Purbaya Targetkan Rupiah Menguat ke Rp15.000

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 02 Juni 2026 05:57 WIB 2
Purbaya Targetkan Rupiah Menguat ke Rp15.000

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan nilai tukar rupiah dapat kembali menguat ke level Rp15.000 per dolar Amerika Serikat dari posisi yang masih berada di atas Rp17.600. Target tersebut disampaikan di Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Jumat, 22 Mei 2026, seiring rencana pemerintah menyiapkan langkah baru untuk menopang mata uang Garuda. Purbaya menilai penguatan rupiah akan lebih efektif jika didukung oleh kebijakan yang menjaga devisa hasil ekspor tetap berada di dalam negeri. Menurutnya, arah kebijakan itu akan segera mulai dijalankan pada pekan depan.

Ia belum memaparkan secara rinci bentuk kebijakan yang akan diterapkan, namun menegaskan langkah tersebut dirancang untuk memperkuat arus devisa masuk. Pemerintah juga tengah menyiapkan aturan penempatan devisa hasil ekspor yang baru dan akan mulai berlaku pada Juni 2026. Salah satu poin penting dari aturan itu adalah kewajiban menempatkan devisa hasil ekspor di himpunan bank milik negara. Kebijakan ini diharapkan memperkuat fondasi rupiah sekaligus menjaga likuiditas di sistem keuangan domestik.

Rupiah dan agenda baru

Purbaya menyebut pemerintah akan mengambil tindakan baru terkait nilai tukar pada pekan depan. Ia menilai kebijakan itu perlu agar rupiah memiliki ruang penguatan yang lebih besar. Menurutnya, stabilitas kurs tidak bisa bergantung pada satu instrumen saja. Karena itu, ia mendorong sinergi antara kebijakan fiskal, arus devisa, dan stabilitas pasar keuangan.

Di hadapan wartawan, Purbaya menegaskan bahwa hasil devisa dari ekspor tidak boleh keluar dari Indonesia. Ia mencontohkan ekspor batu bara dan minyak kelapa sawit mentah sebagai sumber devisa yang semestinya memperkuat cadangan dalam negeri. Jika devisa itu bertahan di sistem perbankan nasional, likuiditas akan lebih kuat. Kondisi tersebut dinilai mendukung stabilitas rupiah secara bertahap.

Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin bergerak lebih agresif dalam menjaga nilai tukar. Rupiah yang berada di atas Rp17.600 per dolar AS dianggap masih terlalu lemah untuk target jangka menengah. Penguatan ke level Rp15.000 menjadi ambisi yang menuntut disiplin kebijakan. Namun, target itu dinilai masih mungkin dicapai bila aliran devisa dikelola lebih ketat.

Purbaya juga menekankan bahwa kebijakan baru akan segera memberi dampak ke pasar. Ia percaya pasar membutuhkan kepastian agar pelaku usaha dan investor memiliki ekspektasi yang lebih stabil. Dalam pandangannya, kepastian arah kebijakan akan membantu meredam tekanan terhadap rupiah. Hal itu sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin menjaga momentum penguatan mata uang nasional.

Aturan DHE mulai berlaku

Selain rencana intervensi terhadap nilai tukar, pemerintah akan menerapkan aturan penempatan devisa hasil ekspor yang baru mulai Juni 2026. Kebijakan ini dirancang untuk memastikan hasil ekspor tetap berputar di dalam negeri. Dengan begitu, tekanan terhadap rupiah dapat ditekan dari sisi pasokan valuta asing. Pemerintah menilai mekanisme tersebut akan membuat pengelolaan devisa lebih efektif.

Salah satu ketentuan utama dalam aturan tersebut adalah kewajiban menyimpan devisa hasil ekspor di bank-bank anggota Himbara. Kebijakan ini ditujukan untuk memperbesar dana yang mengendap di sistem keuangan nasional. Dengan dana yang lebih besar, ruang intermediasi perbankan juga ikut menguat. Pada akhirnya, kondisi itu dapat membantu menjaga stabilitas rupiah.

