Purbaya Heran Rupiah Melemah saat Fundamental Ekonomi Kuat

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 02 Juni 2026 10:02 WIB 5
Purbaya Heran Rupiah Melemah saat Fundamental Ekonomi Kuat

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran sekaligus stres melihat nilai tukar rupiah melemah cukup dalam terhadap dolar Amerika Serikat. Pada penutupan perdagangan Selasa, dolar AS tercatat berada di level Rp 17.795, nyaris menyentuh Rp 17.800. Purbaya menilai pelemahan itu tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang disebut masih baik. Pernyataan tersebut disampaikan saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, Rabu.

Ia menyebut pelemahan rupiah seharusnya terjadi ketika ada gangguan pada fundamental ekonomi, bukan saat kondisi ekonomi dinilai stabil. Karena itu, Purbaya menilai pergerakan kurs saat ini sulit dijelaskan secara logis. Meski demikian, pemerintah disebut telah menyiapkan respons untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Salah satu fokus utama adalah menjaga agar pasar obligasi tetap terkendali.

Rupiah dan fundamental ekonomi

Purbaya mengatakan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini terasa janggal karena fundamental ekonomi Indonesia dinilai cukup baik. Ia menegaskan, tekanan pada mata uang biasanya muncul ketika ada masalah di sektor dasar perekonomian. Dalam pandangannya, kondisi seperti ini justru menimbulkan kebingungan di pasar. Ia bahkan menyebut situasi tersebut tidak masuk akal.

Menurut dia, pelemahan rupiah tidak semestinya muncul dalam situasi ekonomi yang relatif solid. Ia menilai faktor-faktor yang menopang perekonomian nasional masih berada pada jalur yang baik. Karena itu, ia mempertanyakan alasan di balik pelemahan kurs yang terjadi belakangan. Pernyataan itu menunjukkan pemerintah juga tengah mencermati dinamika pasar dengan serius.

Purbaya menambahkan bahwa kondisi ini membuat dirinya ikut merasa stres. Namun, ia menegaskan stres tersebut tidak mengubah kesiapan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi. Fokus utama tetap diarahkan pada upaya meredam gejolak pasar keuangan. Pemerintah, kata dia, akan terus memantau perkembangan nilai tukar dengan cermat.

APBN dinilai masih aman

Terkait kemungkinan dilakukan stress test ulang terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Purbaya menyatakan hal itu tidak perlu. Ia menjelaskan bahwa simulasi sebelumnya sudah memasukkan berbagai skenario, termasuk jika harga minyak dunia menembus US$ 100 per barel. Dalam simulasi tersebut, asumsi pergerakan rupiah juga telah diperhitungkan. Karena itu, ia menilai APBN masih dalam posisi aman.

Purbaya menegaskan pemerintah tidak perlu menghitung ulang APBN hanya karena rupiah melemah dalam beberapa waktu terakhir. Menurut dia, proyeksi fiskal yang disusun sebelumnya sudah cukup menampung risiko pasar. Ia menyebut perhitungan yang dilakukan telah mencakup berbagai kemungkinan terburuk. Dengan demikian, ruang fiskal pemerintah tetap terjaga.

Ia bahkan menyinggung bahwa kondisi saat ini tidak membuatnya khawatir secara berlebihan terhadap APBN. Pemerintah, kata dia, sudah menyiapkan dasar perhitungan yang memadai sejak awal. Oleh sebab itu, pelemahan kurs tidak otomatis memicu perubahan besar pada rencana anggaran. Purbaya menilai kehati-hatian yang dilakukan sebelumnya sudah cukup untuk menghadapi situasi ini.

Yield obligasi ikut turun

Di tengah pelemahan rupiah, Purbaya menyebut imbal hasil atau yield obligasi pemerintah justru turun. Menurut dia, penurunan itu tidak lepas dari langkah pemerintah melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara. Aksi tersebut dilakukan melalui treasury operation untuk menjaga stabilitas pasar. Pemerintah disebut ikut membeli obligasi agar tekanan pada yield dapat ditekan.

Purbaya menjelaskan bahwa langkah itu diambil oleh tim di Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Tujuannya adalah menjaga agar pergerakan yield tetap terkendali di tengah gejolak nilai tukar. Dengan stabilnya pasar obligasi, investor dinilai akan lebih percaya diri. Kondisi itu juga dapat membantu menjaga arus modal tetap masuk ke Indonesia.

Ia menilai pasar obligasi yang stabil menjadi salah satu penopang penting bagi stabilitas ekonomi nasional. Selama bond market terkendali, minat investor asing untuk berinvestasi di Indonesia akan lebih terjaga. Purbaya menyebut tanda-tanda masuknya modal asing ke pasar obligasi sudah mulai terlihat. Pemerintah, katanya, akan terus memastikan kondisi tersebut tetap berlanjut.

Langkah lanjutan pemerintah

Purbaya memastikan pemerintah akan kembali mengambil tindakan untuk membantu menstabilkan rupiah. Ia menyebut langkah berikutnya akan memberi dampak yang lebih signifikan terhadap nilai tukar. Meski tidak merinci bentuk intervensinya, ia menegaskan pemerintah tidak tinggal diam. Respons kebijakan akan terus disesuaikan dengan perkembangan pasar.

Menurut dia, kombinasi stabilitas bond market dan intervensi pemerintah dapat membantu menjaga kepercayaan investor. Kepercayaan itu penting agar aliran dana asing tetap mengalir ke Indonesia. Dalam pandangannya, pasar keuangan yang tenang akan mendukung penguatan rupiah secara bertahap. Karena itu, koordinasi antarinstansi terus diperkuat.

Adapun berdasarkan data Bloomberg, dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa menguat 0,29 persen atau 52 poin ke level Rp 17.795. Angka tersebut membuat rupiah berada sangat dekat dengan level Rp 17.800 per dolar AS. Kondisi ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah klaim fundamental ekonomi yang masih kuat. Pemerintah kini menunggu efektivitas langkah stabilisasi yang sedang dijalankan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!