Pola Makan Disebut Memengaruhi Risiko Jerawat

Lifestyle Anindya Kirana Putri 24 Mei 2026 03:59 WIB 8
Pola Makan Disebut Memengaruhi Risiko Jerawat

Jerawat tidak hanya berkaitan dengan penggunaan skincare atau kebersihan wajah yang kurang terjaga. Sejumlah makanan sehari-hari juga disebut dapat memengaruhi kondisi kulit, terutama pada sebagian orang yang rentan mengalami breakout.

Makanan tinggi gula, produk susu, hingga ultra processed food kerap dikaitkan dengan jerawat yang lebih mudah muncul dan sulit mereda. Pertanyaan pun muncul, apakah pola makan benar-benar bisa menjadi pemicu jerawat yang tak kunjung sembuh.

Pola Makan dan Jerawat

Jerawat merupakan kondisi kulit yang dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya makanan. Hormon, stres, genetik, serta kebiasaan merawat kulit juga berperan besar dalam menentukan muncul tidaknya jerawat.

Meski demikian, pola makan tetap dinilai dapat memengaruhi kondisi kulit pada sebagian orang. Hal itu membuat hubungan antara makanan dan jerawat menjadi perhatian dalam pembahasan kesehatan kulit.

Dokter sekaligus praktisi estetika dr Silvia Kartika dari Seraphim Medical Center menjelaskan bahwa makanan tertentu bisa memicu breakout. Ia menegaskan, efek tersebut tidak selalu sama pada setiap orang.

“Tidak semuanya, nggak semua orang yang mengonsumsi itu bisa jadi jerawat,” ujar dr Silvia. Pernyataan ini menunjukkan bahwa respons kulit terhadap makanan bersifat individual dan tidak bisa digeneralisasi.

Makanan Pemicu Jerawat

Makanan tinggi gula menjadi salah satu jenis konsumsi yang paling sering dikaitkan dengan jerawat. Asupan ini diduga dapat memengaruhi kadar gula darah dan memicu perubahan pada kondisi kulit.

Produk susu juga kerap disebut sebagai salah satu pemicu jerawat pada kelompok tertentu. Pada sebagian orang, konsumsi susu dapat berkaitan dengan munculnya breakout yang lebih sering.

Ultra processed food atau makanan olahan tinggi juga ikut disorot karena kandungan gizinya yang tidak seimbang. Jenis makanan ini dinilai dapat memperburuk kondisi kulit bila dikonsumsi terlalu sering.

Meski begitu, belum semua orang akan mengalami jerawat setelah mengonsumsi makanan tersebut. Karena itu, pengamatan terhadap reaksi tubuh masing-masing menjadi penting sebelum menarik kesimpulan.

Faktor Lain Jerawat

Secara ilmiah, hubungan makanan dan jerawat diduga berkaitan dengan proses peradangan dalam tubuh. Perubahan ini dapat memengaruhi produksi minyak pada kulit dan memicu penyumbatan pori-pori.

Ketika produksi minyak meningkat, jerawat lebih mudah muncul dan dapat menjadi lebih meradang. Kondisi ini membuat kulit tampak lebih sulit pulih jika tidak ditangani dengan tepat.

Selain itu, hormon juga menjadi faktor penting yang memengaruhi munculnya jerawat. Pada masa tertentu, perubahan hormon dapat memperburuk kondisi kulit meski pola makan sudah dijaga.

Stres dan faktor genetik pun tidak bisa diabaikan dalam proses munculnya jerawat. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat penanganan jerawat perlu disesuaikan dengan penyebab dominannya.

Langkah Menjaga Kulit

Pola makan kini semakin sering diperhatikan sebagai salah satu upaya untuk mengendalikan jerawat. Langkah ini terutama relevan bagi orang yang menyadari adanya hubungan antara makanan tertentu dan kondisi kulitnya.

Mengurangi konsumsi gula, membatasi produk susu, serta menghindari makanan olahan berlebih dapat menjadi pilihan awal. Kebiasaan tersebut dapat membantu tubuh merespons perawatan kulit dengan lebih baik.

Di sisi lain, perawatan kulit yang konsisten tetap dibutuhkan agar jerawat tidak semakin memburuk. Pemilihan produk yang sesuai dan kebiasaan membersihkan wajah dengan benar dapat mendukung pemulihan kulit.

Bila jerawat terus berulang atau sulit membaik, konsultasi ke dokter kulit menjadi langkah yang disarankan. Evaluasi medis diperlukan agar pemicu jerawat dapat dikenali dan ditangani secara lebih tepat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!