Pedagang Sate Mayestik Naik Kelas Setelah Bertahan Sejak 2013

Lifestyle Nadia Safira Putri 23 Mei 2026 00:59 WIB 7
Pedagang Sate Mayestik Naik Kelas Setelah Bertahan Sejak 2013

Aroma daging ayam dan kambing khas Madura menyeruak dari sebuah ruko dua lantai di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Wangi itu menarik perhatian warga dan pekerja yang melintas di kawasan Mayestik, sekaligus menandai perjalanan panjang Mochamad Haidir, pedagang satai berusia 30 tahun.

Haidir memulai usahanya sejak 2013 dengan gerobak satai keliling, lalu bertahan melalui tekanan pedagang lain, penertiban, hingga pandemi COVID-19. Kini, usaha yang ia rintis perlahan naik kelas setelah ia memutuskan pindah ke ruko yang dinilai lebih strategis.

Sate Mayestik yang Kian Dikenal

Di lokasi barunya, Haidir terlihat sibuk mengibaskan kipas bambu untuk menjaga bara arang tetap menyala. Gerak cepat itu menjadi bagian dari rutinitasnya saat melayani pembeli yang datang silih berganti. Menu andalannya adalah satai ayam dan kambing khas Madura, dengan aroma gurih yang kuat. Kehadiran lapak itu membuat kawasan sekitar semakin ramai pada sore hari.

Nama Sate Ayam Barokah Mayestik mulai dikenal setelah Haidir konsisten menjaga rasa dan pelayanan. Ia memilih bertahan di kawasan yang dikelilingi perkantoran, karena melihat potensi pasar yang besar. Menurutnya, lokasi menjadi faktor penting dalam mengembangkan usaha kuliner. Keputusan itu akhirnya terbukti membawa dampak positif bagi bisnisnya.

Tak hanya soal rasa, tampilan lapak yang lebih rapi juga memberi kesan baru bagi pelanggan. Ruko dua lantai yang ia tempati membuat usaha satai tersebut terlihat lebih mapan. Kondisi ini menjadi pembeda dibanding saat ia masih berjualan dari gerobak di trotoar. Perubahan itu sekaligus menunjukkan bahwa usaha kecil bisa tumbuh dengan strategi yang tepat.

Perjalanan Panjang Penuh Tekanan

Sebelum mencapai titik ini, Haidir harus melewati perjalanan yang tidak mudah. Ia mengawali usaha dari gerobak keliling, lalu sering berhadapan dengan penertiban Satpol PP. Di lapangan, ia juga mengaku pernah diusir pedagang lain yang merasa terganggu. Pengalaman itu membuat awal usahanya dipenuhi tekanan.

Haidir mengenang, pada masa-masa awal membuka lapak di kawasan itu, banyak pihak yang mencoba menyingkirkannya. Ia bahkan sempat mendapat penolakan dari pedagang yang sudah lebih dulu berjualan di sekitar Pasar Mayestik. Situasi tersebut sempat membuatnya ragu untuk bertahan. Namun, ia tetap memilih melanjutkan usahanya.

Keputusan itu lahir dari keyakinannya terhadap potensi kawasan Mayestik. Lingkungan yang ramai dan dekat dengan perkantoran dinilai mampu mendatangkan pembeli sepanjang hari. Ia juga merasa lebih nyaman karena sudah lebih dulu menempati titik lapak tersebut. Faktor kedekatan dengan pelanggan membuatnya terus berupaya bertahan.

Ujian Berat Saat Pandemi

Ujian terberat datang ketika pandemi COVID-19 melanda. Penjualan menurun tajam, sementara aktivitas masyarakat ikut berkurang. Dalam kondisi itu, Haidir mengaku sempat stres karena lapaknya sepi pembeli. Ia bahkan pernah berusaha melepas usaha tersebut kepada orang lain.

Haidir menyebut, saat itu ia sempat menawarkan lapaknya kepada calon pembeli. Ia mengaku ingin berhenti dan meminta lapaknya dibayarkan agar bisa keluar dari tekanan usaha. Nilai yang ia ajukan mencapai Rp150 juta, namun sempat ada tawaran masuk sebesar Rp50 juta. Kesepakatan itu akhirnya batal karena tidak menemui titik temu.

Jika transaksi tersebut jadi dilakukan, Haidir mengaku mungkin telah kehilangan peluang yang lebih besar. Masa sulit itu menjadi pengingat bahwa usaha kuliner sangat dipengaruhi kondisi ekonomi dan mobilitas masyarakat. Meski sempat hampir menyerah, ia tetap mempertahankan bisnisnya. Keputusan itu kemudian menjadi titik balik penting dalam hidupnya.

Ruko Strategis Jadi Titik Balik

Titik perubahan datang ketika sebuah ruko kosong di depan lapaknya ditawarkan untuk disewa. Kesempatan itu muncul setelah usahanya melewati masa sepi yang panjang. Haidir melihat peluang tersebut sebagai momen yang tidak boleh dilewatkan. Ia lalu memutuskan pindah ke tempat yang lebih strategis.

Perpindahan ke ruko baru membuat usahanya lebih mudah terlihat oleh calon pembeli. Posisi yang lebih menonjol juga membantu memperkuat citra bisnis satai yang ia bangun bertahun-tahun. Dengan fasilitas yang lebih layak, ia bisa melayani pelanggan dengan lebih baik. Langkah itu menjadi bukti bahwa keberanian mengambil keputusan dapat membuka jalan baru.

Perjalanan Haidir menunjukkan bahwa usaha kecil dapat naik kelas jika dijalankan dengan konsisten. Dari gerobak keliling, tekanan lapangan, hingga ujian pandemi, ia tetap bertahan dalam bisnis kuliner yang digelutinya. Kini, Sate Ayam Barokah Mayestik tumbuh menjadi usaha yang lebih mapan. Kisahnya menjadi contoh ketekunan pedagang kecil di tengah persaingan kota besar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!