Purbaya Bidik Rupiah Kembali ke Rp15.000

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 25 Mei 2026 11:18 WIB 6
Purbaya Bidik Rupiah Kembali ke Rp15.000

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan nilai tukar rupiah kembali menguat ke level Rp15.000 per dolar Amerika Serikat dari posisi yang masih berada di atas Rp17.600. Ia menyebut pemerintah akan menyiapkan langkah baru mulai pekan depan untuk mendorong penguatan mata uang Garuda.

Menurut Purbaya, salah satu fokus utama kebijakan itu adalah memastikan devisa hasil ekspor tidak keluar dari Indonesia. Pemerintah juga akan menerapkan aturan penempatan DHE baru mulai Juni 2026, termasuk kewajiban menyimpan devisa di bank-bank Himbara.

Rupiah Jadi Fokus Purbaya

Purbaya menyampaikan target penguatan rupiah itu saat ditemui di Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Jumat, 22 Mei 2026. Ia menegaskan pemerintah ingin melihat pergerakan nilai tukar yang lebih sehat dan stabil ke depan. Target Rp15.000 per dolar AS disebut sebagai arah yang ingin dicapai melalui kebijakan yang terukur. Meski begitu, ia belum membeberkan secara rinci instrumen yang akan digunakan.

Ia mengatakan langkah baru tersebut akan mulai berjalan pada pekan depan. Menurut dia, kebijakan itu diharapkan dapat memberi dampak langsung terhadap pasar valuta asing. Pemerintah ingin memastikan pelaku pasar melihat arah kebijakan yang jelas. Dengan begitu, rupiah diharapkan mendapat ruang penguatan yang lebih besar.

Purbaya menilai pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari aliran devisa yang belum optimal kembali ke dalam negeri. Karena itu, ia menempatkan kebijakan nilai tukar sebagai prioritas jangka pendek. Pemerintah disebut ingin menjaga agar tekanan eksternal tidak semakin memperlemah mata uang domestik. Langkah tersebut juga diharapkan menjaga kepercayaan investor.

Dalam pernyataannya, Purbaya menekankan bahwa kebijakan ini bukan hanya soal angka tukar, tetapi juga soal kepastian ekonomi. Ia menilai stabilitas nilai rupiah penting bagi dunia usaha, impor, dan perencanaan anggaran. Pemerintah, kata dia, akan terus memantau dampak kebijakan secara berkala. Jika berjalan sesuai harapan, penguatan rupiah dapat terjadi bertahap.

DHE Didorong Tetap Di Dalam Negeri

Pemerintah akan mulai menjalankan aturan baru terkait devisa hasil ekspor pada Juni 2026. Salah satu poin pentingnya adalah kewajiban penempatan DHE di himpunan bank milik negara atau Himbara. Kebijakan ini dirancang agar dana hasil ekspor tidak langsung keluar dari sistem keuangan domestik. Dengan demikian, likuiditas valas di dalam negeri diharapkan lebih terjaga.

Purbaya menjelaskan, kebijakan tersebut penting untuk mendukung stabilitas kurs rupiah. Menurut dia, devisa dari ekspor batu bara maupun crude palm oil sebaiknya tetap berada di Indonesia. Jika dana itu tertahan di dalam negeri, pasokan valuta asing akan lebih kuat. Kondisi tersebut dinilai bisa membantu menekan tekanan terhadap rupiah.

Ia menambahkan bahwa kebijakan DHE sebelumnya akan diperkuat dengan aturan yang mulai berlaku pada pertengahan tahun ini. Pemerintah ingin memastikan mekanisme penempatan devisa berjalan lebih efektif. Dengan pengawasan yang lebih ketat, eksportir diharapkan mematuhi aturan yang berlaku. Tujuannya adalah menjaga agar manfaat ekspor benar-benar dirasakan perekonomian nasional.

Selain itu, kebijakan DHE juga diharapkan memperkuat cadangan dan arus devisa perbankan nasional. Pemerintah memandang langkah ini sebagai bagian dari strategi stabilisasi makroekonomi. Ketika devisa tetap berada di dalam negeri, tekanan pada pasar valuta asing berpotensi berkurang. Hal itu juga dapat membantu menjaga kepercayaan pelaku usaha.

Stabilitas Pasar Obligasi Dijaga

Selain melalui DHE, Kementerian Keuangan sebelumnya juga mendorong stabilitas rupiah lewat intervensi di pasar obligasi. Langkah ini dilakukan agar imbal hasil atau yield obligasi tidak melonjak terlalu tinggi. Kenaikan yield yang berlebihan dapat memicu keluarnya modal asing dari pasar keuangan domestik. Karena itu, stabilitas pasar surat utang menjadi salah satu perhatian utama pemerintah.

Purbaya menyebut kondisi pasar obligasi yang lebih tenang akan membuat investor asing tetap nyaman masuk. Menurut dia, ketika yield turun, minat asing untuk menempatkan dana di Indonesia cenderung meningkat. Arus modal yang masuk akan membantu menjaga tekanan pada rupiah. Dengan demikian, kebijakan fiskal dan pasar keuangan dapat saling menguatkan.

Ia mengatakan pemerintah akan terus menjaga agar harga obligasi tetap stabil ke depan. Stabilitas itu dinilai penting untuk menciptakan kepastian bagi investor domestik maupun asing. Jika pasar obligasi tidak bergejolak, risiko pelemahan rupiah dapat ditekan. Pada akhirnya, kebijakan ini diharapkan mendukung kondisi makroekonomi yang lebih sehat.

Menurut Purbaya, sinergi antara penempatan DHE dan stabilitas obligasi menjadi kunci penguatan rupiah. Ia menilai strategi tersebut tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan kebijakan lain. Pemerintah akan memantau efektivitasnya secara berkelanjutan. Jika hasilnya sesuai target, rupiah berpeluang bergerak lebih kuat secara bertahap.

Harapan Pasar Ke Depan

Target penguatan rupiah ke Rp15.000 per dolar AS memberi sinyal bahwa pemerintah ingin memperbaiki fondasi pasar keuangan. Kebijakan yang diarahkan pada DHE dan obligasi menunjukkan fokus pada pasokan valas dan arus modal. Pelaku pasar kini menunggu detail langkah yang akan diumumkan pekan depan. Kejelasan kebijakan dipandang penting agar ekspektasi pasar tidak liar.

Di sisi lain, kebijakan baru ini juga akan diuji oleh kondisi eksternal yang masih penuh tantangan. Pergerakan dolar AS, harga komoditas, dan sentimen investor global tetap memengaruhi rupiah. Karena itu, efektivitas kebijakan domestik perlu didukung disiplin fiskal dan koordinasi lintas otoritas. Tanpa itu, penguatan rupiah bisa berjalan lebih lambat dari target.

Bagi eksportir, aturan baru DHE dapat mengubah pola pengelolaan kas dan penempatan dana. Namun, pemerintah berharap mekanisme tersebut justru memperkuat ekosistem keuangan nasional. Bank-bank Himbara diposisikan sebagai penampung utama agar likuiditas lebih terjaga. Dengan basis devisa yang lebih kuat, pasar dinilai lebih tahan terhadap guncangan.

Ke depan, perhatian publik akan tertuju pada implementasi kebijakan yang dijanjikan Purbaya. Pasar menunggu apakah langkah tersebut cukup kuat untuk mendorong rupiah menuju level yang ditargetkan. Jika konsisten dijalankan, kebijakan itu berpotensi memberi dampak positif bagi stabilitas ekonomi. Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada eksekusi dan respons pasar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!