Sarden Kalengan Viral, Benarkah Termasuk Ultra Processed Food?

Lifestyle Clara Monica 31 Mei 2026 01:03 WIB 3
Sarden Kalengan Viral, Benarkah Termasuk Ultra Processed Food?

Media sosial tengah diramaikan oleh perdebatan soal sarden kalengan dan produk sejenis yang disebut-sebut bukan termasuk Ultra Processed Food atau UPF. Diskusi ini membuat banyak orang mempertanyakan kembali anggapan lama bahwa semua makanan kalengan otomatis tidak sehat. Padahal, status UPF tidak selalu identik dengan buruk, dan produk non-UPF juga tidak otomatis lebih baik. Lalu, bagaimana sebenarnya posisi sarden kalengan dalam klasifikasi pangan modern?

Berbeda dengan ikan segar, sarden kalengan memang melalui proses pengolahan dan pengawetan agar lebih tahan lama. Proses ini membuat produk tersebut masuk dalam kategori processed food, bukan sekadar bahan pangan mentah. Namun, tingkat pemrosesan dan jenis bahan tambahan yang digunakan tetap menjadi penentu utama dalam penilaian apakah suatu produk tergolong UPF atau tidak. Karena itu, komposisi pada label kemasan perlu dibaca dengan lebih cermat.

Sarden Kalengan dan UPF

Perdebatan soal sarden kalengan muncul karena banyak orang mengira semua produk olahan otomatis masuk kategori ultra processed food. Dalam klasifikasi NOVA, penilaian tidak hanya melihat apakah makanan sudah diproses, tetapi juga seberapa jauh proses itu dilakukan. Produk yang masih didominasi bahan pangan utuh, dengan proses sederhana, belum tentu tergolong UPF. Karena itu, sarden kalengan tidak bisa disamakan begitu saja dengan makanan olahan ultra-proses lainnya.

Pada sejumlah produk, bahan utama yang digunakan tetap berupa ikan, baik sarden, makarel, maupun tuna. Persentase ikan pada tiap merek berbeda, ada yang mencapai 60 persen dan ada pula yang hanya berada di kisaran 20 persen. Selain ikan, umumnya terdapat air, minyak, saus tomat, garam, gula, cabai, bawang, dan rempah-rempah. Komposisi seperti ini pada beberapa produk masih menyerupai bahan masakan rumahan.

Meski begitu, keberadaan bahan tambahan tetap membuat sebagian produk kalengan lebih dekat ke kategori UPF. Hal itu terjadi ketika produsen menambahkan pengawet, penyedap, pengental, atau bahan lain yang umum dipakai dalam industri pangan. Dengan kata lain, status sarden kalengan sangat bergantung pada formulasi tiap merek. Karena itu, tidak ada satu jawaban tunggal yang berlaku untuk semua produk.

Kandungan Dalam Produk Kalengan

Garam natrium menjadi salah satu komponen yang lazim ditemukan pada ikan kalengan karena berfungsi memperpanjang daya simpan. Selain itu, garam juga membantu memperkuat cita rasa agar produk tetap lezat setelah disterilisasi. Saus tomat kerap ditambahkan bukan hanya untuk rasa, tetapi juga untuk menjaga kestabilan produk selama penyimpanan. Sementara itu, minyak digunakan agar tekstur ikan tetap lembut dan tidak terlalu kering.

Pada beberapa merek, komposisinya cenderung sederhana dan hanya berisi bahan yang mudah dikenali konsumen. Namun ada pula produk yang memakai pati termodifikasi untuk membuat saus lebih kental dan tidak mudah terpisah. Bahan seperti asam sitrat juga kerap digunakan sebagai pengatur keasaman agar rasa dan kualitas produk tetap stabil. Setiap tambahan tersebut memiliki fungsi teknis tertentu dalam menjaga mutu makanan kalengan.

Pengolahan dengan suhu tinggi menjadi salah satu alasan produk kalengan bisa bertahan lebih lama tanpa mudah rusak. Proses sterilisasi ini membunuh mikroorganisme yang dapat menurunkan kualitas makanan. Karena itulah, makanan kalengan tidak dapat dibandingkan langsung dengan ikan segar dari sisi daya simpan. Namun, semakin banyak bahan tambahan yang dipakai, semakin besar pula kemungkinan produk tersebut dikategorikan sebagai pangan ultra-proses.

Bahan Tambahan Yang Dipakai

Beberapa produk sarden kalengan juga menambahkan natrium benzoat sebagai pengawet. Bahan ini berfungsi menghambat pertumbuhan mikroba dan membantu menjaga produk tetap stabil selama penyimpanan. Selain itu, ada MSG atau mononatrium L-glutamat yang dipakai untuk memperkuat rasa gurih. Dalam keseharian, bahan ini lebih dikenal luas sebagai penyedap rasa.

Produsen tertentu juga menggunakan pengemulsi atau pengental seperti gum untuk menjaga tekstur saus tetap konsisten. Bahan-bahan semacam ini penting agar produk tidak mudah terpisah ketika disimpan dalam jangka waktu lama. Pada beberapa produk, pengemulsi membantu tampilan dan konsistensi makanan tetap menarik saat dibuka. Penggunaan bahan tambahan tersebut umumnya bertujuan menjaga kualitas, rasa, dan stabilitas produk.

Dalam klasifikasi NOVA, bahan seperti pengawet, penguat rasa, pewarna, pengental, dan emulsifier sering dikaitkan dengan UPF. Alasannya, komponen tersebut lebih umum ditemukan pada pangan industri dibandingkan masakan rumahan. Meski demikian, penggunaannya tetap harus mengikuti batas keamanan yang diatur regulator. Karena itu, keberadaan bahan tambahan belum tentu langsung membuat suatu produk berbahaya.

Cara Memilih Produk Lebih Sehat

Konsumen sebaiknya membaca label komposisi sebelum membeli sarden kalengan. Perhatikan jumlah bahan tambahan, kadar natrium, serta persentase ikan yang digunakan dalam produk. Semakin sederhana komposisinya, biasanya semakin mudah pula menilai kualitasnya. Pilihan seperti ini membantu konsumen menentukan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan gizi.

Sarden kalengan dapat menjadi pilihan praktis ketika waktu memasak terbatas. Produk ini juga tetap mengandung protein dari ikan yang dibutuhkan tubuh. Namun, konsumsi berlebihan tetap perlu dihindari, terutama bila kandungan garamnya tinggi. Seimbangkan dengan makanan segar agar pola makan tetap terjaga.

Debat soal sarden kalengan menunjukkan bahwa label UPF tidak bisa dipahami secara hitam-putih. Tidak semua makanan kalengan otomatis buruk, dan tidak semua produk non-UPF pasti sehat untuk dikonsumsi berlebihan. Kuncinya ada pada komposisi, cara pengolahan, dan porsi konsumsi sehari-hari. Dengan pemahaman yang tepat, konsumen bisa memilih produk secara lebih bijak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!