangka panjang. Sikap itu menjadi modal penting untuk menghadapi perubahan tren di pasar ikan hias.

Menurut Rizki, menjaga usaha keluarga bukan sekadar meneruskan warisan. Ada tanggung jawab untuk memastikan bisnis tetap relevan dan menghasilkan.

Tantangan bisnis ikan hias

Dinamika pasar menjadi tantangan terbesar dalam menjalankan bisnis ikan hias. Tren konsumen yang cepat berubah menuntut pelaku usaha terus peka terhadap permintaan.

Rizki harus memperhatikan jenis ikan yang sedang diminati pasar. Jika terlambat membaca pergeseran selera, penjualan dapat ikut terdampak.

Persaingan juga mendorong pelaku usaha untuk menjaga kualitas layanan. Dalam bisnis seperti ini, kecepatan merespons kebutuhan pembeli menjadi nilai tambah.

Meski tantangannya tidak ringan, Rizki menilai pengalaman justru membentuk ketahanan usaha. Dari situ ia belajar bahwa bertahan sering kali lebih penting daripada sekadar berkembang cepat.

Biaya operasional jadi kunci

Selain pasar, biaya operasional menjadi beban rutin yang tidak bisa diabaikan. Menjaga kualitas air membutuhkan perhatian khusus agar ikan tetap sehat dan layak jual.

Pompa udara atau aerator harus menyala selama 24 jam. Kondisi itu membuat penggunaan listrik menjadi salah satu pengeluaran utama.

Di sisi lain, filter juga perlu dibersihkan secara berkala agar fungsi penyaringan tetap optimal. Jika perawatan diabaikan, kualitas ikan dapat menurun dan berdampak pada pendapatan.

Meski menguras tenaga dan biaya, pengelolaan yang disiplin membuat usaha ini tetap bertahan. Dari ketekunan itulah Rizki akhirnya dapat menikmati hasil kerja kerasnya dengan memiliki rumah sendiri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!