Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp17.700 per dolar Amerika Serikat belum mengganggu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pemerintah, kata dia, sudah mengantisipasi pergerakan nilai tukar dalam berbagai skenario penyusunan APBN.
Dalam asumsi APBN 2026, nilai tukar rupiah dipatok sebesar Rp16.500 per dolar AS. Purbaya menegaskan dampak pelemahan rupiah terhadap fiskal relatif kecil, terutama bila dibandingkan dengan lonjakan harga minyak dunia.
Rupiah dan APBN
Purbaya menyampaikan bahwa pemerintah telah menghitung seluruh risiko pelemahan rupiah sebelum APBN disusun. Menurutnya, perubahan nilai tukar tidak otomatis menambah defisit anggaran.
Ia menegaskan perhitungan tersebut sudah mencakup sejumlah skenario yang mungkin terjadi di pasar. Karena itu, pelemahan rupiah ke level Rp17.700 per dolar AS dinilai masih dalam batas yang dapat dikelola.
Saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Purbaya menjawab singkat bahwa tidak ada masalah besar yang muncul dari pelemahan rupiah. Ia menyebut seluruh dampaknya sudah diperhitungkan sejak awal.
Pemerintah, kata dia, tidak hanya melihat satu variabel dalam mengukur risiko fiskal. Perubahan kurs harus dibaca bersama faktor lain yang lebih dominan terhadap APBN.
Simulasi Fiskal Pemerintah
Menurut Purbaya, simulasi fiskal dilakukan untuk memastikan APBN tetap aman dalam berbagai kondisi. Simulasi itu mencakup pelemahan rupiah, perubahan harga energi, hingga tekanan eksternal global.
Ia menilai pelemahan rupiah memiliki dampak yang lebih kecil dibandingkan kenaikan harga minyak dunia. Oleh sebab itu, fokus utama pemerintah tetap pada variabel yang memberi tekanan paling besar.
Purbaya menyebut setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 akan menambah defisit APBN Rp6,8 triliun. Angka itu, menurutnya, jauh lebih signifikan dibandingkan efek pelemahan rupiah.
Meski tidak menyebut angka pasti untuk dampak kurs, ia memastikan besarnya masih jauh di bawah pengaruh harga minyak. Dengan begitu, ruang fiskal pemerintah dinilai tetap terjaga.
Defisit Masih Terkendali
Purbaya mengatakan kondisi APBN saat ini masih aman karena defisit tetap berada pada level yang terkendali. Hingga 30 April 2026, defisit tercatat Rp164,4 triliun atau 0,64 persen terhadap Produk Domestik Bruto.
Realisasi itu membaik dibandingkan posisi Maret 2026 yang mencatat defisit Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Perbaikan tersebut menunjukkan arah fiskal yang lebih sehat.
Ia menjelaskan, penurunan defisit didorong oleh keseimbangan primer yang kembali surplus Rp28 triliun. Surplus itu menjadi sinyal bahwa penerimaan dan belanja negara mulai bergerak lebih seimbang.
Menurut Purbaya, capaian tersebut membuktikan hitungan fiskal pemerintah tidak sesederhana proyeksi rata-rata para analis. Ia menilai kondisi keuangan negara justru berpotensi terus membaik ke depan.
Prospek Fiskal Ke Depan
Purbaya menegaskan pemerintah akan terus memantau perkembangan kurs rupiah dan harga minyak dunia. Kedua variabel itu tetap menjadi perhatian utama dalam menjaga stabilitas APBN.
Ia menyampaikan bahwa evaluasi berkala akan dilakukan agar kebijakan fiskal tetap responsif terhadap perubahan ekonomi global. Pemerintah juga akan menjaga agar defisit tidak melebar di luar kendali.
Dalam pandangannya, kekuatan APBN tidak hanya ditentukan oleh satu indikator, melainkan oleh kombinasi banyak faktor. Karena itu, setiap risiko harus dibaca secara menyeluruh, bukan parsial.
Dengan cadangan perhitungan yang telah disiapkan sejak awal, pemerintah optimistis APBN 2026 tetap aman. Purbaya menilai kondisi saat ini masih memberi ruang bagi kebijakan fiskal untuk bergerak lebih stabil.
