Produk Daur Ulang Sampah Tembus Pasar Global

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 31 Mei 2026 07:45 WIB 3
Produk Daur Ulang Sampah Tembus Pasar Global

Produk berbahan daur ulang kini tidak lagi dipandang sebagai barang sisa, melainkan komoditas kreatif bernilai tinggi. Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah membuktikan bahwa sampah botol plastik hingga limbah keramik dapat diolah menjadi produk bernilai jual. Di ajang Trade Expo Indonesia 2025, mereka menunjukkan bahwa inovasi hijau juga mampu menembus pasar internasional.

Robries dan Lumosh menjadi contoh pelaku usaha yang berhasil mengubah persoalan sampah menjadi peluang bisnis. Keduanya mengandalkan dukungan pendampingan, desain, dan kurasi dari Indonesia Design Development Center, unit di bawah Kementerian Perdagangan. Upaya itu membantu produk mereka masuk ke pasar Singapura, Malaysia, hingga Uni Eropa.

Daur Ulang Sampah Bernilai Jual

CEO dan Founder Robries, Syukriyatun Niamah, menjelaskan perusahaannya berdiri pada 2018. Perusahaan itu fokus mengolah sampah tutup botol plastik menjadi furnitur dengan tampilan menarik. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan.

Menurut Syukriyatun, tantangan utama bukan hanya produksi, tetapi juga edukasi pasar. Produk berbahan daur ulang masih dianggap tidak umum oleh sebagian masyarakat. Karena itu, Robries harus terus memperkenalkan nilai fungsional dan estetika dari produknya.

Ia menyampaikan bahwa pemasaran produk daur ulang memerlukan pendekatan yang berbeda. Konsumen perlu memahami bahwa bahan baku sampah plastik dapat diolah menjadi barang premium. Tanpa edukasi yang memadai, pasar cenderung lambat menerima produk tersebut.

Robries juga harus memastikan bahan baku tersedia secara konsisten. Sumber utama yang digunakan adalah sampah tutup botol plastik yang tidak selalu mudah diperoleh. Kondisi itu membuat perusahaan harus menjaga kualitas produksi secara ketat.

Tantangan Pasokan Bahan Baku

Syukriyatun menegaskan ketersediaan sampah sebagai bahan baku menjadi persoalan penting. Pasokan yang tidak stabil dapat memengaruhi kesinambungan produksi. Di sisi lain, perusahaan tetap dituntut menjaga standar kualitas agar produk tetap kompetitif.

Untuk mengatasi hal tersebut, Robries terus mencari pasokan sampah yang sesuai dengan kebutuhan bahan dasar. Upaya ini dilakukan agar proses produksi tidak terhambat. Perusahaan juga berupaya menjaga konsistensi desain dan mutu produk di setiap lini.

Sejak berdiri pada 2018, Robries telah memproduksi sekitar 25 ribu produk. Jumlah sampah yang berhasil diolah mencapai 145 ton. Capaian itu menunjukkan bahwa model bisnis berbasis daur ulang memiliki skala yang menjanjikan.

Produk Robries kini tidak hanya beredar di pasar lokal, tetapi juga telah masuk ke sejumlah pasar luar negeri. Singapura, Malaysia, dan Uni Eropa menjadi tujuan ekspor yang mulai dirambah. Perusahaan juga memiliki distributor resmi di Singapura dan Malaysia, serta menyiapkan perluasan ke Uni Eropa.

IDDC Dorong UMKM Ekspor

Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kementerian Perdagangan melalui Indonesia Design Development Center terus mendampingi UMKM agar mampu menembus pasar global. Pendampingan itu mencakup kurasi produk, penguatan desain, dan pengenalan pasar ekspor. Fasilitas tersebut juga diberikan kepada pelaku usaha yang lolos seleksi untuk ikut dalam TEI 2025.

TEI 2025 menjadi ajang internasional yang diikuti 8.045 pembeli dari 130 negara. Pameran ini membuka peluang pertemuan langsung antara produsen lokal dan calon pembeli mancanegara. Bagi UMKM, kesempatan tersebut menjadi pintu masuk untuk membangun jejaring dagang baru.

Syukriyatun mengakui peran IDDC sangat membantu proses ekspansi bisnisnya. Ia menyebut bimbingan mengenai pengemasan produk dan arah pasar menjadi faktor penting. Dukungan itu membuat Robries lebih siap bersaing di pasar ekspor.

Ia menambahkan, selama empat tahun pihaknya mengajukan Good Design Award dengan pendampingan IDDC. Tahun ini, RPS akhirnya meraih penghargaan Best Design Indonesia dan Good Design Award Japan. Pencapaian tersebut dinilai berdampak besar terhadap penetrasi pasar, terutama di sektor ekspor.

Limbah Keramik Jadi Produk

Co Founder Lumosh, Raymond Tjiadi, juga merasakan manfaat pendampingan dari IDDC. Perusahaannya mengolah limbah keramik menjadi produk rumah tangga bernilai seni. Hasil produksinya meliputi piring, gelas, dan berbagai perabot dengan desain artistik.

Raymond menjelaskan bahwa pengolahan limbah keramik bukan bidang yang umum di kalangan UMKM. Literatur dan sumber pengetahuan terkait bidang itu masih terbatas. Karena itu, pengembangan produk membutuhkan riset yang lebih serius sejak awal.

Melalui IDDC, Lumosh memperoleh bantuan riset sekaligus arahan desain. Pendampingan itu membantu perusahaan menampilkan identitas produk secara lebih representatif. Konsumen pun dapat melihat bahwa barang yang dihasilkan benar-benar berasal dari limbah keramik daur ulang.

Selain pendampingan desain, IDDC juga menjadi ruang konsultasi bagi pelaku UMKM terkait pasar global. Lumosh memperoleh masukan mengenai negara mana yang paling sesuai untuk dimasuki. Dukungan ini membantu perusahaan menyusun strategi ekspansi yang lebih terarah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!