Pelemahan Rupiah Tekan Daya Beli, Trafik Mal Jakarta Turun

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 24 Mei 2026 06:21 WIB 7
Pelemahan Rupiah Tekan Daya Beli, Trafik Mal Jakarta Turun

Pelemahan nilai tukar rupiah mulai berdampak pada aktivitas belanja di pusat perbelanjaan Jakarta. Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menyebut penurunan jumlah pengunjung terjadi seiring melemahnya daya beli masyarakat.

Menurut Ellen, kenaikan harga sejumlah kebutuhan membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang. Kondisi tersebut terlihat dari turunnya trafik pengunjung pada hari kerja, sementara kunjungan akhir pekan masih bertahan tinggi.

Daya Beli Masyarakat Melemah

Ellen menjelaskan, pelemahan rupiah ikut mendorong kenaikan harga berbagai komoditas di pasar. Dampaknya langsung terasa pada belanja rumah tangga, terutama untuk kebutuhan yang dibeli secara rutin.

Ia menilai masyarakat kini menghadapi tekanan dari sisi pengeluaran yang semakin besar. Di saat yang sama, pendapatan banyak pekerja tidak mengalami perubahan berarti.

Situasi ini membuat konsumen menahan belanja dan lebih selektif dalam memenuhi kebutuhan. Pola tersebut kemudian tercermin pada penurunan kunjungan ke pusat perbelanjaan di Jakarta.

Harga Kebutuhan Ikut Naik

Ellen mencontohkan harga buah naga yang sebelumnya berada di kisaran Rp25.000 per kilogram kini naik menjadi Rp40.000. Selain itu, biaya gas rumah tangga juga meningkat dari Rp210.000 menjadi Rp250.000.

Ia menegaskan bahwa kenaikan tersebut bukan hanya terjadi pada satu jenis barang. Buah-buahan, sayur-sayuran, dan kebutuhan pokok lain ikut terdorong naik seiring tekanan nilai tukar.

Menurutnya, kenaikan harga yang berlapis ini membuat masyarakat semakin terbebani. Kondisi tersebut berpotensi menahan perputaran konsumsi di sektor ritel modern.

Trafik Hari Kerja Menurun

Penurunan daya beli berdampak pada trafik pusat belanja di Jakarta, terutama pada hari kerja. Ellen menyebut penurunannya berada di kisaran 15 hingga 20 persen.

Ia mengatakan kondisi itu terlihat jelas pada weekdays karena pengunjung datang lebih sedikit dibandingkan periode sebelumnya. Namun, situasinya tidak seragam di semua waktu kunjungan.

Meski trafik hari kerja melemah, pusat perbelanjaan masih memiliki pergerakan konsumen yang cukup stabil. Hal ini menunjukkan bahwa minat masyarakat berbelanja belum hilang sepenuhnya.

Weekend Masih Tetap Ramai

Berbeda dengan hari kerja, kunjungan pada akhir pekan justru masih tinggi. Ellen menyebut trafik saat weekend bahkan cenderung lebih besar dari biasanya.

Menurutnya, pola tersebut menunjukkan ada perubahan perilaku belanja masyarakat. Banyak konsumen memilih datang saat waktu luang dan memanfaatkan akhir pekan untuk berbelanja sekaligus rekreasi.

Meski begitu, ia menilai kondisi ini tetap perlu dicermati oleh pengelola pusat belanja. Stabilitas daya beli masyarakat akan menjadi faktor penting bagi pemulihan trafik ritel di Jakarta.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!