Pertamina menetapkan 100 usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM untuk mengikuti Program Pertapreneur Aggregator (PAG) 2025. Peserta tersebut terpilih dari 730 UMKM yang mengikuti UMK Academy 2025. Program ini ditujukan untuk membina pelaku usaha agar mampu tumbuh lebih profesional, kolaboratif, dan berkelanjutan. Langkah ini sekaligus menegaskan peran UMKM sebagai penggerak ekonomi nasional.
Para peserta akan menjalani pembinaan lanjutan selama empat minggu melalui tahapan seleksi, wawancara, hingga bootcamp dan mentoring intensif. Mereka juga akan mempelajari strategi branding, pemasaran digital, manajemen keuangan, ekspor, dan business matching. Dari proses itu, Pertamina akan memilih 10 UMKM terbaik nasional untuk masuk ke tahap pendampingan eksklusif. Program ini menjadi pintu bagi UMKM untuk memperluas jaringan dan memperkuat daya saing di pasar yang lebih luas.
PAG Pertamina dan UMKM
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menyebut UMKM memiliki peran strategis dalam menopang perekonomian nasional. Menurut dia, UMKM bukan hanya penggerak ekonomi lokal, tetapi juga fondasi penting untuk meningkatkan daya saing bangsa di tingkat global. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan resmi pada Rabu, 12 November 2025. Pertamina memandang penguatan UMKM sebagai bagian dari kontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi.
Baron menegaskan bahwa Pertapreneur Aggregator tidak dirancang sekadar untuk melahirkan pengusaha sukses. Program ini juga diarahkan untuk mencetak pemimpin perubahan yang mampu membangun ekonomi lokal, sosial, dan hijau. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa aspek bisnis, sosial, dan lingkungan berjalan beriringan. Dengan model itu, UMKM diharapkan tumbuh tanpa mengabaikan keberlanjutan.
Program PAG menjadi salah satu instrumen Pertamina dalam memperkuat ekosistem UMKM binaan. Melalui pendampingan yang terstruktur, pelaku usaha diharapkan lebih siap mengelola usaha secara profesional. Pertamina juga mendorong kolaborasi antarpelaku usaha agar tercipta rantai pasok yang lebih kuat. Pada akhirnya, UMKM diharapkan mampu memberi dampak ekonomi yang lebih luas di daerahnya.
Fokus tersebut sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan dan semangat pemberdayaan ekonomi nasional. Pertamina menilai penguatan UMKM penting untuk membuka lebih banyak lapangan kerja berkualitas. Selain itu, program ini mendukung transformasi ekonomi produktif di berbagai wilayah. Dengan dukungan tersebut, UMKM diposisikan sebagai salah satu motor pertumbuhan yang relevan untuk jangka panjang.
Komposisi Peserta Tahun Ini
Peserta PAG 2025 berasal dari berbagai sektor usaha dengan komposisi yang cukup beragam. Bidang Food & Beverage menjadi sektor terbesar dengan porsi 45 persen. Fashion & Wastra berada di posisi berikutnya dengan 31 persen peserta. Sementara itu, Craft & Jewellery menyumbang 22 persen, dan Agribisnis serta Jasa masing-masing 1 persen.
Distribusi peserta juga tersebar di delapan regional di Indonesia. Konsentrasi tertinggi berada di Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara dengan porsi 23 persen. Jawa Barat menyusul dengan 20 persen, disusul Jawa Tengah sebesar 15 persen. Sebaran ini menunjukkan bahwa program tersebut menjangkau berbagai pusat ekonomi daerah.
Keberagaman sektor dan wilayah memberi peluang kolaborasi yang lebih luas bagi para peserta. Pelaku usaha dengan karakter bisnis berbeda dapat saling melengkapi dalam pengembangan pasar. Kondisi ini juga memperkaya pengalaman belajar selama program berlangsung. Pertamina menilai jaringan lintas sektor menjadi modal penting untuk membangun agregator yang kuat.
