Produk UMKM Tenun Indonesia Tembus Pasar Malaysia

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 25 Mei 2026 18:24 WIB 3
Produk UMKM Tenun Indonesia Tembus Pasar Malaysia

Produk UMKM Indonesia kembali menunjukkan daya saingnya di pasar luar negeri, setelah Kainnesia, pemenang Pertapreneur Aggregator 2024, menerima pesanan sarung tenun dari Malaysia senilai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta. Keberhasilan ini menegaskan bahwa tenun nusantara tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga potensi bisnis yang kuat di pasar internasional.

Didukung ratusan penenun dari berbagai daerah, Kainnesia berhasil memperluas jangkauan usahanya ke sejumlah ajang global dan membuka peluang kerja sama dengan buyer dari Jepang, Australia, hingga Malaysia. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan UMKM yang terarah dapat menghasilkan pertumbuhan usaha, serapan tenaga kerja, dan nilai tambah ekonomi yang lebih besar.

Kainnesia dorong tenun ke global

Kainnesia membuktikan bahwa produk berbasis budaya dapat bersaing di pasar yang lebih luas. Perusahaan ini menggabungkan warisan tenun dengan strategi bisnis yang relevan, sehingga menarik perhatian pembeli mancanegara. Pesanan dari Malaysia menjadi salah satu bukti bahwa kualitas produk lokal mampu memenuhi selera pasar ekspor.

Pendiri sekaligus CEO Kainnesia, Nur Salam, menjelaskan bahwa pertumbuhan usaha tidak berhenti pada perusahaan inti. Dampaknya juga dirasakan oleh 37 UMKM mitra yang terlibat dalam rantai pasok dan produksi. Total tenaga kerja dari seluruh mitra tersebut kini mencapai lebih dari 400 orang.

Menurut Nur, pencapaian ini menunjukkan bahwa program Pertapreneur Aggregator mendorong pertumbuhan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Model ini membantu UMKM naik kelas melalui perluasan pasar dan penguatan kapasitas usaha. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh satu merek, tetapi juga oleh ekosistem usaha di sekitarnya.

Pesanan Malaysia jadi sorotan

Pesanan sarung tenun senilai US$ 50 ribu dari Malaysia menjadi sorotan karena menunjukkan minat pasar luar negeri terhadap produk UMKM Indonesia. Nilai transaksi tersebut setara sekitar Rp 800 juta dan menjadi langkah penting bagi perluasan ekspor Kainnesia. Kepercayaan buyer asing biasanya lahir dari konsistensi kualitas dan kemampuan memenuhi permintaan secara berkelanjutan.

Kainnesia menyebut peluang bisnis terbuka setelah keikutsertaan dalam berbagai ajang internasional. Produk mereka tampil di Osaka World Expo Japan 2025, Korea Import Fair di Seoul, Jogja Fashion Week 2025, dan Inacraft 2025. Dari rangkaian pameran itu, perusahaan memperoleh kesempatan bertemu dengan calon pembeli dari sejumlah negara.

Bagi Kainnesia, keberhasilan menembus pasar luar negeri juga menjadi ruang untuk memperkenalkan tenun sebagai produk bernilai tinggi. Nur Salam menilai tenun bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang perlu terus dikembangkan. Ia berharap generasi muda melihat tenun sebagai bagian dari masa depan, bukan hanya peninggalan masa lalu.

Pertapreneur perkuat UMKM binaan

Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menilai kehadiran Kainnesia menjadi contoh nyata dari tujuan Pertapreneur Aggregator. Program ini dirancang agar UMKM tidak bergerak sendiri, melainkan tumbuh bersama dalam ekosistem yang saling menguatkan. Dengan pola tersebut, pelaku usaha kecil memiliki peluang lebih besar untuk memperluas pasar dan meningkatkan kapasitas produksi.

Rudi menjelaskan bahwa semakin banyak UMKM aggregator, semakin banyak pula UMKM lain yang bisa naik kelas. Dampaknya mencakup pembukaan lapangan kerja baru, peningkatan daya saing, dan penguatan ekonomi lokal. Ia menekankan bahwa kolaborasi seperti ini dapat menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi daerah.

Menurutnya, UMKM binaan Kainnesia diharapkan menjadi penggerak ekonomi yang memberi efek berantai. Produk yang laku di pasar ekspor akan memacu permintaan bahan baku, produksi, dan distribusi di tingkat lokal. Karena itu, penguatan UMKM perlu dilihat sebagai strategi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

UMKM naik kelas berkelanjutan

Program Pertapreneur Aggregator sendiri telah melibatkan ratusan UMKM sejak diluncurkan pada 2022. Melalui program ini, peserta memperoleh dukungan teknis, pendampingan manajerial, hingga akses pasar yang lebih luas. Skema tersebut dirancang agar UMKM memiliki pondasi usaha yang lebih kuat dalam jangka panjang.

Keterlibatan banyak pelaku usaha menunjukkan bahwa pembinaan yang tepat dapat menghasilkan dampak nyata. Saat UMKM mendapatkan akses informasi, jaringan, dan pasar, peluang untuk berkembang menjadi lebih besar. Hal itu juga mendorong lahirnya usaha yang lebih adaptif terhadap kebutuhan konsumen.

Kasus Kainnesia menjadi contoh bahwa pengembangan produk lokal dapat berjalan seiring dengan ekspansi bisnis. Tenun Indonesia yang dipromosikan secara konsisten mampu menarik perhatian pasar luar negeri tanpa meninggalkan akar budayanya. Dalam konteks ini, UMKM bukan hanya unit ekonomi kecil, tetapi motor pertumbuhan yang dapat membawa nama Indonesia ke panggung global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!