Pertamina Dorong UMKM Olah Limbah Pisang di Rutan Kebumen

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 27 Mei 2026 19:44 WIB 4
Pertamina Dorong UMKM Olah Limbah Pisang di Rutan Kebumen

PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmen pengembangan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator (PAG) dengan menggandeng PT Agrominafiber Java Indonesia dan Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kebumen. Kolaborasi ini mengolah limbah pelepah pisang menjadi serat alami yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan. Program tersebut dijalankan untuk mendukung rantai pasok yang berkelanjutan sekaligus memberi keterampilan kerja bagi warga binaan. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya Pertamina menghadirkan dampak sosial yang terukur.

Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, menyebut pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kerajinan dan material berkelanjutan. Perusahaan ingin melibatkan warga binaan secara langsung dalam proses produksi yang nyata dan bernilai. Dalam waktu singkat, sekitar satu ton bahan baku telah disalurkan ke Rutan Kebumen sebagai tindak lanjut pelatihan awal. Ke depan, sekitar 30 persen dari kebutuhan bahan baku perusahaan yang mencapai 15 ton ditargetkan berasal dari produksi warga binaan.

UMKM Binaan Pertamina

Program ini mendapat perhatian langsung dari Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina yang datang ke Rutan Kebumen pada Senin, 26 Januari. Kunjungan itu dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai standar dan memiliki keberlanjutan. Pertamina ingin memastikan manfaat bisnis dan manfaat sosial dapat berjalan seimbang. Pendekatan tersebut menjadi dasar agar kolaborasi tidak berhenti pada tahap pelatihan.

Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menilai respons awal terhadap kerja sama ini cukup positif. Ia mengatakan perkembangan program terlihat baik meski belum genap satu bulan berjalan. Dari sisi mitra usaha, prospeknya juga dinilai menjanjikan karena memiliki nilai bisnis dan sosial. Menurutnya, dukungan Pertamina memperkuat arah program agar lebih terukur.

Pramu menegaskan bahwa program ini diharapkan menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan. Keterampilan tersebut tidak hanya berguna selama menjalani masa pidana, tetapi juga saat kembali ke masyarakat. Karena itu, pelatihan yang diberikan diarahkan agar relevan dengan kebutuhan industri. Tujuannya adalah menciptakan peluang kerja yang lebih luas setelah masa pembinaan selesai.

Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi ini sangat potensial untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku. Ia menyebut hasil kerja sama dapat terlihat dalam waktu relatif cepat. Fokus pendampingan berikutnya diarahkan pada kualitas dan ketepatan waktu produksi. Dengan demikian, kolaborasi diharapkan memberi nilai tambah yang konsisten bagi semua pihak.

Serat Pelepah Pisang

Dari pelatihan awal, warga binaan telah mampu memproduksi serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat. Target produksi ditetapkan sekitar tiga ton per bulan untuk memenuhi kebutuhan industri. Saat ini, sekitar 60 persen produk telah memenuhi standar kualitas perusahaan. Sisanya masih dalam proses penyempurnaan teknik agar hasilnya lebih seragam.

Agrominafiber memberikan bimbingan langsung selama proses pendampingan. Materi yang diajarkan meliputi teknik produksi, peningkatan kerapian produk, dan pengelolaan bahan baku. Perusahaan juga menerapkan prinsip zero waste dalam proses pengolahan. Langkah ini membuat limbah dapat dimanfaatkan secara lebih optimal dan efisien.

Novita menjelaskan bahwa pelepah pisang memiliki peluang besar sebagai bahan baku industri. Serat yang dihasilkan dapat dikembangkan untuk kebutuhan kerajinan dan material berkelanjutan. Produk semacam ini juga memiliki peluang di pasar ekspor karena dinilai lebih ramah lingkungan. Dengan bahan baku yang mudah ditemukan, model usaha ini dinilai memiliki daya saing yang baik.

