Makaila Haifa dan UNHCR Sorot Resiliensi Perempuan Pengungsi

Lifestyle Clara Monica 01 Juni 2026 20:36 WIB 3
Makaila Haifa dan UNHCR Sorot Resiliensi Perempuan Pengungsi

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR menggelar ajang bertajuk Women’s Resilience: From Surviving to Thriving. Kegiatan ini menghadirkan perempuan pengungsi dari berbagai negara untuk tampil sebagai model dan seniman dalam satu panggung apresiasi.

Program tersebut menjadi ruang untuk menampilkan kisah ketangguhan para perempuan dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan. Melalui peragaan busana dan pameran karya, acara ini menegaskan bahwa pengalaman pengungsian juga dapat melahirkan talenta dan daya cipta yang kuat.

Makaila Haifa dan Mishka Project

Mishka Project menjadi sorotan utama dalam trunk show yang digelar bersama Makaila Haifa dan UNHCR. Ajang ini menampilkan lima perempuan pengungsi serta satu peraga busana dari India, Revathi Prabaharan.

Para peserta datang dari Irak, Palestina, dan Somalia, dengan sebagian di antaranya telah mencari suaka di Indonesia. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa panggung mode dapat menjadi ruang yang aman untuk berekspresi.

Melalui kurasi yang cermat, peragaan tersebut tidak hanya menonjolkan busana, tetapi juga kisah hidup para partisipan. Setiap penampilan dirancang untuk memperlihatkan sisi personal yang selama ini jarang terlihat di ruang publik.

Kolaborasi ini mempertemukan unsur mode, kemanusiaan, dan solidaritas dalam satu rangkaian acara. Pendekatan tersebut membuat pesan yang dibawa menjadi lebih mudah dipahami oleh publik yang hadir.

Resiliensi Lewat Busana

Pendiri Makaila Haifa, Ling Hida, mengusung gagasan bahwa pengungsi perempuan memiliki kapasitas untuk tumbuh dan berkarya. Melalui Mishka Project, ia berupaya mengubah narasi yang sering melekat pada pengungsi menjadi kisah tentang ketahanan.

Panggung ini memberi kesempatan bagi para perempuan untuk menampilkan identitas mereka tanpa kehilangan martabat. Dalam konteks itu, busana berfungsi sebagai media untuk menyampaikan pesan tentang keberanian dan harapan.

Peragaan busana yang dibawakan para pengungsi menampilkan pendekatan modest wear yang tetap artistik dan relevan. Setiap tampilan disusun untuk menegaskan karakter, bukan sekadar mengikuti tren.

Inisiatif tersebut juga menunjukkan bahwa industri mode dapat mengambil peran sosial yang lebih luas. Ketika busana dipadukan dengan tujuan kemanusiaan, pesan yang lahir menjadi lebih kuat dan bermakna.

Karya Seni yang Menguatkan

Selain peragaan busana, acara ini menghadirkan pameran karya fashion painting dari pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Karya-karya tersebut menjadi bagian penting dari narasi yang dibangun sepanjang acara.

Melalui lukisan busana, para seniman memperlihatkan pandangan mereka terhadap identitas, ingatan, dan perjalanan hidup. Setiap karya memberi lapisan baru pada pengalaman yang mereka bawa ke hadapan publik.

Pameran itu juga memperluas ruang apresiasi, karena pengunjung tidak hanya menyaksikan pakaian yang dikenakan di panggung. Mereka juga diajak memahami proses kreatif di balik setiap ekspresi visual.

Kehadiran karya seni membuat acara terasa lebih utuh sebagai perayaan kemampuan perempuan pengungsi. Dalam format ini, mode dan seni saling melengkapi untuk menyampaikan pesan keberdayaan.

Dampak Kolaborasi Global

Kolaborasi Makaila Haifa dan UNHCR memperlihatkan bagaimana brand lokal dapat terhubung dengan isu global. Pendekatan tersebut memperkuat posisi fashion sebagai medium yang mampu menjembatani empati dan inklusi.

Ajang ini sekaligus menegaskan pentingnya memberi panggung bagi kelompok rentan, terutama perempuan pengungsi. Saat diberi ruang, mereka dapat menunjukkan potensi yang selama ini mungkin tertutup oleh stigma.

Perayaan Hari Perempuan Internasional dalam format seperti ini memberikan makna yang lebih luas bagi publik. Pesan yang dibawa tidak hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang pengakuan atas perjuangan dan daya tahan perempuan.

Melalui Women’s Resilience: From Surviving to Thriving, Makaila Haifa dan UNHCR menempatkan mode sebagai alat perubahan sosial. Acara tersebut menjadi pengingat bahwa keberanian perempuan dapat tumbuh, bahkan dari situasi paling sulit sekalipun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!