Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah telah mengguyur sekitar Rp 2 triliun per hari ke pasar obligasi untuk meredakan tekanan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Langkah ini ditempuh saat nilai tukar rupiah melemah tajam pada periode Januari hingga April, dengan sumber dana berasal dari pengelolaan kas pemerintah.
Purbaya menegaskan intervensi tersebut dilakukan untuk menahan kenaikan imbal hasil atau yield obligasi agar kembali ke level sebelumnya. Ia menyebut saldo kas pemerintah, termasuk Saldo Anggaran Lebih atau SAL, masih sangat memadai untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Intervensi Obligasi Jaga Rupiah
Purbaya menjelaskan pelemahan rupiah pada awal tahun tidak lepas dari arus keluar dana asing yang cukup besar dari pasar obligasi. Menurutnya, tekanan terbesar justru terjadi di bond market dan bukan semata dari pasar lain.
Ia menyebut total outflow dari Januari hingga April hanya sekitar Rp 21 triliun, sehingga pemerintah menilai masih mampu mengendalikan gejolak. Dengan jumlah itu, pemerintah memilih bergerak cepat agar kepercayaan investor tidak terus menurun.
Target utama intervensi adalah mengembalikan yield obligasi ke level sebelumnya. Purbaya menilai stabilitas harga surat utang akan membantu memperbaiki sentimen pasar dan menahan tekanan terhadap rupiah.
Ia menegaskan bahwa dana yang digunakan berasal dari pengelolaan kas pemerintah secara optimal. Pemerintah, kata dia, tidak hanya mengandalkan satu sumber dana dalam menjalankan langkah tersebut.
SAL Jadi Penopang Utama
Purbaya menyebut SAL pemerintah saat ini telah meningkat menjadi Rp 434 triliun. Angka itu, menurutnya, memberi ruang yang cukup besar bagi pemerintah untuk menjaga pasar tetap stabil.
Dalam konferensi pers APBN KiTA di Kementerian Keuangan, ia sempat menekankan bahwa kondisi kas negara masih longgar. Ia bahkan menyebut napas fiskal pemerintah masih panjang untuk menghadapi tekanan pasar.
Meski demikian, Purbaya tidak merinci seluruh sumber dana yang dipakai untuk intervensi pasar obligasi domestik. Ia hanya memastikan bahwa pemerintah memakai semua sumber dana yang tersedia secara optimal.
Ia juga menghindari penjelasan lebih jauh saat ditanya apakah dana tersebut sepenuhnya berasal dari SAL. Sikap itu menunjukkan pemerintah masih menjaga fleksibilitas dalam mengelola likuiditas negara.
SMI dan INA Disiapkan
Purbaya mengatakan pemerintah masih memiliki cadangan bantuan lain jika kondisi pasar memburuk. Di antaranya adalah PT Sarana Multi Infrastruktur atau SMI, serta Indonesia Investment Authority atau INA.
Menurutnya, kedua lembaga tersebut berada di bawah kendali langsung Kementerian Keuangan dan dapat dimanfaatkan sewaktu-waktu. Namun, hingga kini pemerintah belum perlu memanggil pihak lain untuk ikut menjaga pasar.
Ia menilai kapasitas pemerintah saat ini masih cukup untuk melakukan cash management sendiri. Karena itu, intervensi belum melibatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara.
Purbaya menegaskan keputusan itu diambil karena pemerintah masih mampu menjaga stabilitas harga obligasi tanpa bantuan tambahan. Selama kekuatan internal masih mencukupi, ia memilih mengandalkan instrumen yang sudah ada.
Pasar Tunggu Efek Kebijakan
Langkah pembelian obligasi harian ini diperkirakan akan terus diperhatikan pelaku pasar. Investor menunggu apakah intervensi tersebut efektif mengurangi tekanan pada rupiah dan menstabilkan imbal hasil surat utang.
Di saat yang sama, pasar juga memantau arah kebijakan fiskal dan likuiditas pemerintah ke depan. Sentimen ini penting karena pergerakan dolar AS masih menjadi faktor utama yang menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Jika stabilitas obligasi berhasil terjaga, kepercayaan investor asing berpeluang kembali pulih. Kondisi itu dapat membantu arus modal masuk ke pasar keuangan domestik.
Pemerintah menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan pasar tetap tenang. Dengan cadangan kas yang masih kuat, ruang intervensi dinilai masih terbuka lebar.
