Pertamina Dukung UMKM Lewat Olahan Pelepah Pisang di Kebumen

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 31 Mei 2026 23:45 WIB 2
Pertamina Dukung UMKM Lewat Olahan Pelepah Pisang di Kebumen

PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmennya dalam pengembangan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator, dengan mendorong kolaborasi antara UMKM binaan PT Agrominafiber Java Indonesia dan Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kebumen. Kerja sama ini berfokus pada pengolahan limbah pelepah pisang menjadi serat alami bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.

Program tersebut tidak hanya menargetkan penguatan rantai pasok bahan baku, tetapi juga membuka ruang keterlibatan warga binaan dalam proses produksi yang terukur. Melalui pendampingan intensif, Pertamina berharap inisiatif ini menjadi model usaha yang berkelanjutan, kompetitif, dan memberi dampak sosial nyata.

Pertamina Dorong UMKM Berkelanjutan

Komitmen Pertamina terhadap UMKM terlihat dari dorongan untuk menghadirkan usaha yang tidak hanya tumbuh secara bisnis, tetapi juga memberi manfaat sosial. Program Pertapreneur Aggregator menjadi wadah penguatan kapasitas usaha binaan agar lebih siap bersaing di pasar. Dalam skema ini, kolaborasi lintas pihak diarahkan untuk menghasilkan ekosistem usaha yang saling menguntungkan. Pendekatan tersebut juga menekankan pentingnya keberlanjutan dalam setiap tahapan produksi.

Agrominafiber Java Indonesia menjadi salah satu UMKM binaan yang bergerak di sektor bahan baku alami. Perusahaan ini memanfaatkan pelepah pisang sebagai serat yang dapat diolah untuk kebutuhan industri kerajinan dan material berkelanjutan. Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, menyebut bahan tersebut memiliki potensi besar untuk pasar ekspor. Menurut dia, kebutuhan industri terhadap bahan ramah lingkungan terus meningkat.

Novita menjelaskan bahwa keterlibatan warga binaan dalam proses produksi menjadi bagian penting dari pengembangan usaha. Ia menilai pelatihan ini dapat memberi pengalaman kerja yang nyata dan bernilai ekonomi. Selain itu, program ini dinilai membantu membangun keterampilan yang dapat digunakan setelah warga binaan kembali ke masyarakat. Dengan demikian, manfaatnya tidak berhenti pada aspek produksi semata.

Pendampingan dari Pertamina juga diarahkan agar model bisnis yang dibangun tetap sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Fokusnya mencakup kualitas produk, kesinambungan pasokan, dan efisiensi pengolahan bahan baku. Melalui pendekatan ini, UMKM binaan didorong untuk naik kelas secara bertahap. Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan ekonomi kerakyatan yang lebih inklusif.

Olahan Limbah Jadi Nilai Ekonomi

Kolaborasi Agrominafiber dan Rutan Kebumen berangkat dari pemanfaatan limbah pelepah pisang yang sebelumnya kurang optimal. Bahan tersebut kemudian diolah menjadi serat alami yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Pengolahan ini sejalan dengan tren industri yang semakin mengutamakan bahan baku berkelanjutan. Di sisi lain, konsep zero waste juga mulai diterapkan dalam proses kerja.

Direktur Agrominafiber, Novita, menegaskan bahwa pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri. Ia menyebut serat dari bahan itu diminati untuk kerajinan dan material ramah lingkungan. Permintaan pasar yang cenderung meningkat membuat pengembangan produk ini dinilai memiliki prospek menjanjikan. Karena itu, perusahaan melihat kerja sama ini sebagai langkah strategis.

Sejak pelatihan perdana, Agrominafiber telah menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen hanya dalam waktu satu minggu. Penyaluran tersebut menunjukkan bahwa proses produksi mulai berjalan dan memberi hasil awal yang konkret. Ke depan, perusahaan menargetkan sekitar 30 persen kebutuhan bahan bakunya dipasok dari hasil produksi warga binaan. Dari total kebutuhan 15 ton, skema ini diharapkan memperkuat pasokan secara bertahap.

Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menilai respons awal terhadap kerja sama ini cukup positif. Ia menyebut laporan dari jajaran menunjukkan perkembangan yang baik meski program belum genap satu bulan. Dari sisi mitra usaha, prospeknya juga dianggap menjanjikan karena memberi dampak bisnis dan sosial. Menurut dia, hal itu menjadi modal penting untuk menjaga kesinambungan program.

Pelatihan Warga Binaan Meningkat

Hasil pelatihan awal menunjukkan warga binaan telah mampu memproduksi serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat. Proses pembelajaran difokuskan pada teknik produksi yang tepat agar hasilnya memenuhi standar perusahaan. Tim Agrominafiber juga memberi bimbingan langsung untuk menjaga kerapian dan konsistensi produk. Pendampingan ini menjadi bagian penting dalam membangun keterampilan kerja yang aplikatif.

Target produksi yang dipasang mencapai sekitar 3 ton per bulan. Saat ini, sekitar 60 persen produk telah memenuhi standar kualitas perusahaan. Sisanya masih dalam tahap penyempurnaan teknik agar dapat mencapai hasil yang seragam. Kondisi ini menunjukkan adanya ruang perbaikan, sekaligus peluang peningkatan kapasitas produksi.

Selain teknik produksi, pendampingan juga mencakup pengelolaan bahan baku berbasis prinsip zero waste. Dengan pendekatan tersebut, setiap tahap kerja diarahkan agar lebih efisien dan minim sisa material. Cara ini dianggap relevan dengan kebutuhan industri yang menuntut efisiensi dan kepedulian lingkungan. Warga binaan pun mendapat pemahaman baru tentang proses usaha yang bertanggung jawab.

Pramu Sapta berharap program ini tidak berhenti pada pelatihan semata. Ia menilai keterampilan yang diperoleh warga binaan harus memiliki manfaat jangka panjang. Karena itu, program diarahkan agar menjadi bekal saat mereka kembali ke masyarakat. Harapannya, kemampuan yang diperoleh dapat membuka peluang ekonomi baru setelah masa pidana berakhir.

Pertamina Perkuat Dampak Sosial

Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi Agrominafiber dan Rutan Kebumen sebagai langkah strategis dalam menjaga kesinambungan bahan baku. Ia melihat kolaborasi ini memiliki potensi besar karena hasilnya dapat terlihat dalam waktu relatif cepat. Menurut dia, kekuatan utama program ini terletak pada kesesuaian antara kebutuhan industri dan kapasitas produksi yang dibangun. Dengan pengelolaan yang tepat, model ini dapat berkembang lebih luas.

Bima menegaskan bahwa fokus pendampingan berikutnya adalah kualitas dan ketepatan waktu produksi. Dua hal itu dinilai menentukan keberlanjutan kerja sama dengan mitra usaha. Jika standar produksi konsisten, maka kepercayaan pasar juga dapat meningkat. Pada akhirnya, rantai pasok yang terbentuk akan lebih stabil dan terukur.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menyampaikan bahwa program ini merupakan hasil sinergi antara Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Pertapreneur Aggregator dirancang untuk mendorong UMKM agar lebih siap menghadapi pasar. Pendekatan agregasi juga dipilih agar usaha kecil memiliki dukungan yang lebih kuat. Dengan demikian, daya saing mereka dapat meningkat secara bertahap.

Baron menambahkan bahwa Pertamina akan mendampingi program ini secara intensif selama enam bulan ke depan. Perusahaan berharap model kolaborasi tersebut bisa menjadi contoh pengembangan UMKM yang berdampak luas. Selain memperkuat bisnis, program ini juga diharapkan memberi manfaat sosial yang nyata dan berkelanjutan. Keberhasilan di Kebumen dapat menjadi rujukan bagi inisiatif serupa di daerah lain.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!