Pengusaha Hijab Dyalodya Rugi Akibat Retur COD

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 25 Mei 2026 21:03 WIB 3
Pengusaha Hijab Dyalodya Rugi Akibat Retur COD

Curhatan pemilik usaha hijab lokal Dyalodya viral di media sosial setelah menampilkan tumpukan paket retur dari sistem cash on delivery atau COD dalam kurun sepekan. Video yang diunggah di Instagram itu memperlihatkan paket berlabel COD yang gagal diterima pelanggan, lalu dikembalikan kurir ke pihak penjual.

Dalam unggahan tersebut, pemilik usaha menyuarakan kekecewaan atas praktik COD yang dinilai kerap disalahgunakan oleh oknum pembeli tidak bertanggung jawab. Ia menyebut kondisi itu bukan hanya memicu kerugian materi, tetapi juga mengganggu operasional usaha kecil yang bergantung pada kepercayaan pelanggan.

COD dan Keluhan Penjual

Video curahan hati itu menampilkan puluhan paket retur yang menumpuk, sebagian masih terbungkus plastik berlabel Dyalodya. Pemilik usaha menyebut banyak paket berasal dari transaksi COD yang akhirnya ditolak saat kurir tiba di alamat tujuan. Situasi tersebut membuat barang kembali ke gudang tanpa menghasilkan penjualan. Dalam keterangan videonya, ia menegaskan bahwa beban retur seperti itu sangat terasa bagi pelaku UMKM.

Zahra, pemilik brand Dyalodya, mengatakan usahanya berdiri sejak 2017 dan kini menghadapi tantangan berat dari praktik COD. Ia menjelaskan bahwa video itu dibuat sebagai edukasi, sekaligus respons atas banyaknya komplain dari orang yang mengaku tidak pernah memesan produk Dyalodya. Menurutnya, ada paket yang benar-benar dipesan, tetapi ada pula yang dikirim tanpa sepengetahuan penerima. Kondisi tersebut membuat pihaknya harus menanggung biaya operasional berulang.

Ia menilai masalah ini tidak semata-mata soal pelanggan yang membatalkan pesanan. Ada dugaan keterlibatan pihak lain dalam alur distribusi paket yang membuat data pesanan bisa disalahgunakan. Zahra mengaku pihaknya menemukan pola yang mengarah pada permainan oknum di lapangan. Karena itu, ia meminta konsumen lebih berhati-hati saat menerima paket COD.

Unggahan tersebut dengan cepat menarik perhatian warganet dan telah ditonton lebih dari 54,4 ribu kali. Kolom komentar dipenuhi pengalaman serupa dari pengguna lain yang juga mengaku pernah menerima paket tak dikenal atau mengalami penyalahgunaan data. Respons itu menunjukkan bahwa persoalan COD bukan hanya dialami satu penjual. Masalah ini juga mulai menjadi keluhan luas di tengah maraknya belanja daring.

Modus Barang Ditukar

Selain retur yang menumpuk, Zahra mengaku menemukan paket yang diduga sudah dibongkar sebelum dikembalikan. Ia menunjukkan isi paket yang tidak lagi sesuai dengan barang yang dikirim, bahkan ada yang ditukar dengan celana kolor bekas. Menurutnya, kondisi itu sangat merugikan karena barang yang seharusnya dijual kembali menjadi tidak layak. Dugaan penipuan seperti ini, kata dia, membuat pelaku usaha kehilangan stok dan modal sekaligus.

Zahra menjelaskan bahwa kasus tersebut bukan pertama kali terjadi pada bisnisnya. Dalam beberapa temuan, paket yang kembali ke pihaknya sudah dalam keadaan rusak atau terbuka. Ia menduga ada pihak yang sengaja memanfaatkan sistem COD untuk memperoleh barang tanpa membayar. Modus semacam ini, lanjutnya, membuat penjual harus menanggung risiko yang semakin besar.

