Pelemahan Rupiah Jadi Peluang Perkuat Industri Satelit

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 01 Juni 2026 19:25 WIB 2
Pelemahan Rupiah Jadi Peluang Perkuat Industri Satelit

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh Rp17.500 per dolar AS memberi tekanan serius bagi industri satelit dalam negeri. Meski demikian, pelaku usaha menilai kondisi ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat industri nasional dan mengurangi ketergantungan pada produk impor.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia (ASSI), Sigit Jatipuro, menyampaikan pandangan itu dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026. Menurut dia, pelemahan rupiah perlu dibaca sebagai peluang untuk mempercepat industrialisasi dan membangun ekosistem teknologi satelit yang lebih mandiri.

Rupiah dan industri satelit

Pelemahan rupiah berdampak langsung pada industri satelit karena sebagian besar kebutuhan perangkat dan ground segment masih mengandalkan mata uang asing. Kondisi ini membuat biaya pengadaan meningkat ketika dolar AS menguat terhadap rupiah.

Sigit menilai tekanan tersebut tidak hanya membawa tantangan, tetapi juga memberi sinyal penting bagi penguatan industri lokal. Ia menekankan bahwa ketergantungan pada impor harus mulai dikurangi melalui pengembangan kemampuan produksi di dalam negeri.

Di sisi lain, ia menyebut Indonesia sebenarnya punya posisi yang cukup kuat di Asia Tenggara. Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia, daya saing industri satelit nasional masih perlu ditingkatkan.

Menurut dia, selisih kurs yang melebar dapat menjadi tambahan margin bagi industri lokal yang mampu memproduksi menggunakan rupiah. Karena itu, pelemahan rupiah seharusnya dilihat sebagai dorongan untuk mempercepat penguatan manufaktur nasional.

Momentum industrialisasi nasional

Sigit menilai kondisi kurs saat ini dapat menjadi pemicu bagi industrialisasi di dalam negeri. Ia menyebut perubahan nilai tukar perlu dimanfaatkan untuk membangun rantai pasok yang lebih kuat di sektor teknologi dan satelit.

Selama ini, banyak pelaku industri masih bergantung pada komponen impor untuk memenuhi kebutuhan operasional. Ketergantungan itu membuat biaya usaha lebih rentan terhadap gejolak kurs dan tekanan eksternal.

Ia menegaskan, penguatan industri lokal akan memberi ruang lebih besar bagi perusahaan dalam negeri untuk berkembang. Dengan basis produksi yang lebih kuat, sektor satelit dinilai dapat menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Menurut Sigit, pembangunan industri tidak dapat ditunda ketika tekanan global terus meningkat. Ia menilai momentum seperti ini justru penting untuk mendorong perubahan arah kebijakan dan investasi.

Investor lokal perlu bergerak

Sigit juga mendorong investor domestik untuk meningkatkan penanaman modal di sektor industri teknologi nasional. Menurut dia, saat investasi asing melambat, pelaku modal lokal justru perlu mengambil peran lebih besar.

Ia menyebut local investing sebagai langkah strategis untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan industri dalam negeri. Dengan dukungan modal domestik, pengembangan teknologi dapat berjalan lebih stabil dan tidak terlalu bergantung pada arus dana luar negeri.

Sigit menilai pasar domestik bisa menjadi tahap awal pengembangan usaha sebelum produk dibawa ke pasar ekspor. Model itu dinilai lebih realistis untuk membangun skala industri yang berkelanjutan.

Ia juga menekankan bahwa penguatan pasar dalam negeri akan membantu pelaku usaha membangun rekam jejak bisnis. Setelah itu, ekspansi ke pasar global dapat dilakukan dengan fondasi yang lebih kuat dan siap bersaing.

Generasi muda dan ekspor

Selain soal investasi, Sigit menyoroti pentingnya menanamkan pola pikir industri dan ekspor sejak dini kepada generasi muda. Menurut dia, langkah itu diperlukan agar Indonesia memiliki sumber daya manusia yang siap membangun kemandirian teknologi.

Ia menilai anak muda perlu melihat sektor teknologi bukan sekadar sebagai pengguna, tetapi juga sebagai pencipta solusi. Dengan cara itu, ekosistem industri dapat tumbuh dari hulu ke hilir secara lebih sehat.

Sigit menyebut kemampuan memproduksi dan mengekspor teknologi akan menjadi modal penting bagi daya saing Indonesia di masa depan. Karena itu, pendidikan, riset, dan investasi harus bergerak searah untuk mencetak industri yang tangguh.

Diberitakan sebelumnya, rupiah terus tertekan hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS dan menjadi titik terendah sepanjang masa. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan membantu Bank Indonesia mengendalikan tekanan terhadap nilai tukar mulai keesokan harinya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!