Pengolahan pelepah pisang juga memberi nilai tambah bagi limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan maksimal. Proses ini mengubah bahan sisa menjadi produk yang dapat dijual dan dikembangkan lebih lanjut. Dalam konteks UMKM, model seperti ini membuka ruang inovasi yang sederhana namun relevan. Dampaknya tidak hanya pada aspek produksi, tetapi juga pada efisiensi pemanfaatan sumber daya.

Dampak Sosial Produksi

Kehadiran program ini dinilai membawa dampak sosial yang nyata bagi warga binaan. Mereka tidak hanya menerima pelatihan, tetapi juga terlibat dalam rantai produksi yang sesungguhnya. Keterlibatan tersebut membangun rasa percaya diri dan tanggung jawab kerja. Dalam jangka panjang, pengalaman ini dapat membantu proses reintegrasi sosial setelah bebas.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan program ini merupakan hasil sinergi antara Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia. Menurutnya, Pertamina menempatkan kolaborasi ini sebagai contoh pengembangan UMKM berbasis agregasi. Model tersebut diharapkan mampu menggabungkan daya saing bisnis dengan manfaat sosial. Karena itu, Pertamina melihat program ini sebagai bagian dari strategi pemberdayaan yang lebih luas.

Pertamina juga menekankan pentingnya keberlanjutan dalam pendampingan selama enam bulan ke depan. Pendampingan intensif akan difokuskan pada peningkatan kapasitas produksi dan kualitas hasil. Perusahaan berharap model ini dapat direplikasi di tempat lain dengan karakteristik serupa. Dengan begitu, manfaat program tidak hanya dirasakan di Kebumen, tetapi juga berpotensi diperluas.

Sinergi antara perusahaan, lembaga pemasyarakatan, dan UMKM binaan memperlihatkan bahwa pengembangan usaha dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan sosial. Pola kerja sama seperti ini memberi peluang bagi lahirnya ekonomi sirkular yang lebih inklusif. Di sisi lain, warga binaan memperoleh keterampilan yang bisa menjadi modal masa depan. Kombinasi tersebut menjadikan program Pertapreneur Aggregator sebagai contoh kolaborasi yang relevan untuk UMKM berkelanjutan.

Pendampingan Berkelanjutan

Pertamina menilai pendampingan berkelanjutan menjadi kunci agar program tidak berhenti pada tahap percobaan. Kualitas produksi, ketepatan waktu, dan kepastian pasokan menjadi fokus utama dalam pengembangan berikutnya. Dengan standar yang lebih baik, produk serat pelepah pisang diharapkan semakin kompetitif. Hal ini juga penting untuk menjaga kepercayaan mitra usaha yang terlibat.

Program ini menunjukkan bahwa limbah pertanian dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Pelepah pisang yang selama ini sering terbuang kini memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Selain membuka peluang usaha, model ini juga mendorong praktik produksi yang lebih ramah lingkungan. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap keberlanjutan, pendekatan seperti ini memiliki relevansi yang kuat.

Dalam konteks pengembangan UMKM, kolaborasi Agrominafiber dan Rutan Kebumen menunjukkan pentingnya kemitraan lintas sektor. Dukungan kelembagaan, akses bahan baku, dan pendampingan teknis menjadi faktor penentu keberhasilan. Saat seluruh unsur bergerak bersama, peluang peningkatan skala usaha menjadi lebih besar. Model seperti ini dapat menjadi referensi bagi program pemberdayaan lainnya.

Melalui Program Pertapreneur Aggregator, Pertamina ingin memastikan UMKM binaan tidak hanya tumbuh dari sisi usaha, tetapi juga memberi manfaat sosial yang nyata. Kegiatan di Rutan Kebumen menjadi contoh bagaimana pengembangan ekonomi dapat berjalan seiring dengan pembinaan keterampilan. Jika pendampingan konsisten dijaga, hasilnya berpotensi memberi dampak jangka panjang. Program ini menegaskan bahwa pemberdayaan yang baik selalu berangkat dari kolaborasi yang berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!