Pertamina Dorong UMKM Olah Limbah Pelepah Pisang

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 30 Mei 2026 02:08 WIB 6
Pertamina Dorong UMKM Olah Limbah Pelepah Pisang

PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmennya dalam pengembangan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator dengan mendorong kolaborasi produksi serat pelepah pisang di Rutan Kelas IIB Kebumen. Kerja sama ini dijalankan bersama UMKM binaan Pertamina, PT Agrominafiber Java Indonesia, untuk mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.

Program tersebut tidak hanya menargetkan peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga membuka ruang keterlibatan warga binaan dalam rantai usaha yang nyata. Pada kunjungan asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, model kolaborasi ini dinilai memiliki potensi bisnis sekaligus dampak sosial yang berkelanjutan.

Pertamina dan UMKM Binaan

Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, menilai pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kerajinan dan material berkelanjutan. Menurut dia, permintaan pasar ekspor terhadap produk berbasis serat alami terus menunjukkan peluang yang menjanjikan.

Ia menyebut keterlibatan warga binaan dalam proses produksi menjadi bagian penting dari model usaha yang ingin dibangun. Program ini diharapkan menciptakan rantai pasok yang tidak hanya efisien, tetapi juga memberi nilai tambah sosial.

Agrominafiber telah menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen hanya dalam waktu satu minggu sejak pelatihan perdana. Pasokan itu menjadi dasar untuk menguji kesiapan produksi warga binaan dalam skala yang lebih terukur.

Ke depan, sekitar 30 persen dari kebutuhan bahan baku perusahaan yang mencapai 15 ton per bulan direncanakan dipasok dari hasil produksi warga binaan. Skema ini menunjukkan peluang kerja sama yang lebih luas antara UMKM dan lembaga pemasyarakatan.

Rutan Kebumen Tingkatkan Keterampilan

Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyampaikan respons awal terhadap kerja sama ini cukup positif. Ia menilai perkembangan program berjalan baik meski usianya belum genap satu bulan.

Menurut dia, keterlibatan mitra usaha memperkuat prospek program, baik dari sisi bisnis maupun manfaat sosial. Karena itu, pelatihan yang dilakukan tidak diarahkan sekadar sebagai kegiatan sementara.

Pramu berharap program ini dapat menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan selama menjalani masa pidana. Ia juga menekankan pentingnya manfaat keterampilan tersebut ketika mereka kembali ke masyarakat.

Dari hasil pelatihan awal, warga binaan telah mampu memproduksi serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat. Target produksi ditetapkan sekitar tiga ton per bulan sebagai tahap pengembangan berikutnya.

Fokus pada Kualitas Produksi

Saat ini, sekitar 60 persen produk sudah memenuhi standar kualitas perusahaan. Sisanya masih dalam proses penyempurnaan teknik agar hasil produksi lebih seragam dan layak dipasarkan.

Selama pendampingan, tim Agrominafiber memberikan bimbingan langsung kepada warga binaan. Pembinaan itu mencakup teknik produksi, kerapian produk, serta pengelolaan bahan baku dengan prinsip zero waste.

Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi Agrominafiber dan Rutan Kebumen sebagai langkah strategis dalam menjaga kesinambungan pasokan bahan baku. Ia menyebut kolaborasi ini berpotensi memberikan hasil yang relatif cepat.

Menurut Bima, fokus pendampingan ke depan adalah menjaga kualitas dan ketepatan waktu produksi. Dua hal tersebut dinilai menjadi penentu agar kerja sama dapat berkembang secara berkelanjutan.

Model Agregasi Berkelanjutan

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan program ini merupakan hasil sinergi antara Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia dalam skema Pertapreneur Aggregator. Ia menegaskan bahwa program ini menjadi bagian dari upaya Pertamina memperkuat ekosistem UMKM.

Melalui pendampingan intensif selama enam bulan ke depan, Pertamina berharap model kolaborasi ini dapat menjadi contoh pengembangan UMKM berbasis agregasi. Pendekatan tersebut dirancang agar usaha kecil tidak hanya naik kelas, tetapi juga lebih terhubung dengan kebutuhan industri.

Baron menambahkan bahwa program ini diharapkan memberi dampak sosial yang nyata dan berkelanjutan. Dengan begitu, pembinaan UMKM tidak berhenti pada aspek produksi, melainkan juga menyentuh pemberdayaan masyarakat.

Kolaborasi di Kebumen menjadi salah satu contoh bagaimana limbah dapat diolah menjadi komoditas bernilai tambah. Dalam jangka panjang, model seperti ini berpeluang memperkuat daya saing usaha sekaligus mendorong ekonomi sirkular.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!