Purbaya Heran Rupiah Melemah ke Rp17.795 per Dolar AS

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 31 Mei 2026 00:01 WIB 2
Purbaya Heran Rupiah Melemah ke Rp17.795 per Dolar AS

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran sekaligus stres melihat pelemahan nilai tukar rupiah yang mendalam terhadap dolar Amerika Serikat. Pada penutupan perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, rupiah tercatat hampir menyentuh Rp17.800 per dolar AS, dengan posisi Rp17.795. Menurut Purbaya, kondisi itu tidak selaras dengan fundamental ekonomi Indonesia yang dinilainya masih bagus. Ia menyampaikan pandangan tersebut saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, Rabu.

Purbaya menilai pelemahan rupiah kali ini tidak masuk akal jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi domestik. Ia menegaskan bahwa pelemahan mata uang biasanya terjadi ketika ada gangguan pada fundamental. Karena itu, pemerintah disebut terus memantau pergerakan pasar secara ketat. Meski demikian, ia menyebut dirinya justru yang merasa stres menghadapi situasi tersebut.

Rupiah dan Fundamental Ekonomi

Purbaya menilai kondisi rupiah saat ini tidak sejalan dengan indikator ekonomi nasional yang relatif baik. Ia menyebut pelemahan tajam biasanya muncul ketika ada tekanan serius pada fondasi ekonomi. Dalam pandangannya, situasi yang terjadi sekarang berbeda karena fundamental Indonesia tidak menunjukkan masalah besar. Oleh sebab itu, ia menganggap pelemahan rupiah yang terjadi terlalu dalam untuk dijelaskan secara logis.

Menurut Purbaya, kekhawatiran utama pemerintah bukan hanya pada pergerakan kurs, tetapi juga pada persepsi pasar terhadap ekonomi Indonesia. Ia menilai kepercayaan pelaku pasar menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Jika fundamental dinilai sehat, seharusnya tekanan terhadap rupiah tidak berlangsung sedalam ini. Pemerintah, kata dia, terus mencermati arah pergerakan pasar agar gejolak tidak meluas.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintah melihat pelemahan rupiah bukan semata persoalan teknis pasar. Ada keyakinan bahwa kondisi ekonomi dasar masih mampu menopang stabilitas. Namun, pelemahan yang terjadi tetap membutuhkan respons kebijakan yang hati-hati. Dalam konteks itu, otoritas fiskal dan moneter dinilai perlu menjaga komunikasi yang konsisten kepada pasar.

APBN Dinilai Tetap Aman

Ketika ditanya mengenai kemungkinan melakukan stress test ulang terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Purbaya menjawab tidak. Ia menjelaskan bahwa pemerintah sudah lebih dahulu menghitung berbagai skenario, termasuk jika harga minyak dunia mencapai US$100 per barel. Dalam simulasi tersebut, asumsi nilai tukar rupiah juga telah dimasukkan ke dalam perhitungan. Karena itu, ia menilai tidak ada kebutuhan untuk menghitung ulang APBN.

Purbaya menegaskan bahwa simulasi fiskal yang sudah dibuat sebelumnya cukup memadai untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Menurut dia, pemerintah telah menyiapkan skenario ekstrem agar APBN tetap terjaga. Hal ini membuat tekanan kurs yang terjadi saat ini belum dianggap sebagai ancaman langsung terhadap postur anggaran. Ia bahkan menyebut, jika ada yang stres, maka dirinya yang merasakannya, bukan APBN.

Keyakinan itu mencerminkan bahwa pemerintah masih menempatkan APBN dalam posisi yang terkendali. Dengan skenario yang telah disiapkan sejak awal, risiko pelemahan rupiah dinilai sudah diperhitungkan. Meski demikian, kondisi pasar tetap memerlukan pemantauan berkelanjutan. Pemerintah disebut akan bertindak bila situasi bergerak lebih jauh dari asumsi awal.

Obligasi Jadi Penahan Tekanan

Di tengah pelemahan rupiah, Purbaya mengatakan imbal hasil obligasi pemerintah justru mengalami penurunan. Menurut dia, hal itu tidak lepas dari intervensi pemerintah melalui Surat Berharga Negara atau treasury operation. Langkah tersebut dilakukan oleh jajaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk membantu menjaga kestabilan pasar. Dengan begitu, tekanan pada yield obligasi dapat diredam.

Purbaya menilai kestabilan pasar obligasi sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor. Selama bond market tetap terkendali, arus modal asing dinilai lebih mudah masuk ke Indonesia. Kondisi ini juga membantu menjaga minat investor terhadap surat utang pemerintah. Ia menyebut pemerintah ingin memastikan instrumen keuangan domestik tetap menarik di mata pasar global.

Menurutnya, penurunan yield menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan pemerintah mulai memberi hasil. Meski rupiah masih melemah, pasar obligasi tidak mengalami tekanan sebesar yang dikhawatirkan. Situasi ini memberi ruang bagi pemerintah untuk menahan gejolak lebih lanjut. Purbaya menilai strategi tersebut penting agar stabilitas keuangan tetap terjaga.

Langkah Lanjutan Pemerintah

Purbaya menyampaikan bahwa pemerintah masih menyiapkan tindakan lanjutan untuk membantu penguatan rupiah. Ia mengatakan langkah baru akan dilakukan agar dampaknya terhadap nilai tukar lebih signifikan. Pemerintah, menurut dia, tidak akan berhenti pada intervensi yang sudah berjalan saat ini. Kebijakan tambahan akan ditempuh jika memang dibutuhkan untuk menenangkan pasar.

Ia menegaskan bahwa aliran modal asing ke pasar obligasi Indonesia mulai terlihat masuk kembali. Kondisi tersebut dinilai sebagai sinyal positif bagi pasar keuangan nasional. Dengan bond market yang terjaga, investor asing disebut memiliki alasan lebih kuat untuk tetap menanamkan dana. Pemerintah berharap tren ini bisa menjaga stabilitas rupiah dalam waktu dekat.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah ditutup pada level Rp17.795 per dolar AS, setelah dolar menguat 0,29 persen atau 52 poin. Angka tersebut membuat pasar mencermati arah kebijakan pemerintah ke depan. Di sisi lain, pernyataan Purbaya menunjukkan bahwa otoritas fiskal belum melihat perlunya kepanikan. Pemerintah tetap mengandalkan kombinasi intervensi pasar dan pengelolaan fundamental ekonomi untuk meredam tekanan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!