Purbaya menyebut kebijakan DHE yang baru akan segera berjalan mulai Juni. Ia menilai penguatan aturan ekspor itu akan saling melengkapi dengan langkah lain yang sedang disiapkan. Pemerintah ingin memastikan hasil ekspor tidak langsung berpindah ke luar negeri. Dengan demikian, pasokan devisa di dalam negeri diharapkan lebih terjaga.

Menurutnya, pengelolaan devisa yang lebih disiplin akan memperkuat seluruh instrumen kebijakan ekonomi. Arus dolar dari sektor ekspor memiliki peran penting dalam menahan pelemahan rupiah. Karena itu, penempatan devisa di perbankan nasional dipandang sebagai kebijakan strategis. Pemerintah berharap langkah ini dapat memberi efek nyata terhadap nilai tukar.

Intervensi obligasi dijaga

Di luar kebijakan devisa, Kementerian Keuangan sebelumnya juga telah mendorong stabilitas rupiah lewat intervensi di pasar obligasi. Langkah itu dilakukan agar imbal hasil atau yield obligasi tidak melonjak terlalu tinggi. Jika yield terlalu tinggi, risiko keluarnya modal asing bisa meningkat. Karena itu, stabilitas pasar surat utang menjadi bagian penting dari pengelolaan nilai tukar.

Purbaya menjelaskan bahwa pergerakan yield yang lebih rendah membuat investor asing tetap tertarik masuk. Menurutnya, ketika harga obligasi stabil, kepercayaan pasar cenderung membaik. Kondisi itu membuka ruang masuknya dana asing secara lebih konsisten. Arus modal tersebut turut membantu menopang rupiah di pasar валютa.

Ia menilai stabilitas obligasi dan stabilitas rupiah saling berkaitan erat. Ketika pasar surat utang tenang, tekanan pada mata uang domestik juga cenderung mereda. Sebaliknya, gejolak di pasar obligasi dapat memicu kekhawatiran investor. Karena itu, pemerintah berupaya menjaga keduanya secara bersamaan.

Ke depan, Purbaya menegaskan bahwa stabilitas harga obligasi akan terus dijaga. Pemerintah ingin memastikan asing tidak ragu untuk tetap menempatkan dananya di Indonesia. Dengan dukungan pasar obligasi yang sehat, rupiah diharapkan lebih mudah menguat. Strategi ini menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

Prospek rupiah ke depan

Target rupiah ke level Rp15.000 menjadi sinyal bahwa pemerintah memasang ekspektasi penguatan yang cukup ambisius. Meski begitu, pencapaian target tersebut bergantung pada efektivitas kebijakan yang dijalankan. Koordinasi antara fiskal, perbankan, dan pasar keuangan menjadi kunci utama. Tanpa itu, tekanan terhadap rupiah bisa kembali muncul.

Pasar kini menunggu rincian langkah baru yang disebut Purbaya akan dimulai pada pekan depan. Pelaku usaha dan investor membutuhkan kejelasan agar dapat menilai dampaknya terhadap arus modal. Jika kebijakan berjalan konsisten, sentimen terhadap rupiah berpotensi membaik. Kepastian itu juga penting bagi dunia usaha yang bergantung pada stabilitas kurs.

Aturan DHE yang akan berlaku pada Juni 2026 menjadi salah satu instrumen utama dalam menopang pasokan dolar. Kebijakan ini diharapkan memperkuat cadangan devisa dan menahan tekanan dari luar negeri. Pada saat yang sama, intervensi di pasar obligasi akan menjaga kepercayaan investor. Kombinasi keduanya menjadi fondasi penting bagi penguatan mata uang Garuda.

Dengan langkah yang berjalan paralel, pemerintah berharap rupiah bisa bergerak menuju level yang lebih kuat secara bertahap. Namun, pasar tetap akan mencermati implementasi di lapangan, bukan hanya target yang diumumkan. Jika disiplin kebijakan terjaga, peluang penguatan akan semakin terbuka. Dalam konteks ini, arah kebijakan pemerintah menjadi penentu utama masa depan rupiah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!