Perhiasan Etnik Jogja Tembus Singapura dan Jepang

Lifestyle Anindya Kirana Putri 31 Mei 2026 10:17 WIB 7
Perhiasan Etnik Jogja Tembus Singapura dan Jepang

Produk perhiasan etnik asal Yogyakarta buatan Joglo Ayu Tenan berhasil menembus pasar internasional, termasuk Singapura dan Jepang. Koleksi yang paling menyita perhatian adalah kalung seri Gudeg Jogja, yang tampil di Singapore International Jewelry Expo pada 2021 dan 2022.

Kalung tersebut dibuat saat pandemi, dengan detail yang terinspirasi dari telur, krecek, dan tabik sebagai simbol kuliner khas Yogyakarta. Selain memperkuat identitas budaya, karya itu menunjukkan bahwa produk lokal dapat bersaing di panggung global melalui desain yang unik dan bernilai cerita.

Perhiasan Etnik Bernuansa Jogja

Joglo Ayu Tenan mengangkat budaya Jawa ke dalam bentuk perhiasan yang modern dan mudah dikenakan. Pendekatan ini membuat produk mereka tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki nilai budaya yang kuat.

Salah satu yang paling menonjol adalah kalung seri Gudeg Jogja, yang memadukan unsur kuliner dan estetika fesyen. Detailnya dibuat dengan cermat agar tetap relevan bagi pasar domestik maupun internasional.

Dengan konsep tersebut, perhiasan etnik dari Jogja mampu menjadi identitas yang mudah dikenali. Daya tariknya terletak pada perpaduan tradisi, kreativitas, dan kemasan desain yang elegan.

Menembus Pasar Singapura

Di Singapura, koleksi Joglo Ayu Tenan mendapat panggung melalui Singapore International Jewelry Expo. Kehadiran produk ini pada 2021 dan 2022 menandai pengakuan atas kualitas karya pengrajin lokal.

Yayuk menjelaskan bahwa pasar Asia memiliki kedekatan kultur yang memudahkan penerimaan produk berbasis tradisi. Menurut dia, konsumen di sana cenderung menyukai barang yang ramah lingkungan dan bisa digunakan sehari-hari.

Karena itu, perhiasan yang mereka bawa tidak sekadar menjadi aksesori, melainkan representasi budaya. Strategi tersebut membantu produk lokal tampil lebih kompetitif di pasar luar negeri.

Ekspansi Ke Jepang

Setelah Singapura, Joglo Ayu Tenan melangkah ke Jepang dan memperkenalkan produk berbasis budaya Jawa dengan sentuhan modern. Di Osaka, mereka memamerkan perhiasan berbahan kulit yang dikreasikan ulang dari teknik patah sungging.

Teknik patah sungging dikenal sebagai bagian dari tradisi wayang kulit, lalu diolah menjadi aksesori yang lebih elegan. Inovasi itu menunjukkan bagaimana warisan budaya dapat diolah tanpa kehilangan karakter aslinya.

Penerimaan pasar Jepang mempertegas bahwa produk berbasis cerita dan tradisi masih memiliki tempat. Apalagi, desain yang ringan dan fungsional membuatnya sesuai dengan selera konsumen urban.

Produksi Ramah Lingkungan

Joglo Ayu Tenan aktif memproduksi aksesori fesyen dan dekorasi rumah berbahan ramah lingkungan. Produk yang dihasilkan meliputi kalung, gelang, anting, hingga busana dengan pewarna alam tanpa polyester.

Konsistensi tersebut membuat usaha ini memperoleh sertifikat Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability atau CHSE dari Kementerian Pariwisata. Sertifikat itu menjadi bukti bahwa proses produksi mereka memperhatikan aspek kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan keberlanjutan.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap produk berkelanjutan, langkah ini memberi nilai tambah yang penting. Selain menjual keindahan, produk mereka juga menawarkan komitmen terhadap lingkungan.

Komunitas Lokal Jadi Kekuatan

Saat ini, Joglo Ayu Tenan mampu memproduksi hingga 500 pcs aksesori per bulan bersama komunitas lokal. Kapasitas tersebut didukung oleh jaringan pengrajin yang berkembang dari ruang berkumpul menjadi ekosistem usaha.

Pada awalnya, Joglo Ayu Tenan hanya menjadi tempat bertemu para pengrajin perhiasan. Seiring waktu, tempat ini berubah menjadi titik temu mahasiswa, pengrajin, dan pelaku UMKM di Yogyakarta.

Perkembangan itu menunjukkan bahwa kekuatan komunitas dapat mendorong usaha kecil naik kelas. Dari Yogyakarta, perhiasan etnik mereka kini membawa cerita budaya Indonesia ke pasar dunia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!