Presiden Prabowo Subianto mengingatkan Danantara agar mengelola aset negara senilai hampir US$ 1 triliun atau sekitar Rp 17.000 triliun dengan penuh kehati-hatian. Pesan itu disampaikan saat dirinya menghadiri panen raya di lokasi tambak Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK), Kebumen, Jawa Tengah, pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Prabowo menegaskan, lembaga tersebut memegang tanggung jawab besar karena mengelola sekitar 1.040 Badan Usaha Milik Negara. Ia meminta seluruh jajaran Danantara memastikan dana dan aset rakyat tidak bocor, tidak menguap, dan benar-benar memberi manfaat bagi generasi mendatang.
Danantara dan Aset Negara
Prabowo menyebut Danantara sebagai pengelola kekayaan negara yang nilainya sangat besar. Dalam penjelasannya, lembaga itu menangani sekitar 1.040 BUMN dengan total aset mendekati US$ 1 triliun. Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp 17.000 triliun.
Menurut Prabowo, besarnya aset yang dikelola menuntut tata kelola yang disiplin dan transparan. Ia menekankan bahwa uang yang dikelola adalah uang rakyat, sehingga tidak boleh terjadi kebocoran. Karena itu, pengawasan dan tanggung jawab menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Pesan tersebut disampaikan di hadapan jajaran pemerintah dan melalui tayangan resmi Sekretariat Presiden. Prabowo juga menilai pengelolaan yang baik akan menentukan kuat atau tidaknya fondasi ekonomi nasional. Dengan demikian, Danantara diposisikan sebagai instrumen penting dalam menjaga kekayaan negara.
Peringatan Soal Kebocoran Dana
Dalam sambutannya, Prabowo meminta agar tidak ada dana yang hilang dalam pengelolaan aset negara. Ia menilai kebocoran kecil sekalipun dapat berdampak besar mengingat nilai yang dikelola sangat besar. Oleh sebab itu, ia menuntut seluruh pejabat terkait bekerja dengan penuh integritas.
Prabowo juga menyinggung pentingnya disiplin dalam mengurus seluruh aset BUMN. Ia mengatakan pengelolaan harus dilakukan secara hati-hati agar hasilnya dapat dirasakan masyarakat luas. Pernyataan itu menunjukkan fokus pemerintah pada efisiensi dan akuntabilitas.
Ia menambahkan bahwa aset negara bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan amanah publik. Setiap rupiah yang dikelola, kata dia, harus kembali untuk kepentingan rakyat. Dengan begitu, kepercayaan publik terhadap pengelolaan kekayaan negara dapat terjaga.
Peran Dony Oskaria
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga memperkenalkan Dony Oskaria sebagai Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN. Penyebutan tersebut menandai peran penting Dony dalam struktur pengelolaan aset negara. Prabowo berharap kepemimpinan baru itu dapat menjaga arah kebijakan tetap konsisten.
Ia menyapa langsung Dony dan meminta dukungan dari seluruh staf yang terlibat. Menurut Prabowo, skala pengelolaan yang besar memerlukan koordinasi yang rapi di setiap lini. Tanpa kerja sama yang solid, target tata kelola yang baik akan sulit tercapai.
Prabowo menekankan bahwa jajaran Danantara harus bekerja dengan standar tinggi. Ia meminta pengelolaan aset dilakukan secara profesional, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, lembaga ini diharapkan mampu menjawab ekspektasi publik.
Dana Kedaulatan Untuk Masa Depan
Prabowo menjelaskan bahwa Danantara merupakan dana kedaulatan Indonesia yang dibentuk untuk mengelola kekayaan bangsa. Ia menafsirkan nama Danantara sebagai Daya Anagata Nusantara. Dalam penjelasannya, Daya berarti energi, sementara Anagata berarti masa depan.
Menurut Prabowo, mandat utama lembaga tersebut adalah menjaga kekayaan seluruh bangsa untuk kepentingan anak dan cucu. Karena itu, orientasi pengelolaan tidak boleh hanya jangka pendek. Pemerintah, kata dia, harus memastikan manfaatnya berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan dana kedaulatan harus menjadi instrumen untuk memperkuat ekonomi nasional. Jika dikelola dengan benar, aset negara dapat menjadi sumber daya strategis bagi pembangunan. Prabowo pun mengingatkan agar seluruh pihak menjaga amanah tersebut dengan sungguh-sungguh.
