Purbaya: Intervensi Obligasi Rp2 Triliun Baru Terserap Rp600 Miliar

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 24 Mei 2026 11:49 WIB 6
Purbaya: Intervensi Obligasi Rp2 Triliun Baru Terserap Rp600 Miliar

Pemerintah terus mengintervensi pasar obligasi negara untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah penguatan dolar Amerika Serikat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut target pembelian obligasi Rp 2 triliun per hari, namun realisasi serapan baru mencapai Rp 600 miliar.

Menurut Purbaya, kondisi itu menandakan tekanan jual di pasar obligasi belum terlalu besar. Meski demikian, dolar AS masih bergerak kuat hingga menembus level Rp 17.705 per dolar AS pada perdagangan Selasa sore.

Intervensi obligasi jaga rupiah

Purbaya mengatakan pemerintah mulai masuk ke pasar obligasi sejak Kamis pekan lalu. Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ia menilai arus jual di pasar surat utang masih relatif kecil. Karena itu, harga obligasi dinilai masih bisa dikendalikan.

Dalam keterangannya di Jakarta Pusat, Kamis (19/5/2026), Purbaya menyebut target pembelian harian sebesar Rp 2 triliun belum sepenuhnya terserap. Realisasi yang baru mencapai Rp 600 miliar dinilai menunjukkan pasar belum mengalami tekanan yang berat. Ia menegaskan pemerintah akan terus memantau perkembangan transaksi. Kebijakan lanjutan akan ditentukan berdasarkan kondisi pasar.

Purbaya juga menyampaikan bahwa pemerintah ingin memastikan harga bond tetap stabil. Menurutnya, stabilitas pasar obligasi penting agar gejolak rupiah tidak semakin dalam. Ia menambahkan bahwa respons pelaku pasar masih cukup tenang. Hal itu menjadi alasan pemerintah belum mengambil langkah yang lebih agresif.

Meski intervensi sudah berjalan, penguatan dolar AS tetap memberi tekanan pada rupiah. Mata uang Negeri Paman Sam itu sempat bergerak di kisaran Rp 17.700 per dolar AS. Kondisi tersebut membuat pemerintah harus menjaga keseimbangan di pasar obligasi. Tujuannya agar sentimen negatif tidak meluas ke pasar keuangan lainnya.

Serapan pasar masih terbatas

Purbaya menilai serapan obligasi yang masih rendah tidak sepenuhnya menjadi sinyal buruk. Sebaliknya, ia melihat hal itu sebagai tanda bahwa penjualan di pasar belum terlalu ramai. Dengan demikian, upaya stabilisasi masih bisa dilakukan tanpa intervensi besar-besaran. Pemerintah disebut ingin menjaga pasar tetap terkendali.

Ia mengakui bahwa pembelian obligasi dilakukan secara bertahap. Dalam pandangannya, strategi bertahap memberi ruang bagi pasar untuk menyesuaikan diri. Pemerintah tidak ingin memicu volatilitas baru melalui tindakan yang terlalu cepat. Karena itu, pendekatan yang ditempuh masih bersifat hati-hati.

Menurut Purbaya, dalam beberapa waktu ke depan rupiah diharapkan kembali menguat. Ia menyebut kehadiran asing di pasar obligasi mulai terlihat sehingga membantu stabilisasi. Kombinasi intervensi pemerintah dan masuknya investor dinilai bisa memperbaiki sentimen. Harapannya, pasar valas menjadi lebih tenang dalam waktu dekat.

Purbaya juga menegaskan bahwa stabilitas harga obligasi akan terus dipantau setiap hari. Pemerintah ingin memastikan mekanisme pasar berjalan tanpa gangguan berarti. Jika kondisi berubah, kebijakan dapat disesuaikan kembali. Namun untuk saat ini, situasinya masih dinilai relatif aman.

Cash management masih digunakan

Purbaya menjelaskan langkah intervensi yang berjalan saat ini masih sebatas pengelolaan kas pemerintah atau cash management. Artinya, pemerintah belum mengaktifkan skema penstabilan obligasi yang lebih luas. Mekanisme tersebut baru akan dipakai bila tekanan pasar meningkat tajam. Dengan begitu, respons fiskal tetap disesuaikan dengan kebutuhan.

Ia menyebut terdapat dua jalur yang dapat digunakan pemerintah untuk menjaga pasar. Jalur pertama adalah melalui kerangka kerja bersama lembaga lain, sedangkan jalur kedua memakai kas pemerintah sendiri. Saat ini, pemerintah baru menggunakan jalur yang kedua. Karena itu, keterlibatan pihak lain seperti PT Sarana Multi Infrastruktur belum dilakukan.

Purbaya menegaskan kondisi saat ini belum masuk kategori darurat. Menurutnya, tekanan pasar masih relatif bisa ditangani dengan instrumen yang ada. Ia menilai belum ada alasan untuk mengaktifkan seluruh perangkat stabilisasi. Namun, opsi tersebut tetap disiapkan jika dibutuhkan sewaktu-waktu.

Dalam penjelasannya, Purbaya menyebut pemerintah akan memanggil SMI dan pihak terkait lain bila skema yang lebih luas diperlukan. Langkah itu baru akan ditempuh jika kondisi pasar memburuk. Untuk saat ini, kebijakan yang dipakai masih fokus pada pengendalian kas. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjaga kepercayaan pasar.

Dampak dolar masih terasa

Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan rupiah dalam beberapa hari terakhir. Saat dolar menguat, pasar obligasi dan pasar valuta asing biasanya sama-sama menghadapi tekanan. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk bergerak lebih cepat menjaga stabilitas. Tujuannya agar pelemahan rupiah tidak berlanjut.

Purbaya sebelumnya sudah menyampaikan bahwa pemerintah akan masuk ke bond market secara bertahap. Ia juga mengklaim investor asing mulai kembali masuk sehingga memberi dukungan tambahan. Kombinasi itu diyakini dapat memperbaiki kondisi pasar dalam waktu dekat. Karena itu, ia optimistis rupiah bisa kembali stabil.

Dalam pernyataannya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (18/5), Purbaya meminta pembelian obligasi dilakukan setiap hari. Ia menargetkan serapan Rp 2 triliun per hari untuk menjaga pasar tetap terkontrol. Menurutnya, kehadiran pemerintah di pasar menjadi sinyal bahwa stabilitas menjadi prioritas. Langkah ini juga diharapkan menahan gejolak nilai tukar.

Ke depan, pemerintah akan terus memantau pergerakan rupiah dan obligasi secara berkala. Setiap perubahan kondisi pasar akan menjadi dasar untuk menyesuaikan kebijakan. Purbaya berharap langkah stabilisasi yang berjalan saat ini dapat meredam tekanan eksternal. Dengan demikian, pasar keuangan domestik bisa bergerak lebih tenang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!