Ia juga menyoroti adanya paket yang menggunakan nama Dyalodya, tetapi dikirim dari pengirim yang tidak jelas. Pada beberapa kasus, identitas dan alamat toko dipakai untuk mengirim barang ke konsumen acak. Zahra menilai pola itu berbahaya karena bisa merusak reputasi brand dan membingungkan penerima. Konsumen yang tidak pernah memesan pun berpotensi menjadi korban.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak langsung menerima paket bila merasa tidak pernah melakukan transaksi. Menurutnya, konsumen perlu memastikan terlebih dahulu asal barang dan kesesuaian pesanan sebelum membayar COD. Ia juga meminta siapa pun yang menerima paket mencurigakan agar segera melakukan verifikasi. Langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk mencegah kerugian yang lebih besar.

Data Bocor dan Risiko

Sejumlah warganet dalam kolom komentar menduga data pelanggan bisa bocor dari berbagai titik. Ada yang menyoroti kemungkinan kebocoran dari kurir, sementara yang lain menyebut potensi keterlibatan pihak internal. Dugaan itu muncul karena paket sering kali tiba ke alamat yang tidak sesuai dengan transaksi. Kondisi tersebut menambah kekhawatiran publik terhadap keamanan data pribadi dalam belanja daring.

Salah satu komentar menuliskan bahwa ia pernah menerima paket yang bukan pesanan, lalu mengetahui alamatnya diduga dipakai orang lain. Komentar lain menyebut praktik COD sering menjadi celah bagi pihak tak bertanggung jawab. Ada pula yang menyarankan agar sistem COD dinonaktifkan sementara. Respons ini menunjukkan tingginya keresahan masyarakat terhadap penyalahgunaan layanan pembayaran di tempat.

Bagi pelaku usaha kecil seperti Dyalodya, kasus retur dan penipuan dapat berdampak langsung pada arus kas. Biaya kirim, tenaga kerja, pengemasan, dan stok barang menjadi kerugian yang harus ditanggung saat paket kembali. Jika kejadian berulang, reputasi merek juga ikut tertekan. Dalam jangka panjang, kepercayaan konsumen bisa menurun meski produk yang dijual sebenarnya berkualitas.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa sistem COD memerlukan pengawasan lebih ketat agar tidak disalahgunakan. Penjual, kurir, dan konsumen perlu memiliki mekanisme verifikasi yang lebih jelas untuk mencegah paket fiktif maupun penukaran barang. Di sisi lain, edukasi kepada pembeli juga penting agar tidak sembarangan menerima kiriman yang bukan pesanan. Tanpa perbaikan, praktik seperti ini berpotensi terus merugikan pelaku UMKM.

Respons Pelaku UMKM

Kasus yang dialami Dyalodya memunculkan solidaritas dari sejumlah pelaku usaha lain di media sosial. Banyak di antara mereka mengaku mengalami masalah serupa, terutama pada pesanan COD dengan volume tinggi. Mereka menilai sistem pembayaran di tempat masih sangat rentan disalahgunakan. Karena itu, sebagian penjual mulai memperketat verifikasi pesanan sebelum mengirim barang.

Beberapa pelaku UMKM juga memilih membatasi metode pembayaran untuk menekan risiko retur. Langkah itu diambil demi menjaga stabilitas penjualan dan mengurangi kerugian operasional. Meski demikian, COD tetap diminati sebagian pelanggan karena dianggap lebih praktis. Tantangannya adalah memastikan metode tersebut tidak dimanfaatkan untuk penipuan.

Bagi Zahra, edukasi kepada konsumen menjadi langkah penting agar kejadian serupa tidak terus berulang. Ia berharap masyarakat lebih waspada terhadap paket yang tidak pernah dipesan dan tidak ragu menolak barang mencurigakan. Ia juga ingin ada tanggung jawab yang lebih tegas dari pihak-pihak yang terlibat dalam distribusi. Menurutnya, ekosistem perdagangan daring harus melindungi penjual sekaligus pembeli.

Kasus ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan belanja online harus diimbangi dengan pengawasan yang lebih baik. Tanpa perlindungan yang memadai, pelaku usaha kecil akan terus menanggung risiko dari praktik yang tidak sehat. Dyalodya menjadi contoh bagaimana satu celah dalam sistem dapat memicu kerugian besar. Di tengah tren transaksi digital, kejujuran dan kehati-hatian tetap menjadi kunci utama.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!