Purbaya: Intervensi Obligasi Rp2 Triliun per Hari Belum Terserap

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 23 Mei 2026 06:04 WIB 8
Purbaya: Intervensi Obligasi Rp2 Triliun per Hari Belum Terserap

Pemerintah meningkatkan intervensi di pasar obligasi dengan target pembelian mencapai Rp 2 triliun per hari untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, serapan dana yang masuk baru sekitar Rp 600 miliar, jauh di bawah target yang disiapkan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi itu menandakan tekanan jual di pasar obligasi belum terlalu besar. Meski demikian, dolar Amerika Serikat masih bergerak kuat dan sempat menembus kisaran Rp 17.705 per dolar AS.

Purbaya menyampaikan, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan harga obligasi negara tetap terkendali dan nilai tukar rupiah tidak terus tertekan. Ia menegaskan pemerintah sudah mulai masuk ke pasar obligasi sejak Kamis pekan lalu, tetapi akan terus melihat perkembangan sebelum mengambil kebijakan lanjutan. Saat ini, intervensi yang dilakukan masih mengandalkan pengelolaan kas pemerintah atau cash management. Pemerintah belum mengaktifkan bond stabilization framework yang melibatkan lembaga lain seperti PT Sarana Multi Infrastruktur.

Intervensi Rupiah di Obligasi

Purbaya mengatakan target pembelian obligasi negara sebesar Rp 2 triliun per hari belum sepenuhnya terserap oleh pasar. Dari target tersebut, dana yang berhasil masuk baru Rp 600 miliar pada hari sebelumnya. Menurut dia, rendahnya serapan itu menunjukkan penjual di pasar obligasi belum banyak. Kondisi tersebut juga membuat pemerintah menilai harga obligasi masih relatif mudah dijaga.

Ia menegaskan intervensi ini bertujuan menjaga agar harga bond tetap terkendali di tengah tekanan pada rupiah. Pemerintah memulai langkah masuk ke pasar obligasi sejak Kamis pekan lalu. Setelah itu, tim keuangan negara terus memantau pergerakan transaksi dan minat pasar. Purbaya menyebut evaluasi dilakukan dari hari ke hari sebelum menentukan langkah berikutnya.

Dalam keterangannya, Purbaya menyebut pemerintah tidak ingin tergesa-gesa menggunakan skema yang lebih besar. Saat ini, fokus utama masih pada stabilisasi melalui mekanisme internal pemerintah. Ia menilai kondisi pasar belum sampai pada level yang memerlukan penanganan lebih agresif. Karena itu, kebijakan yang diambil masih bersifat bertahap dan terukur.

Dolar AS Masih Menguat

Di sisi lain, dolar AS masih menunjukkan penguatan terhadap rupiah dalam beberapa perdagangan terakhir. Mata uang Negeri Paman Sam itu sempat bergerak di kisaran Rp 17.700 per dolar AS. Bahkan, pada perdagangan Selasa sore, dolar AS menembus level Rp 17.705. Penguatan tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah memperkuat intervensi di pasar obligasi.

Tekanan pada rupiah membuat pemerintah berupaya menjaga stabilitas pasar keuangan melalui beberapa jalur. Intervensi di pasar obligasi dipandang sebagai salah satu instrumen untuk mengurangi gejolak. Purbaya menilai langkah itu penting agar sentimen negatif tidak meluas. Dengan demikian, rupiah diharapkan dapat kembali memperoleh ruang penguatan.

Purbaya sebelumnya menyampaikan bahwa intervensi yang dilakukan akan terus berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Ia meyakini kondisi rupiah bisa lebih stabil jika pasar obligasi tetap terjaga. Menurut dia, kehadiran investor asing juga mulai membantu memperkuat pasar. Karena itu, pemerintah optimistis tekanan terhadap rupiah dapat mereda secara bertahap.

Cash Management Jadi Pilihan

Purbaya menjelaskan, langkah yang ditempuh saat ini masih berada dalam koridor cash management pemerintah. Skema itu dipilih karena pemerintah menilai tekanan pasar belum terlalu parah. Ia menegaskan belum ada kebutuhan untuk segera mengaktifkan bond stabilization framework. Mekanisme tersebut baru akan digunakan jika kondisi pasar memburuk.

Menurut Purbaya, bond stabilization framework akan melibatkan institusi lain seperti PT Sarana Multi Infrastruktur. Namun, untuk saat ini pemerintah belum memanggil pihak-pihak terkait untuk masuk dalam skema itu. Ia menyebut situasi pasar masih relatif lumayan dan bisa dikelola. Karena itu, kebijakan yang berjalan masih difokuskan pada pengendalian internal kas negara.

Purbaya juga menekankan bahwa pemerintah terus menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan pasar obligasi. Setiap langkah dinilai berdasarkan perkembangan harian di pasar. Jika tekanan meningkat, opsi kebijakan yang lebih luas masih terbuka untuk digunakan. Namun, untuk saat ini, pemerintah memilih pendekatan yang lebih hati-hati.

Prospek Rupiah Ke Depan

Purbaya menilai dalam beberapa minggu ke depan rupiah berpeluang kembali bergerak lebih stabil. Ia menyebut masuknya asing ke pasar obligasi menjadi salah satu faktor penopang. Selain itu, intervensi yang dilakukan secara bertahap diharapkan dapat menahan volatilitas. Pemerintah pun akan terus hadir di pasar untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar.

Ia mengatakan pemerintah akan berupaya masuk ke pasar obligasi setiap hari dengan target pembelian Rp 2 triliun. Langkah itu diharapkan menjaga likuiditas sekaligus memberi sinyal bahwa pemerintah serius mempertahankan stabilitas. Purbaya menegaskan arah kebijakan masih akan disesuaikan dengan kondisi pasar. Evaluasi dilakukan secara berkala agar intervensi tetap efektif.

Dalam jangka pendek, penguatan dolar AS masih menjadi tantangan utama bagi rupiah. Meski begitu, pemerintah menilai pasar obligasi masih cukup kuat untuk menyerap intervensi lanjutan. Jika tekanan mereda, rupiah berpeluang bergerak lebih sehat dalam perdagangan berikutnya. Pemerintah pun berharap stabilitas dapat tercapai tanpa harus memakai skema yang lebih besar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!