Pelemahan Rupiah Jadi Momentum Perkuat Industri Satelit

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 30 Mei 2026 19:41 WIB 4
Pelemahan Rupiah Jadi Momentum Perkuat Industri Satelit

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyentuh level Rp17.500 memberi tekanan besar pada industri satelit nasional. Di tengah biaya komponen yang masih didominasi mata uang asing, pelaku usaha justru melihat kondisi ini sebagai momentum untuk memperkuat industri dalam negeri.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia, Sigit Jatipuro, menyampaikan pandangan itu dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa (12/5/2026). Menurutnya, pelemahan rupiah harus dibaca sebagai sinyal untuk mempercepat industrialisasi, memperluas investasi lokal, dan mengurangi ketergantungan pada produk impor.

Rupiah dan industri satelit

Pelemahan rupiah berdampak langsung pada industri satelit karena sebagian besar kebutuhan satelit dan ground segment masih dibeli dengan mata uang asing. Kondisi ini membuat biaya pengadaan dan operasional ikut meningkat seiring melemahnya kurs.

Sigit menilai tekanan tersebut tidak semestinya hanya dilihat sebagai beban. Di sisi lain, situasi ini dapat menjadi pendorong bagi pelaku usaha untuk membangun rantai pasok lokal yang lebih kuat.

Ia menjelaskan, posisi Indonesia di kawasan Asia Tenggara sebenarnya cukup kuat. Namun, jika dibandingkan dengan negara lain di Asia, daya saing industri satelit nasional masih perlu ditingkatkan.

Karena itu, pelemahan rupiah perlu dimanfaatkan sebagai pengingat bahwa industri strategis tidak bisa terus bergantung pada pasokan luar negeri. Menurut dia, kemandirian teknologi harus menjadi arah utama pengembangan sektor ini.

Ekspor bisa ikut diuntungkan

Sigit mencontohkan sektor yang berorientasi ekspor kerap mendapat keuntungan saat dolar menguat. Biaya produksi tetap dibayar dalam rupiah, sementara pendapatan diterima dalam dolar Amerika Serikat.

Dengan selisih kurs yang melebar, margin keuntungan industri ekspor berpotensi meningkat. Pola ini, menurutnya, dapat menjadi pembelajaran bagi industri satelit dan teknologi nasional.

Ia menilai semangat serupa harus diterapkan pada sektor dalam negeri. Dorongan untuk meningkatkan kapasitas produksi lokal perlu dibarengi dengan strategi ekspor jangka panjang.

Pasar domestik, kata dia, dapat dijadikan titik awal pengembangan produk dan layanan teknologi. Setelah pasar dalam negeri terbentuk, pelaku industri dapat lebih siap masuk ke pasar global.

Investasi lokal perlu diperbesar

Di tengah perlambatan arus modal asing, Sigit mendorong investor domestik untuk mengambil peran lebih besar. Menurutnya, inilah saat yang tepat bagi modal lokal untuk masuk ke industri teknologi nasional.

Ia menilai investasi dalam negeri dapat menjaga kesinambungan pengembangan industri saat kondisi eksternal tidak menentu. Langkah ini juga membantu memperkuat ekosistem satelit agar lebih mandiri.

Sigit mengatakan, pembangunan industri tidak dapat bergantung pada satu sumber pembiayaan saja. Keterlibatan investor lokal akan memperluas basis pendanaan dan mempercepat pertumbuhan sektor strategis.

Selain modal, diperlukan pula dukungan dari sisi regulasi dan kemudahan berusaha. Dengan begitu, industri nasional memiliki ruang yang lebih besar untuk berkembang dan bersaing.

Generasi muda dan kemandirian

Sigit juga menekankan pentingnya menanamkan pola pikir industri dan ekspor sejak dini kepada generasi muda. Menurut dia, pemahaman tersebut akan membentuk cara pandang yang lebih mandiri terhadap masa depan ekonomi nasional.

Ia meyakini pembangunan industri teknologi tidak cukup hanya bertumpu pada pelaku usaha saat ini. Regenerasi sumber daya manusia menjadi bagian penting agar Indonesia memiliki tenaga ahli yang siap bersaing.

Kemandirian industri, lanjutnya, harus dibangun dari kebiasaan untuk memproduksi, bukan hanya membeli. Jika pola pikir itu tumbuh, maka ketergantungan pada impor bisa perlahan dikurangi.

Dalam jangka panjang, penguatan industri satelit dinilai dapat memperkokoh posisi Indonesia di kawasan. Hal itu sekaligus membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi yang lebih berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!