Perempuan Nelayan Maluku Papua Raih Penghargaan Nasional

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 31 Mei 2026 07:07 WIB 3
Perempuan Nelayan Maluku Papua Raih Penghargaan Nasional

Dua perempuan nelayan asal Maluku Tenggara dan Papua Barat menjadi sorotan setelah berhasil mengubah peran mereka di wilayah pesisir menjadi penggerak ekonomi daerah. Sri Fany Mony dan Nova Theodora J.M Essuruw dinilai mampu membangun usaha, meningkatkan pendapatan kelompok, dan mendorong pemanfaatan sumber daya perikanan secara lebih optimal.

Penghargaan perempuan inspiratif 2025 diberikan kepada keduanya oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan, dalam agenda bertema Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045. Keduanya terpilih karena kepemimpinan, dampak sosial ekonomi, serta kontribusi terhadap pengelolaan perikanan berkelanjutan di Indonesia timur.

Perempuan Nelayan Ubah Ekonomi

Sri Fany Mony memulai perjalanannya dari seorang ibu rumah tangga tanpa usaha ekonomi. Kini, ia memimpin Kelompok Pengolah dan Pemasar Dullah Tama di Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara. Kelompok ini mengolah ikan dan produk ecoprint untuk menambah nilai jual. Transformasi itu menunjukkan perubahan besar dalam pemberdayaan perempuan pesisir.

Pada 2025, Dullah Tama mencatat pendapatan Rp 44,1 juta. Angka itu naik sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut memperlihatkan bahwa usaha olahan hasil laut dapat menjadi sumber pendapatan yang stabil. Aktivitas kelompok juga memperluas jejaring praktik baik di tingkat nasional dan internasional.

Fany tidak hanya berperan sebagai pelaku usaha, tetapi juga sebagai penggerak komunitas. Kehadirannya memberi ruang bagi perempuan pesisir untuk memiliki keterampilan baru. Produk yang dihasilkan membantu keluarga memperoleh tambahan penghasilan. Di sisi lain, kegiatan itu memperkuat posisi perempuan dalam ekonomi lokal.

Inovasi Olahan Hasil Laut

Di Papua Barat, Nova Theodora J.M Essuruw menghadirkan pendekatan berbeda dalam pengelolaan sumber daya perikanan. Sebagai pendeta Protestan dan Ketua Wilayah di Teluk Arguni, Kaimana, ia memimpin Kelompok Seraphim Bofuwer. Kelompok ini memanfaatkan ikan kakap cina yang sebelumnya kurang diolah maksimal. Langkah itu membuka peluang ekonomi baru bagi warga pesisir.

Nova mendorong pengolahan kakap cina menjadi abon ikan, sambal, kecap ikan, dan berbagai produk pangan lain. Inovasi ini menambah nilai ekonomi komoditas yang semula hanya diambil gelembung renangnya. Pemanfaatan daging ikan yang lebih optimal juga mengurangi pemborosan sumber daya. Hasil olahan itu menjadi sumber pendapatan tambahan bagi perempuan setempat.

Selain memberi nilai ekonomi, kegiatan ini turut mendukung ketahanan pangan keluarga. Produk Seraphim Bofuwer dipasarkan ke Fakfak, Sorong, Timika, hingga Jayapura. Kelompok tersebut juga meraih Juara 3 Festival Senja Indah Kaimana 2024. Pendampingan dari BPOM semakin memperkuat kualitas dan daya saing produknya.

Penghargaan Untuk Kepemimpinan

Kementerian Kelautan dan Perikanan menilai kedua perempuan itu berhasil menghadirkan perubahan nyata di wilayah pesisir. Mereka bukan hanya menjadi pelaku ekonomi, tetapi juga penggerak komunitas. Keduanya dinilai menerapkan Ecosystem Approach to Fisheries Management atau EAFM secara konsisten. Pendekatan ini penting untuk menjaga keseimbangan antara produksi dan keberlanjutan sumber daya.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif mengatakan penghargaan tersebut menegaskan peran strategis perempuan dalam pembangunan nasional. Ia menjelaskan, seleksi dilakukan secara kolaboratif antara KemenPPPA dan KKP. Penilaian mempertimbangkan kepemimpinan perempuan, dampak sosial ekonomi, dan kontribusi terhadap perikanan berkelanjutan. Proses itu memastikan penerima benar-benar memberi manfaat bagi komunitasnya.

Sri Fany dan Nova merupakan Champion CFI Indonesia dalam Project GEF-6 CFI Indonesia. Program ini merupakan kerja sama KKP dan WWF-US sebagai Global Environment Facility Agency. Fokusnya adalah penguatan tata kelola perikanan berkelanjutan di WPP 715, 717, dan 718 di Indonesia timur.

Program Pemberdayaan Berkelanjutan

Project GEF-6 CFI Indonesia telah berjalan sejak Desember 2019 dan ditargetkan berlangsung hingga 2026. Selama periode itu, program telah menjangkau lebih dari 5.500 nelayan. Sekitar 32 persen di antaranya adalah perempuan nelayan. Capaian ini menunjukkan besarnya ruang bagi pemberdayaan perempuan di sektor kelautan dan perikanan.

Program pemberdayaan mencakup pelatihan pengolahan hasil perikanan, kerajinan ecoprint, manajemen usaha, sertifikasi produk, dan penguatan merek. Peserta juga difasilitasi untuk menjalin kemitraan dengan pasar modern. Hasilnya, produk kelompok binaan telah masuk ke lebih dari 10 jaringan ritel modern di Maluku dan Papua Barat. Saluran pemasaran ini memperluas akses usaha kecil ke pasar yang lebih luas.

Project Manager CFI Indonesia, Adipati Rahmat Gumelar, menegaskan bahwa para Champion disiapkan sebagai agen perubahan. Mereka dibekali keterampilan teknis, teknologi ramah lingkungan, dan praktik perikanan berkelanjutan. Tujuannya agar dampak program tetap berjalan setelah proyek berakhir. Dengan cara itu, ekonomi biru dapat tumbuh melalui komunitas pesisir yang lebih mandiri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!