Piercing Hidung Masuk Paru-Paru, Wanita Ini Jalani Operasi

Lifestyle Clara Monica 22 Mei 2026 13:56 WIB 6
Piercing Hidung Masuk Paru-Paru, Wanita Ini Jalani Operasi

Seorang wanita asal Spanyol, Monica Deyanira Cabrera Barajas, mengalami batuk terus-menerus selama sekitar satu bulan sebelum akhirnya memeriksakan diri ke dokter. Kondisi yang semula dianggap biasa itu justru mengungkap temuan medis yang mengejutkan, karena anting hidung miliknya ternyata berada di dalam tubuh. Kasus ini menjadi peringatan bahwa gejala ringan dapat menyimpan risiko serius jika tidak segera diperiksa.

Menurut laporan Oddity Central, hasil rontgen menunjukkan benda asing tersebut berada di area yang sangat berbahaya. Dokter kemudian menemukan bahwa anting septum piercing itu berada sangat dekat dengan aorta, pembuluh darah utama tubuh, sehingga membutuhkan penanganan darurat. Dari pemeriksaan hingga operasi, seluruh proses berlangsung karena adanya dugaan benda asing masuk ke saluran pernapasan dan paru-paru.

Piercing Hidung dan Batuk

Deyanira mengaku tidak menyadari bahwa piercing miliknya hilang. Ia menduga bagian kecil anting itu terlepas saat tidur telentang, lalu tanpa sengaja masuk ke tenggorokan dan terhirup ke paru-paru.

Keluhan batuk berkepanjangan menjadi tanda awal yang membuatnya waspada. Meski tampak seperti gangguan pernapasan biasa, kondisi itu ternyata berkaitan dengan benda asing yang tersangkut di dalam tubuh.

Kasus semacam ini menunjukkan bahwa benda kecil pun dapat menimbulkan masalah besar. Jika tidak ditangani, benda asing di saluran napas bisa memicu infeksi, iritasi, hingga komplikasi yang lebih berat.

Dokter menilai temuan tersebut sebagai situasi yang tidak lazim. Karena itulah, pemeriksaan lanjutan segera dilakukan untuk memastikan posisi benda dan menentukan tindakan medis yang tepat.

Temuan Rontgen yang Mengejutkan

Hasil rontgen memperlihatkan keberadaan anting hidung di dalam tubuh Deyanira. Temuan itu membuat tim medis terkejut karena posisi benda asing sangat dekat dengan aorta.

Jarak benda tersebut disebut hanya sekitar 0,5 milimeter dari pembuluh darah utama. Kedekatan itu membuat risiko komplikasi menjadi sangat tinggi dan tidak boleh dianggap sepele.

Dalam dunia medis, benda asing yang berada dekat organ vital memerlukan kehati-hatian ekstra. Kesalahan kecil saat penanganan dapat memicu perdarahan hebat atau kerusakan jaringan.

Karena itu, dokter memutuskan langkah cepat agar benda tersebut dapat dikeluarkan sesegera mungkin. Keputusan ini diambil untuk mencegah kondisi pasien memburuk.

Operasi Darurat Berlapis

Deyanira kemudian harus menjalani operasi darurat untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Prosedur awal diperkirakan berlangsung singkat, namun keadaan di ruang tindakan tidak berjalan sesuai rencana.

Operasi pertama gagal karena anting sudah menempel pada jaringan tubuh. Kondisi itu membuat tim medis perlu mempertimbangkan pendekatan yang lebih kompleks dan hati-hati.

Setelah evaluasi ulang, dokter melanjutkan tindakan kedua dengan persiapan yang lebih matang. Operasi lanjutan ini dilakukan untuk memastikan benda asing dapat diangkat tanpa menimbulkan cedera tambahan.

Pada akhirnya, prosedur kedua berjalan lancar dan piercing berhasil dikeluarkan. Keberhasilan itu menjadi momen penting karena risiko yang dihadapi pasien tergolong sangat serius.

Dampak dan Pelajaran Kesehatan

Dokter menyebut Deyanira beruntung masih dapat selamat dari kejadian tersebut. Jika benda asing itu melukai paru-paru atau aorta, akibatnya bisa fatal, termasuk paru-paru kolaps atau perdarahan berat.

Pengalaman itu membuat Deyanira memutuskan untuk tidak lagi menggunakan piercing. Ia mengaku trauma setelah peristiwa yang hampir mengancam nyawanya tersebut.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa aksesori tubuh juga dapat membawa risiko kesehatan. Pengguna piercing perlu memperhatikan kebersihan, kondisi pemasangan, dan tanda-tanda jika ada bagian yang lepas.

Masyarakat juga disarankan segera memeriksakan diri bila mengalami batuk berkepanjangan tanpa sebab yang jelas. Deteksi dini dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih berbahaya dan mempercepat penanganan medis.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!