Bursa Efek Indonesia mendorong perusahaan milik artis dan influencer di sektor ekonomi kreatif untuk melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham atau IPO. Langkah ini dibahas bersama Kementerian Ekonomi Kreatif, sebagai upaya memperluas akses pelaku industri kreatif ke pasar modal. BEI menilai sektor ekraf memiliki prospek bisnis yang menarik dan perlu dikenali lebih dekat oleh bursa.
Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan pihaknya terbuka untuk menjalin kerja sama pertukaran informasi dengan Kementerian Ekraf. Melalui kerja sama itu, BEI ingin memahami struktur bisnis dan peluang pertumbuhan di industri kreatif, agar perusahaan di sektor tersebut lebih siap menjadi emiten.
BEI buka peluang ekraf
Jeffrey menyebut industri kreatif dapat menjadi salah satu sumber calon emiten baru bagi pasar modal Indonesia. Menurut dia, perusahaan di sektor ini bisa mulai mempersiapkan mekanisme IPO sejak dini. Persiapan tersebut mencakup pemahaman regulasi, tata kelola, dan kesiapan bisnis.
Ia menegaskan, BEI tidak hanya menyasar pelaku usaha besar, tetapi juga membuka ruang bagi berbagai kelompok masyarakat yang ingin belajar tentang pasar modal. Artis, pelajar, maupun pelaku industri kreatif dipersilakan datang ke bursa. Pendekatan ini diharapkan memperluas literasi pasar modal secara lebih inklusif.
Dalam pertemuan dengan Menteri Ekraf, BEI membahas kemungkinan sinergi untuk bertukar data dan informasi. Tujuannya agar bursa dapat menilai potensi bisnis sektor kreatif dengan lebih akurat. Dengan begitu, perusahaan yang memiliki prospek dapat dipersiapkan menjadi perusahaan tercatat.
BEI menilai kerja sama lintas lembaga penting untuk mempercepat lahirnya emiten baru dari sektor nontradisional. Industri kreatif dinilai memiliki model bisnis yang dinamis dan dekat dengan konsumen. Kondisi itu membuat sektor ini berpeluang menarik minat investor ritel.
IPO ekraf menarik perhatian
Sebelumnya, BEI telah mengonfirmasi adanya rencana IPO dari sektor ekonomi kreatif, khususnya bidang hiburan. Calon perusahaan tercatat itu disebut memiliki aset yang besar. Minat pasar terhadap rencana tersebut pun ikut mencuri perhatian.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan perusahaan itu juga mengelola kebun binatang. Ia menyebut nilai penghimpunan dana dari calon emiten tersebut menjadi yang terbesar di antara antrean IPO lainnya. Hal itu menunjukkan skala usaha yang tidak kecil.
Nyoman menjelaskan, yang dimaksud bukan perusahaan rumah produksi. Menurut dia, bisnis tersebut justru menawarkan pengalaman hiburan yang bisa dinikmati secara langsung oleh publik. Model usaha seperti ini dinilai lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Ia menambahkan, keberadaan kebun binatang membuat nilai edukasi dan hiburan perusahaan tersebut semakin kuat. Karena itu, calon emiten tersebut dinilai memiliki karakter bisnis yang berbeda dari industri hiburan pada umumnya. Diferensiasi ini menjadi salah satu daya tarik di mata BEI.
Prospek perusahaan tercatat
BEI menilai sektor ekonomi kreatif memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai emiten baru. Pertumbuhan konsumsi masyarakat terhadap hiburan, konten digital, dan pengalaman rekreasi menjadi penopang utama. Faktor ini membuat sektor tersebut relevan untuk masuk ke pasar modal.
Namun demikian, perusahaan ekraf tetap perlu memenuhi ketentuan sebelum melantai di bursa. Kesiapan laporan keuangan, struktur kepemilikan, serta tata kelola menjadi syarat utama. Tanpa itu, proses IPO dapat berjalan lebih lambat.
Jeffrey menekankan pentingnya pemahaman regulasi agar perusahaan tidak hanya tertarik pada pendanaan, tetapi juga siap menjadi perusahaan publik. Status emiten menuntut keterbukaan informasi dan tanggung jawab yang lebih besar. Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dari proses persiapan.
BEI berharap kolaborasi dengan Kementerian Ekraf dapat membuka lebih banyak jalan bagi perusahaan kreatif untuk masuk ke pasar modal. Jika sinergi berjalan baik, peluang lahirnya emiten baru dari sektor ini akan semakin besar. Kondisi tersebut juga berpotensi memperkaya pilihan investasi bagi masyarakat.
Pasar modal cari emiten baru
Pencarian calon emiten dari sektor ekonomi kreatif menunjukkan BEI terus mendorong diversifikasi perusahaan tercatat. Bursa ingin menghadirkan lebih banyak sektor agar pasar modal tidak hanya bergantung pada industri tradisional. Strategi ini diharapkan memperluas basis investasi di Indonesia.
Masuknya perusahaan milik artis atau influencer juga mencerminkan perubahan pola bisnis di era digital. Popularitas figur publik kini dapat dikembangkan menjadi kekuatan korporasi yang terukur. Selama memiliki fundamental usaha yang kuat, peluang IPO tetap terbuka.
Di sisi lain, minat investor terhadap bisnis hiburan dan pengalaman langsung terus tumbuh. Perusahaan yang memiliki aset kuat, arus kas jelas, dan daya tarik publik berpotensi lebih mudah mendapat perhatian pasar. Hal itu membuat sektor ekraf semakin relevan untuk diperhitungkan.
Dengan dorongan dari BEI dan dukungan Kementerian Ekraf, jalan perusahaan kreatif menuju bursa kian terbuka. Tahap berikutnya akan bergantung pada kesiapan masing-masing perusahaan dalam memenuhi persyaratan emiten. Jika semua berjalan sesuai rencana, sektor ekraf bisa menjadi sumber IPO baru yang menjanjikan.
