Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah telah mengguyur pasar obligasi sebesar Rp 2 triliun per hari untuk meredakan tekanan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Langkah ini ditempuh setelah terdeteksi arus keluar dana yang cukup besar dari pasar obligasi sejak awal tahun. Purbaya menyebut strategi tersebut ditujukan untuk menstabilkan harga obligasi dan mengembalikan imbal hasil ke level sebelumnya. Pernyataan itu disampaikan dalam Konferensi Pers APBN KiTA di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (19/5/2026).
Purbaya menjelaskan dana intervensi berasal dari pengelolaan kas pemerintah, termasuk Saldo Anggaran Lebih atau SAL yang kini mencapai Rp 434 triliun. Ia menilai posisi kas negara masih sangat memadai untuk menjaga stabilitas pasar tanpa perlu tergesa meminta dukungan pihak lain. Meski begitu, ia enggan merinci seluruh sumber dana yang digunakan dalam kebijakan tersebut. Pemerintah, kata dia, masih mengandalkan pengelolaan likuiditas secara optimal agar tekanan di pasar mereda.
Intervensi pasar obligasi
Purbaya menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas harga obligasi negara. Menurut dia, tekanan pada rupiah tidak hanya datang dari sentimen global, tetapi juga dari keluarnya dana asing dari bond market. Ia menilai arus keluar sebesar Rp 21 triliun dari Januari hingga April masih dapat diatasi dengan kekuatan kas yang ada. Karena itu, pemerintah memilih bertindak cepat agar gejolak tidak melebar ke pasar keuangan lain.
Dalam penjelasannya, Purbaya menyebut dana sebesar Rp 2 triliun per hari digelontorkan secara terukur. Langkah tersebut diambil untuk mendorong yield kembali ke level yang dianggap lebih wajar. Ia menilai kebijakan itu penting agar investor kembali memiliki kepercayaan terhadap surat utang pemerintah. Dengan kondisi itu, rupiah diharapkan memperoleh penyangga tambahan dari sisi pasar obligasi.
Menurut Purbaya, pemerintah tidak sedang melakukan aksi panik, melainkan menjalankan manajemen kas yang tersedia. Ia menekankan bahwa dana negara digunakan secara efisien untuk meredam volatilitas yang muncul di pasar. Pemerintah juga, lanjutnya, masih memiliki ruang fiskal yang cukup untuk melanjutkan intervensi bila diperlukan. Selama tekanan belum mereda, stabilisasi akan terus menjadi prioritas utama.
Purbaya menambahkan bahwa keberadaan kas pemerintah yang kuat memberi keleluasaan dalam mengambil keputusan cepat. Ia menyebut SAL yang meningkat menjadi Rp 434 triliun sebagai salah satu penopang utama kebijakan tersebut. Menurut dia, kondisi itu membuat pemerintah tidak perlu menunda langkah saat pasar membutuhkan sinyal stabilisasi. Dengan cadangan yang ada, pemerintah dapat bergerak tanpa harus menunggu bantuan eksternal.
Sumber dana pemerintah
Ketika ditanya apakah dana intervensi berasal sepenuhnya dari SAL, Purbaya tidak memberikan jawaban rinci. Ia menegaskan bahwa pemerintah memanfaatkan semua sumber dana yang tersedia secara optimal. Namun, ia tidak membuka detail komposisi pendanaan yang digunakan untuk menjaga pasar obligasi. Sikap itu menunjukkan pemerintah masih menjaga fleksibilitas dalam pengelolaan kas negara.
Purbaya menyampaikan bahwa strategi yang dijalankan bukan hanya soal menyalurkan dana, tetapi juga memastikan efektivitas penggunaannya. Ia menilai pengelolaan kas yang baik dapat memberi efek lebih cepat terhadap stabilitas pasar. Karena itu, pemerintah memilih pendekatan yang dinamis sesuai kebutuhan kondisi harian. Dalam situasi seperti ini, kecepatan respons dinilai sama pentingnya dengan besarnya dana.
Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah masih memiliki opsi pendanaan lain jika kondisi pasar memburuk. Beberapa badan usaha di bawah Kementerian Keuangan, seperti PT Sarana Multi Infrastruktur atau Indonesia Investment Authority, disebut sebagai cadangan bantuan. Meski demikian, Purbaya menegaskan opsi itu belum perlu digunakan saat ini. Pemerintah masih yakin kemampuan internal cukup untuk menjaga ketahanan pasar obligasi.
Menurut Purbaya, penggunaan dana pemerintah saat ini masih sebatas cash management untuk menjaga harga bond tetap stabil. Ia menekankan bahwa intervensi dilakukan karena pemerintah mampu bergerak sendiri. Dengan kata lain, belum ada kebutuhan untuk menarik dukungan lembaga lain secara lebih luas. Kebijakan ini sekaligus menunjukkan keyakinan pemerintah terhadap kekuatan likuiditas yang tersedia.
Rupiah dan investor asing
Langkah stabilisasi itu juga diarahkan untuk mengembalikan minat investor asing ke pasar domestik. Purbaya menilai keluarnya dana dari pasar obligasi turut memberi tekanan pada rupiah dalam beberapa bulan terakhir. Karena itu, pemulihan kepercayaan pasar menjadi bagian penting dari strategi yang ditempuh. Jika yield kembali stabil, arus dana asing diharapkan mulai membaik.
Ia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi dari Januari hingga April tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar obligasi. Menurutnya, ketika capital outflow muncul, dampaknya langsung terasa pada nilai tukar. Oleh sebab itu, intervensi di bond market dianggap sebagai langkah awal yang logis. Pemerintah ingin memastikan tekanan terhadap rupiah tidak berlarut-larut.
Purbaya juga menyinggung bahwa pemerintah masih memiliki banyak cadangan jika situasi mendesak. Selain SAL, ada dukungan dari SMI dan INA yang dapat diaktifkan bila dibutuhkan. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa Danantara belum diperlukan dalam skema stabilisasi saat ini. Hal itu karena pemerintah menilai kekuatan yang ada masih mencukupi.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berupaya menjaga kepercayaan pelaku pasar sekaligus menahan gejolak nilai tukar. Purbaya memastikan bahwa kebijakan akan terus disesuaikan dengan kondisi pasar harian. Ia menilai stabilitas obligasi dan rupiah merupakan dua hal yang saling berkaitan erat. Karena itu, intervensi akan tetap dijalankan selama diperlukan untuk menjaga ketahanan pasar keuangan.
Posisi fiskal pemerintah
Kenaikan SAL menjadi Rp 434 triliun memberi ruang lebih besar bagi pemerintah dalam menjaga kestabilan pasar. Purbaya menyebut angka tersebut sebagai bukti bahwa napas fiskal pemerintah masih panjang. Kondisi itu membuat kebijakan intervensi dapat dilakukan tanpa mengganggu kebutuhan belanja negara secara langsung. Dalam pandangannya, ketahanan kas adalah modal penting saat pasar menghadapi tekanan.
Pemerintah juga ingin menunjukkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berfokus pada belanja, tetapi juga pada stabilisasi pasar. Purbaya menilai kekuatan kas yang ada perlu dipakai secara tepat sasaran. Karena itu, setiap langkah diarahkan agar memberi dampak nyata terhadap sentimen investor. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga pasar tetap tenang di tengah ketidakpastian global.
Meski intervensi dilakukan secara agresif, Purbaya mengisyaratkan bahwa kebijakan tersebut masih berada dalam batas aman. Ia menegaskan dana yang digunakan merupakan bagian dari pengelolaan kas pemerintah yang memang tersedia. Dengan demikian, stabilisasi pasar tidak mengorbankan daya tahan fiskal negara. Pemerintah pun diyakini masih memiliki ruang untuk bertindak bila tekanan berlanjut.
Ke depan, pemerintah akan terus memantau pergerakan rupiah, yield obligasi, dan aliran modal asing. Purbaya menegaskan bahwa semua instrumen akan dipakai secara hati-hati agar pasar kembali stabil. Ia berharap langkah yang diambil dapat memulihkan kepercayaan dan meredakan tekanan di pasar keuangan. Jika efektif, kebijakan ini berpotensi menjadi penyangga penting bagi stabilitas ekonomi nasional.