Dengan pola seleksi tersebut, PAG 2025 tidak hanya mencari UMKM yang sudah tumbuh. Program ini juga menilai kesiapan peserta untuk berkolaborasi dan memperluas jejaring bisnis. Aspek kemampuan manajerial dan potensi dampak sosial turut menjadi pertimbangan. Karena itu, peserta yang lolos dinilai memiliki peluang besar untuk naik kelas.
Pembinaan Empat Minggu
Selama empat minggu, peserta akan mengikuti pembinaan intensif yang disusun secara bertahap. Tahap awal dimulai dari Desk Evaluation untuk menilai kesiapan usaha. Setelah itu, peserta menjalani wawancara guna menggali potensi dan kebutuhan pengembangan. Rangkaian tersebut menjadi dasar penentuan peserta yang layak melaju ke tahap berikutnya.
Setelah seleksi awal, peserta masuk ke Bootcamp dan Mentoring Intensif bersama para mentor. Dalam sesi ini, mereka akan mendapat pendalaman mengenai branding, digital marketing, manajemen keuangan, ekspor, dan business matching. Materi tersebut dipilih untuk menjawab tantangan utama UMKM dalam memperluas pasar. Pendekatan praktis ini diharapkan mempercepat peningkatan kapasitas usaha.
Pertamina menilai pendampingan langsung menjadi faktor penting dalam memperkuat kualitas bisnis UMKM. Melalui mentor yang berpengalaman, peserta dapat memperbaiki strategi usaha secara lebih terarah. Proses ini juga membantu mereka memahami standar profesional yang dibutuhkan untuk bersaing di pasar yang lebih besar. Dengan demikian, pembinaan tidak berhenti pada teori, tetapi menyentuh kebutuhan nyata pelaku usaha.
Program intensif ini dirancang agar peserta memiliki bekal yang cukup sebelum masuk ke tahap final. Selain peningkatan kapasitas, mereka juga dilatih untuk membangun pola pikir ekspansi. Pertamina berharap pendekatan tersebut mampu mendorong pelaku usaha keluar dari skala lokal. Kesiapan itu menjadi penting bagi UMKM yang ingin bertahan dan tumbuh di tengah kompetisi.
Target Go Global
Dari 100 peserta awal, Pertamina akan memilih 10 UMKM terbaik nasional melalui tahapan Final Pitching dan Awarding. Sepuluh UMKM tersebut akan memperoleh pendampingan eksklusif selama enam bulan. Fokus pendampingan diarahkan pada penguatan model bisnis, ekspansi, dan kesiapan menembus pasar global. Tahap ini menjadi puncak dari proses seleksi dan pembinaan yang berlangsung sejak awal program.
Pendampingan lanjutan akan melibatkan mentoring dari para CEO dan simulasi pitching ala Dragon's Den. Para peserta juga akan mendapat akses ke Global Market Matching untuk membuka peluang kerja sama internasional. Selain itu, mereka berkesempatan masuk ke platform seperti Alibaba, Amazon, dan Shopee International. Dukungan tersebut diharapkan mempercepat langkah UMKM menuju pasar luar negeri.
Pertamina juga menyiapkan sertifikasi pendukung bagi peserta yang lolos ke tahap akhir. Langkah ini bertujuan meningkatkan kredibilitas usaha di mata mitra dan calon pembeli. Dengan sertifikasi yang relevan, UMKM akan lebih siap bersaing dalam ekosistem perdagangan digital global. Hal ini menjadi nilai tambah penting bagi pelaku usaha yang ingin naik kelas.
Melalui rangkaian program tersebut, Pertamina ingin mencetak UMKM binaan yang tumbuh secara finansial dan memiliki dampak sosial. Perusahaan menempatkan kolaborasi, rantai pasok, dan keberlanjutan sebagai bagian dari tujuan utama. Jika berjalan sesuai target, para peserta dapat menjadi agregator mandiri yang siap go global. Program ini sekaligus memperkuat peran UMKM sebagai pilar ekonomi yang adaptif dan berdaya saing.
